5 Final Piala AFF yang Pernah Dijalani Timnas Indonesia

Kompas.com - 06/11/2018, 17:34 WIB
Striker timnas Indonesia, Lerby Eliandry, tertunduk saat wasit meniup peluit panjang pertanda akhir laga kedua final Piala AFF 2016 di Stadion Rajamangala, Bangkok, Thailand, Sabtu (17/2/2016) malam. PRIYOMBODO/KOMPAS Striker timnas Indonesia, Lerby Eliandry, tertunduk saat wasit meniup peluit panjang pertanda akhir laga kedua final Piala AFF 2016 di Stadion Rajamangala, Bangkok, Thailand, Sabtu (17/2/2016) malam.

JAKARTA, KOMPAS.com - Piala AFF merupakan turnamen sepak bola antarnegara paling bergengsi di Asia Tenggara. Dihelat sejak 1996 dengan nama awal Piala Tiger, turnamen yang berlangsung tiap dua tahun sekali ini sudah berlangsung sebanyak 11 kali.

Dari jumlah tersebut, Thailand menjadi tim paling sukses dengan torehan 5 gelar, Singapura dengan 4 gelar, sedangkan Malaysia dan Vietnam masing-masing meraih 1 gelar.

Sementara itu Indonesia, sampai sejauh ini belum pernah meraih gelar juara. Adapun prestasi terbaik yang ditorehkan tim Garuda adalah lima kali tampil di final yang berakhir dengan kekalahan sehingga harus puas jadi runner-up.

Kompas.com merangkum lima final yang pernah dijalani timnas Indonesia dalam keikutsertaannya di Piala AFF.

1. Piala AFF 2000

Edisi ketiga Piala AFF 2018 dihelat di Thailand. Pada masa itu, tim Negeri Gajah Putih bisa dibilang sangat superior di kancah sepak bola Asia Tenggara.

Tak heran, tak ada satu pun tim yang mampu berbuat banyak saat berhadapan dengan Kiatisuk Senamuang cs, termasuk Indonesia. Thailand bahkan mampu menyapu bersih lima laga yang dimainkan sepanjang turnamen.

Namun penampilan Indonesia bisa dibilang sudah cukup baik. Di luar dua laga melawan Thailand, Gendut Doni cs mampu menunjukan permainan impresif.

Mereka menang 3-0 atas Filipina dan 5-0 atas Myanmar. Di semifinal, Indonesia mampu menyingkirkan Vietnam 3-2 melalui perpanjangan waktu.

Namun saat laga final, tim Garuda tak kuasa membendung kekuatan Thailand yang tampil di hadapan ribuan pendukungnya di Stadion Rajamangala, Bangkok. Indonesia menyerah dengan skor 1-4. Skor yang sama dengan saat kedua tim bertemu pada babak penyisihan Grup A.

Striker tim nasional Indonesia, Gendut Doni Cristiawan (tengah), berebut bola dengan dua pemain Vietnam dalam pertandingan Piala Tiger 2000 di Stadion Rajamangala, Bangkok, Thailand, pada 16 November 2000.STANLEY CHOW/ALLSPORT Striker tim nasional Indonesia, Gendut Doni Cristiawan (tengah), berebut bola dengan dua pemain Vietnam dalam pertandingan Piala Tiger 2000 di Stadion Rajamangala, Bangkok, Thailand, pada 16 November 2000.

2. Piala AFF 2002

Untuk pertama kalinya, babak penyisihan grup Piala AFF dihelat di dua negara, masing-masing di Indonesia dan Singapura. Namun seluruh laga semifinal hingga final dipusatkan di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta.

Indonesia melangkah ke final setelah mengalahkan Malaysia 1-0 di semifinal. Di final, Indonesia lagi-lagi berhadapan dengan Thailand, juara bertahan sekaligus tim yang mengalahkan Indonesia dua kali dalam Piala AFF dua tahun sebelumnya.

Piala AFF edisi keempat seharusnya menjadi ajang yang ideal bagi Indonesia untuk meraih juara. Selain menjadi tuan rumah, menjadi juara Piala AFF 2002 juga bisa menjadi bukti bahwa adanya peningkatan prestasi Indonesia.

