Kisah Klub yang Paling Dibenci di Liga Jerman...

Kompas.com - 26/02/2019, 07:58 WIB
Matheus Cunha (kanan) merayakan golnya bersama Yussuf Poulsen dan Lukas Klostermann pada pertandingan RB Leipzig vs VfL Wolfsburg dalam DFB Pokal, 6 Februari 2019.  AFP/ROBERT MICHAEL Matheus Cunha (kanan) merayakan golnya bersama Yussuf Poulsen dan Lukas Klostermann pada pertandingan RB Leipzig vs VfL Wolfsburg dalam DFB Pokal, 6 Februari 2019.

Laporan langsung Jalu W. Wirajati dari Leipzig, Jerman. 

KOMPAS.com - Nama RB Leipzig menjadi santer diperbincangkan sejak meraih tiket promosi ke Bundesliga 1 - kasta teratas Liga Jerman - pada musim 2016-2017. Ada nada minor terkait keberhasilan itu sehingga menjadikan mereka sebagai klub yang paling dibenci. 

Adalah Dietrich Mateschitz yang menjadi awal dari munculnya RB Leipzig. Pemilik minuman energi Red Bull asal Austria itu ingin mengembangkan divisi olahraganya dengan membentuk klub di Liga Jerman dan menyiapkan bujet 50 juta euro. 

Niatan Dieter Mateschitz itu mendapat dukungan dari koleganya, Franz Beckenbauer, yang tak lain adalah legenda sepak bola Jerman. Akan tetapi, keinginan itu sempat terhadang aturan Asosiasi Sepak Bola Jerman (DFB). 

Baca juga: Liputan Bundesliga, Bintang Bayern Tak Lupa Jasa Pelatih Malaysia

Red Bull ingin membeli klub kasta keempat Liga Jerman, FC Sachsen Leipzig, lalu mengubah nama dan warna kebesarannya. Hal ini ditolak DFB karena khawatir klub baru tersebut akan terlalu dominan "warna" perusahaan sang penyokong dana. 

Selain itu, di Jerman, ada aturan bahwa klub harus dimiliki oleh anggota. Aturan 50+1 kepemilikan klub adalah anggota itu dinilai sulit dipenuhi oleh Mateschitz. 

Setelah sempat maju-mundur terutama terkait dengan aturan DFB dan pencarian klub yang didanai, akhirnya Mateschitz dan Red Bull kembali melirik Leipzig. Dipilihlah klub bernama Markranstaedt untuk diambil alih pada 2009. 

Markranstaedt saat itu berada di kasta kelima. Aturan kepemilikan 50+1 tak berlaku untuk tim di luar empat kasta teratas Bundesliga sehingga Mateschitz bisa leluasa untuk menggelontorkan dana besar.

Nama klub pun berubah menjadi RB Leipzig yang merupakan kepanjangan dari RassenBallsport Leipzig alias klub sepak bola lapangan rumput di Leipzig. Die Roten Bullen menjadi klub kelima di bawah bendera Red Bull. 

Logo Red Bull terlihat jelas di pusat pelatihan RB Leipzig. Foto diambil saat Kompas.com melakukan Bundesliga Media Visit, 24 Februari 2019. KOMPAS.com/JALU W WIRAJATI Logo Red Bull terlihat jelas di pusat pelatihan RB Leipzig. Foto diambil saat Kompas.com melakukan Bundesliga Media Visit, 24 Februari 2019.

Sebelumnya, Mateschitz sudah memiliki Red Bull Salzburg di Austria, New York Red Bulls di Amerika Serikat, serta Red Bull Brasil dan Red Bull Ghana. Leipzig tak memakai Red Bull karena memang tak boleh ada nama perusahaan sebagai embel-embel klub. 

Pada tahun pertama dibentuk, Die Rotten Bullen langsung promosi Regionalliga alias kasta ke-4 Liga Jerman. Perombakan terjadi di susunan direksi demi memenuhi aturan 50+1 soal kepemilikan klub. 

Perubahan ini dianggap akal-akalan oleh klub lain karena jumlah anggota yang cuma 17. Bandingkan dengan Bayern Muenchen dengan 234 juta member, terbanyak di antara klub dengan sistem keanggotaan. 

Halaman:


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Close Ads X