Wawancara Eksklusif, Indra Sjafri Buka-bukaan Soal Keberhasilan Timnas Juarai Piala AFF U-22

Kompas.com - 05/03/2019, 19:29 WIB
Ekspresi pelatih tim nasional U-23 Indonesia, Indra Sjafri, dalam wawancara eksklusif dengan Kompas.com di Jakarta, Selasa (5/3/2019).KOMPAS.COM/FERRIL DENNYS Ekspresi pelatih tim nasional U-23 Indonesia, Indra Sjafri, dalam wawancara eksklusif dengan Kompas.com di Jakarta, Selasa (5/3/2019).

KOMPAS.com - Tim nasional U-22 Indonesia berhasil menjuarai Piala AFF U-22 2019 pada 26 Februari 2018.

Timnas U-22 sukses mengangkat piala setelah sukses mengalahkan Thailand dengan skor 2-1 pada pertandingan final yang digelar di Stadion Olympic, Phonem Penh.

Keberhasilan ini cukup mengejutkan mengingat tak ada target juara yang dibebankan oleh PSSI. Selain itu, persiapan timnas U-22 juga relatif singkat. Praktis, mereka hanya melakoni 3 laga uji coba. Itu pun melawan tim lokal.

Kesuksesan timnas menjuarai Piala AFF U-22 tidak terlepas dari peran Indra Sjafri. Indra mampu mengatasi segala masalah yang melanda timnya hingga akhirnya berhasil menjadi juara.

Baca juga: Juara Piala AFF U-22, 4 Pertanyaan untuk Marinus, Sang Top Scorer

Gelar ini merupakan trofi kedua bagi Indra Sjafri. Pelatih asal Sumatera Barat tersebut pernah membawa timnas U-19 menjuarai Piala AFF U-19 pada 2013.

Wartawan Kompas.com, Ferril Dennys, dan Alsadad Rudi, serta tim Bolasport.com berhasil mewawancari secara eksklusif Indra Sjafri pada Selasa (5/3/2019).

Dalam kesempatan itu, Indra Sjafri kepada Kompas.com mengungkapkan rahasia keberhasilan timnas U-22 menjuarai Piala AFF hingga persiapan tim jelang melakoni kualifikasi Piala Asia U-23 2020 di Vietnam mulai 22 Maret 2019.

Berikut uraiannya:

1. Selamat atas keberhasilan Anda membawa Indonesia menjuarai Piala AFF U-22. Perjalanan Indonesia sempat tidak meyakinkan pada awal turnamen karena bermain imbang dalam dua laga.

Lalu Indonesia bangkit dan menjadi juara. Setelah jadi juara, apa yang Anda katakan kepada pemain di ruang ganti?

Mungkin kalau saya bicara di depan pelatih, mungkin dia tahu persis apa itu periodesasi persiapan. Periodesasi persiapan itu yang membuat kita menuju suatu target. Saya membikin periodesasi persiapan mulai dari minggu pertama sampai turnamen berakhir, di mana saya ingin peak-nya itu di final.
 
Makanya kita melihat tim ini dari mulai uji coba pertama draw, uji coba kedua draw, uji coba ketiga draw, pertandingan pertama draw, pertandingan kedua juga draw. Tapi dari sisi kualitas game itu makin lama makin bagus. Dalam pertandingan ketiga kita mulai bagus dan menang. Tambah lagi di semifinal tambah bagus permainan. Di final itu puncaknya, peak-nya para pemain kita. Kenapa itu berawal draw draw draw, itu yang kita desain.
 
Tetapi saat lawan Myanmar, kita seharusnya dengan target menang dan melawan Malaysia harusnya juga bisa menang. Tapi kita tetap punya target di peak-nya itu di final.
 
Ekspresi pelatih tim nasional U-23 Indonesia, Indra Sjafri, dalam wawancara eksklusif dengan Kompas.com di Jakarta, Selasa (5/3/2019).  KOMPAS.COM/FERRIL DENNYS Ekspresi pelatih tim nasional U-23 Indonesia, Indra Sjafri, dalam wawancara eksklusif dengan Kompas.com di Jakarta, Selasa (5/3/2019).
 
2. Saat melawan Kamboja lagi di ujung tanduk, cara menyemangati pemain?
 
Ya sebenarnya saya tidak hanya semangat dengan kata-kata. Tapi ini kan juga sudah dari awal saya membangun tim, selalu saya sampaikan bahwa pemain-pemain yang saya pilih adalah pemain-pemain yang tidak pernah mengenal menyerah dan selalu ingin jadi yang terbaik.
 
Dan itu kan tercermin dari hasil-hasil psikotes mereka. Pemain-pemain yang saya pilih yang ada 23 itu, dia tidak mau peduli menit berapa dia kalah, sampai kapanpun dia akan berjuang sampai peluit akhir berbunyi. Selalu tim saya seperti itu.
 
