Kebangkitan Timnas Belanda dan Evolusi Rivalitas Oranje dengan Jerman

Kompas.com - 23/03/2019, 08:00 WIB
Para pemain Belanda merayakan gol yang dicetak Georginio Wijnaldum ke gawang Jerman dalam laga UEFA Nations League di Stadion Johan Cruijff ArenA, Amsterdam, Belanda pada 13 Oktober 2018. AFP/ JOHN THYSPara pemain Belanda merayakan gol yang dicetak Georginio Wijnaldum ke gawang Jerman dalam laga UEFA Nations League di Stadion Johan Cruijff ArenA, Amsterdam, Belanda pada 13 Oktober 2018.

KOMPAS.com - Timnas Belanda meneruskan performa panas dalam setahun terakhir dengan menorehkan kemenangan 4-0 kontra Belarus di ajang Kualifikasi Piala Eropa 2020 pada Kamis (21/3/2019). Kini, Der Oranje menatap partai besar kontra Jerman, Minggu (24/3/2019).

Pengarang buku terkemuka asal Inggris, Simon Kuper, pun diwawancara mengenai kebangkitan talenta di timnas Belanda plus rivalitas Belanda dan Jerman yang sudah tidak seperti dulu lagi.

Penulis beberapa buku sepak bola terkemuka seperti Soccernomics (2009), Football Against the Enemy (1994), dan Ajax, the Dutch, the War: Football in Europe during the Second World War (2003) ini mengatakan bahwa mayoritas skuat sekarang muncul tiba-tiba.

"Ini generasi yang bangkit secara tak terduga. Bahkan, pelatih Ronald Koeman pun mengutarakan bahwa ia terkejut dengan pesatnya perkembangan beberapa pemain seperti Matthijs De Ligt, Virgil van Dijk, dan Frenkie De Jong," ujar Kuper kepada Totally Football Show.

Baca Juga: Pelatih Belanda di Final Piala Dunia 2010 Resmi Tangani Timnas UEA

Van Dijk masuk ke nama pemain yang menurutnya mengejutkan karena bek Liverpool tersebut tampil sangat melejit sejak pindah ke Inggris.

Ia mengutarakan bagaimana timnas Belanda bahkan tak meliriknya sama sekali lima tahun lalu untuk ke Piala Dunia 2014.

Kualitas Van Dijk dan para pemain tadi semakin mengilap karena didukung sistem permainan yang mengeksploitasi kekuatan-kekuatan individu dan membuat mereka jadi suatu unit hebat.

"Belanda bermain sepak bola vertikal lagi, setiap operan mengarah ke depan dan para pemain mengisi ruang," ujar kolumnis di Financial Times ini.

"Mungkin hal ini terlihat lumrah untuk tim Belanda tetapi selama beberapa tahun terakhir mereka bermain sepak bola horizontal, operan-operan ke samping dan kurang penetrasi," lanjutnya. 

Faktor lain yang menyebabkan perubahan perutungan sepak bola Belanda adalah lewat para pelatih mereka, terutama bos Ajax Amsterdam kini, Erik Ten Hag, dan pendahulunya, Peter Bosz, serta Ronald Koeman sendiri.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X