Dipertanyakan Langkah Sesmenpora Berkomunikasi dengan FIFA dan AFC

Kompas.com - 10/04/2019, 16:08 WIB
Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Gatot S Dewa Broto usai menghadiri acara Dialog Nasional Mengelola Even Olahraga  di Universitas Sriwijaya (Unsri) Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (21/02/2019).  KOMPAS.com/AJI YK PUTRASekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Gatot S Dewa Broto usai menghadiri acara Dialog Nasional Mengelola Even Olahraga di Universitas Sriwijaya (Unsri) Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (21/02/2019).
|

KOMPAS.com - Langkah  Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olah Raga (Sesmenpora) Gatot S Dewa Broto berkirim surat ke Asian Football Confederation (AFC) atau Konfederasi Sepak Bola Asia dan Federation of International Football Association (FIFA) dipertanyakan oleh para anggota dan pemilik hak suara atau voters Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia ( PSSI). 

Buah dari langkah yang dilakukan Gatot membuat delegasi AFC/FIFA akan berkunjung ke Jakarta dalam waktu dekat ini untuk membantu PSSI menyelesaikan masalahnya.

“Kami khawatir saja, nanti dikira pemerintah mengintervensi PSSI,” kata Ketua Asosiasi Provinsi PSSI DI Yogyakarta Bambang Kuncoro.

Presiden Persijap Jepara Esti Puji Lestari mempertanyakan motof Sesmenpora berkirim surat ke AFC/FIFA.

Baca juga: Urus Permasalahan PSSI, Delegasi FIFA dan AFC Akan ke Jakarta

Keduanya mengaku menghargai Sesmenpora yang aktif membantu. Namun, mereka juga khawatir karena manuver Sesmenpora telah melangkahi PSSI dan anggotanya dalam berkorespondensi dengan AFC/FIFA, di samping khawatir ada tuduhan intervensi.

Bambang Kuncoro menilai keputusan Komite Eksekutif PSSI pada 19 Maret 2019 lalu sudah jelas, yakni PSSI harus menggelar Kongres Luar Biasa (KLB) sesegera mungkin untuk memilih pengurus baru.

“Kalau tujuan delegasi AFC/FIFA ke Jakarta untuk membantu PSSI menyelesaikan masalahnya, bukankah solusi dari PSSI sendiri sudah jelas, yakni KLB? Atau Kemenpora punya hidden agenda (agenda terselubung)?” tuturnya. 

Esti juga mengaku heran dengan langkah Gatot yang terkesan hendak membelokkan persoalan PSSI ke arah yang lebih rumit.

Dia menilai solusi untuk PSSI sejatinya sudah jelas, yakni KLB pasca-pengunduran diri Edy Rahmayadi dari jabatan Ketua Umum PSSI dalam Kongres PSSI di Bali, 20 Januari 2019, serta penggantinya, yakni Joko Driyono selaku Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum PSSI dinyatakan sebagai tersangka penghilangan barang bukti perkara match fixing dan ditahan.

“FIFA tak perlu terlalu jauh melangkah, cukup memberi rekomendasi bagi PSSI untuk menggelar KLB. Bukankah konon PSSI sudah berkirim surat ke FIFA untuk minta rekomendasi KLB?” jelas Esti.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X