Dan banyak contoh, ketika lawan Qatar 6-1 bisa dibalikan jadi 6-5. Setelah itu lawan Filipina di Sidoarjo kita kalah 1-0 menit ke-81 setelah itu menang 4-1.Waktu harus menang 7-0 kita menang 9-0 di Myanmar. Jadi itu sudah menjadi trademark keinginan saya pemain-pemain itu ya jangan pernah menyerah.
 
 
3. Kesulitan yang kemarin dialami dari awal persiapan sampai di Kamboja?
 
Kalau kesulitan ya hampir dibilang tidak ada. Karena kita latihan di sini. Persiapan di sini di Lapangan ABC, cuma kadang-kadang ya itu Lapangan ABC dipakai untuk umum ya harus kita pindah ke Madya.
 
Memang saya sedikit menyesalkan modal untuk membangun lapangan yang miliaran tapi rusak hanya gara-gara disewakan dengan uang Rp 2-3 juta. Jadi sangat disayangkan. 
 
Jadi lapangan kemarin saya sudah menyampaikan permohonan ke Menpora kita sudah harus bikin training ground.
 
4. Jadi tidak mungkin disewakan ke umum?
 
Training ground tidak pernah disewakan ke umum.
 
5. Selama di Kamboja tidak ada kesulitan?
 
Tidak. Hampir sama hotelnya dengan di Sultan. Hotelnya bagus. Konsumsinya bagus. Cuma kemarin yang kita keluhkan ya main pertama dan kedua itu lapangan. Lapangannya sintetis dan sintetisnya tidak sebagus Lapangan C di sini.
 
6. Saat Anda membawa timnas U-19 menjadi juara, Anda menggunakan metode blusukan. Sekarang Anda tidak menggunakan metode itu lagi. 
 
Zaman dulu kan kompetisi belum sebagus sekarang. Sekarang kan kompetisi sudah bagus. Kalau untuk U-23, U-22 kan pemain sudah main di liga semua. Tidak mungkin saya blusukan ke daerah untuk mencari pemain U-22. Blusukan itu untuk pemain-pemain pemuda U-19, U-16. 
 
7. Dari 30 pemain ada 7 muka baru untuk pelatanas U-23. Mereka dipanggil berdasarkan kriteria apa?
 
Berdasarkan dia sudah terdaftar dalam 50 pemain yang saya daftarkan sebelum AFC. Yang kedua ya kualitas dong. Kebutuhan tim. Tidak pernah saya panggil berdasarkan titipan. Pasti kualitas. 
 
8. Parameter seperti yang pernah dulu dibilang berjati diri bangsa?
 
Itu kan hanya tambahan aja. Kalau kriteria memilih pemain hanya empat. Kualitas skill-nya bagus. Kemampuan taktikal dan kecerdasan bagus. Kemampuan fisik bagus. Mentality bagus. Itu saja parameter. Dan itu semua bisa dites. Itu yang selalu saya lakukan dalam memilih pemain.
 
 
9. Untuk Kualifikasi Piala Asia U-23 nanti ada Thailand, Vietnam, dan Brunei. Bagaimana Anda memandang soal peta persaingan?
 
Ya nanti kita lihat. Kalau hasil tidak bisa saya ramal dari sekarang. Tapi yang jelas kita sudah pernah berhadapan dengan mereka. Dengan Brunei juga sudah. Tapi kalau hasil ya kita harus nunggu pertandingan.
 
Ekspresi pelatih tim nasional U-23 Indonesia, Indra Sjafri, dalam wawancara eksklusif dengan Kompas.com di Jakarta, Selasa (5/3/2019). KOMPAS.COM/FERRIL DENNYS Ekspresi pelatih tim nasional U-23 Indonesia, Indra Sjafri, dalam wawancara eksklusif dengan Kompas.com di Jakarta, Selasa (5/3/2019).
10. Kalau Vietnam dan Thailand di Piala AFF kemarin. Apa mereka sudah mengeluarkan kemampuan terbaiknya? 
 
Tidak tahu saya. Kalau itu tanya dia. Ngapain tanya kita. Kalau kita sudah jelas pemain terbaik kan. Masih ada Egy masih ada Saddil. 
 
11. Kira-kira berapa butuh uji coba sebelum tampil di kualifikasi? 
 
Cuma dua kali
 
12. Selain Bali United?
 
Satu lagi masih kita cari mungkin Bogor FC.
 
13. Cukup cuma dua uji coba?
 
Berlebih malah. Kan sudah lima kali uji coba di AFF. Sudah terlalu banyak. 
 
14. Sudah dua kali melatih timnas junior juara, ada keinginan melatih tim senior?
 
Saya anggap U-23 sudah senior. Kan sudah U-23.
 
15. Yang bukan kelompok umur?
 
Oh harus proses. Saya orang yang tahu proses dan saya sangat paham proses itu sangat menentukan. Saya jadi pelatih timnas U-22 dan sekarang U-23 itu dimulai dari timnas U-12, U-16, U-17, U-18, U-19 saya dua periode, dan sekarang U-22. Dengan proses yang sepanjang itu, saya cukup siap melatih U-22.  Apakah saya siap nanti melatih senior, ya saya bisa pastikan saya sangat siap.
 
