Ancelotti Nyaris Kembali ke AC Milan Sebelum Besut Napoli

Kompas.com - 24/12/2018, 20:00 WIB
Pelatih Napoli, Carlo Ancelotti, tampak menginstruksikan pemainnya dari pinggir lapangan saat bertanding melawan tuan rumah Crvena Zvezda dalam ajang Liga Champions 2018-2019 di Stadion Rajko Mitic, Belgrade, pada 18 September 2018.
ANDREJ ISAKOVIC / AFP Pelatih Napoli, Carlo Ancelotti, tampak menginstruksikan pemainnya dari pinggir lapangan saat bertanding melawan tuan rumah Crvena Zvezda dalam ajang Liga Champions 2018-2019 di Stadion Rajko Mitic, Belgrade, pada 18 September 2018.

MILAN, KOMPAS.com - Pelatih Napoli, Carlo Ancelotti, mengaku pernah dua kali hampir kembali ke AC Milan, klub yang pernah dibesutnya.

Ancelotti tercatat pernah menangani Milan sejak 2001 hingga 2009. Bersama Rossoneri, julukan Milan, Ancelotti meraih dua trofi juara Liga Champions dan satu titel Serie A.

Setelah hengkang dari Milan, Ancelotti pernah berkelana ke beberapa klub di beberapa negara, mulai dari Chelsea (Inggris), PSG (Perancis), Real Madrid (Spanyol), dan Bayern Muenchen (Jerman), sebelum kembali ke Italia bersama Napoli mulai 2018.

Ancelotti mengungkapkan hampir dua kali kembali ke Milan, termasuk musim lalu setelah meninggalkan Bayern Muenchen.

"Dua kali," jawab Ancelotti dikutip dari Football Italia, Senin (24/12/2018).

Baca juga: Carlo Ancelotti Remehkan Liverpool

“Ketika saya meninggalkan Real Madrid Galliani (Wakil Presiden Milan Adriano Galliani) datang, tetapi saya harus pulih dari masalah punggung," ungkap Ancelotti.

"Lalu lain lagi dengan Fassone (Mantan Direktur Pelaksana Milan Marco Fassone), ada setengah pendekatan setelah saya meninggalkan Bayern," lanjut Ancelotti.

Ancelotti akan kembali ke Milan untuk memimpin timnya berhadapan dengan Inter Milan pada Rabu (26/12/2018).

Ancelotti dikenal karena sikapnya yang tenang, tetapi ketika ditanya apa yang membuatnya marah pada seorang pemain. Ia pun menjawab:

Baca juga: Carlo Ancelotti Beri Penghormatan kepada John Terry

"Mereka yang tidak bermain dan kemudian berlatih dengan buruk membuat saya kehilangan akal. Saya mengerti jika mereka marah. Tetapi tidak jika mereka berlatih dengan buruk. Ini egois, karena merusak seluruh tim."

"Perhatian harus dialihkan kepada orang lain, bukan pada diri mereka sendiri. Saya pernah membaca bahwa 90 persen orang Amerika antara usia 15 dan 21 menderita stres, dan alasannya adalah terlalu banyak yang egois. Hanya ada satu obat jika Anda stres, Anda harus lebih altruistik."

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X