16. Pendapat soal PSSI yang menunjuk Simon McMenemy?
 
Ya bisa-bisa saja. Sah-sah saja. Tidak ada masalah. Yang saya maksud bukan mengeliminir pelatih asing. Yang saya maksud berikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk pelatih lokal. Karena menurut saya pelatih lokal juga bisa berbuat dan menunjukan kualitas. Kalau ada pemilik klub mengambil pelatih asing terserah dia.
 
17. Makin banyak pelatih asing di Liga 1.  Anda pernah ada tawaran dari klub Liga 1?
 
Ya banyak lah saya ditawarin. 
 
18. Dari klub mana saja? 
 
Ngapain, saya pelatih timnas sekarang. Enggak perlu juga berita itu pada masyarakat. Ya kan. Itu sudah jadi berita yang hambar lah. Melatih klub. Lebih bagus lah melatih timnas. 
 
19. Tapi ada keinginan melatih klub?
 
Selagi saya dimanfaatkan oleh negara, saya pilih negara. Kenapa saya harus didorong-dorong ke klub. 
 
20. Bagaimana kalau tawarannya menggiurkan?
 
Duit tidak bisa membahagiakan orang. Percaya lah. Mas diapresiasi orang, mas dihormati banyak orang itu jauh lebih bahagia daripada duit. Duit itu cincay lah. Enggak ada apa-apanya kalau duit. Saya semakin banyak duit semakin susah saya. 
 
Jangan cari duit. Suruh aja duit datang ke kita. Kalau kita mau kita terima, kalau tidak mau kita buang. Jadi jangan diukur saya dengan duit. Saya bekerja di tim nasional juga saya tidak mengharap duit. Saya tidak pernah negosiasi-negosiasi kan. Ya mungkin niat saya itu yang didengar oleh Allah dan diamini doa saya.
 
Saya bekerja bukan untuk diri saya sendiri. Tapi untuk orang banyak. 
 
21. Ada pelatih idola yang jadi role model?
 
Idola saya cuma Nabi Muhammad. Yang lain tidak pernah saya idolakan. 
 
22. Bagaimana dengan role model di dunia sepak bola?
 
Tidak ada. Tapi kita sharing belajar iya. Saya belajar dari filosofi sepak bola Pep. Saya belajar. Tapi saya tidak perlu mengidolakan. Ngapain. Manusia di mata Tuhan sama. Ngapain mengidolakan orang. Idola saya sebagai Muslim hanya Nabi Muhammad. Yang lain tidak ada.
 
23. Apa Impian terbesar Anda?
 
Impian terbesar saya, satu lolos kualifikasi AFC. Yang kedua medali emas SEA Games. Itu impian terbesar saya. Karena dari tahun 1991 tidak pernah medali emas. Ini saya ingin medali emas. 
 
24. Ada enggak yang masih dicita-citakan di luar pekerjaan saat ini?
 
Tidak ada. Hidup saya di sepak bola. Tidak ada yang lain. Tidak ingin jadi anggota DPR, bagi saya ecek-ecek banget itu. Saya hanya ingin mengabdi ke negara ini untuk sepak bola. Itu saja. Jadi jangan digiring saya ke mana-mana. Karena saya tidak ahli di situ.
 
25. Kalau bisa kasih rekomendasi, siapa pemain yang paling dikedepankan untuk bisa masuk timnas senior?
 
Itu urusan Simon. Dia lihat sendiri. Karena filosofi sepak bola Simon dan saya berbeda. Saya dan Simon sangat bersinergi.
 
26. Tidak akan menganggu persiapan?
 
Pasti enggak lah. Saya bilang antara saya dan Simon berkomunikasi dengan baik. 
 
27. Bersama Anda, Marinus Wanewar sekarang jadi bisa mengendalikan emosi. Bagaimana cara Anda membentuknya?
 
Saya bilang di awal. Sebelum saya memilih pemain saya butuh informasi pemain. Kesehatannya, terus secara psikologi dia itu bagaimana sih. Dokter Joe Rumeser mengatakan Marinus itu perlu tokoh yang bisa dia percaya. Oleh sebab itu saya orang yang dia percaya. Kalau dia sudah percaya ke saya, bilang ke A pasti dia lakukan A. 
 
Tapi saya juga harus menjaga diri. Saya bilang 'Marinus, kamu tidak boleh keluar malam dan saya tidak pernah keluar malam'. 
 
Marinus, kamu harus rajin ke gereja, saya rajin ke masjid. Jadi dia ada yang dia contoh. Ada yang dia percayai. Tidak mungkin orang percaya ke kita dia tidak patuh ke kita. Itu yang saya lakukan.
 
Tahu enggak apa yang dia bilang ke Presiden, Pak tolong perbaiki jalan kampung saya. Gila enggak itu. 
 
Siapa bilang Marinus bukan anak baik. Dapat bonus Rp 200 juta, dia perbaiki gereja. Ada enggak orang di Indonesia yang seperti itu. Jarang. 
 
Jadi kalau orang bilang dia jelek, saya adalah orang yang bilang dia anak baik. Makanya ada hastag anak baik.
 

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

Close Ads X