Sebab dalam tiga edisi sebelumnya, Indonesia meraih peringkat empat pada tahun 1996, peringkat ketiga pada 1998 dan runner-up pada 2000.

Namun nasib berkata lain. Indonesia harus menyerah 2-4 melalui drama adu penalti.

Sepanjang laga, Indonesia sempat tertinggal 0-2 pada babak pertama. Namun tim Garuda bangkit pada babak kedua melalui gol Yaris Riyadi dan Gendut Doni. Skor 2-2 terus bertahan hingga waktu normal dan babak tambahan waktu berakhir.

Namun di babak tos-tosan, Sugiyantoro dan Firmansyah gagal menyelesaikan tugasnya. Indonesia pun kalah dengan skor 2-4 dari Thailand.

Penyerang timnas Indonesia Bambang Pamungkas saat tampil di Piala Tiger 2002.juara.bolasport.com (Dok.Bola) Penyerang timnas Indonesia Bambang Pamungkas saat tampil di Piala Tiger 2002.

3. Piala AFF 2004

Banyak yang menilai penampilan timnas 2004 merupakan yang terbaik sepanjang keikutsertaan Indonesia di Piala AFF. Acuannya, penampilan yang impresif pada babak penyisihan.

Timnas 2004 diarsiteki pelatih asal Inggris, Peter Withe, yang sebelumnya sukses mengarsiteki Thailand. Diperkuat "wonderkid" Boaz Solossa yang ketika itu masih berumur 18 tahun, Indonesia mampu mencetak 17 gol dalam empat laga tanpa pernah kebobolan.

Tim Garuda menang telak dalam tiga laga, masing-masing 6-0 atas Laos, 8-0 atas Kamboja, dan 3-0 atas tuan rumah Vietnam. Satu-satunya laga di mana timnas gagal meraih poin maksimal adalah saat ditahan imbang 0-0 oleh Singapura, tim yang kemudian merepotkan Boaz cs di final.

Indonesia ke final setelah melewati hadangan Malaysia melalui comeback sensasional di semifinal. Sempat kalah 1-2 pada leg pertama di Gelora Bung Karno, timnas juga sempat tertinggal 0-1 saat babak pertama leg kedua di Stadion Bukit Jalil.

Namun babak kedua, anak asuh Peter Withe mencetak empat gol dan membuat Indonesia berbalik unggul 4-1 dan lolos ke final dengan agregat 5-3

Pada final melawan Singapura yang berlangsung dua leg, penampilan Indonesia seperti anti-klimaks. Terbukti, mereka takluk 1-3 pada leg pertama di Jakarta dan 1-2 pada leg kedua di Stadion Nasional Singapura.

Indonesia pun harus kembali mengubur impian. Untuk kali ketika mereka gagal meraih Piala AFF.

Para pemain timnas Indonesia yang tampil di Piala Tiger 2004.juara.bolasport.com (Dok.Bola) Para pemain timnas Indonesia yang tampil di Piala Tiger 2004.

4. Piala AFF 2010

Untuk pertama kalinya, timnas Indonesia diperkuat pemain naturalisasi. Diawali dengan masuknya dua pemain, yakni Cristian Gonzales dan Irfan Bachdim.

Timnas tampil apik pada babak penyisihan karena menyapu bersih tiga laga, termasuk menang 5-1 atas Malaysia, tim yang kemudian menjadi juara.

Sebelum melangkah ke final, Indonesia berhasil melewati hadangan Filipina dengan kemenangan agregat 2-0. Dua laga dimainkan di SUGBK karena ketiadaaan stadion yang representatif di Filipina.

Di final, Indonesia berhadapan dengan Malaysia yang berhasil menyingkirkan Vietnam.

Seperti pada 2004, lagi-lagi timnas tampil anti-klimaks di final. Pada leg pertama, tim asuhan Alfred Riedl harus takluk 0-3 dari Harimau Malaya.

Pada leg kedua, kemenangan 2-1 tak cukup menyelamatkan Indonesia dari kegagalan meraih juara. Untuk kali keempat Indonesia harus jadi runner-up.

Perayaan gol Bambang Pamungkas saat Indonesia mengalahkan Thailand pada partai fase grup Piala AFF 2010 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, 7 Desember 2010.BAY ISMOYO/AFP Perayaan gol Bambang Pamungkas saat Indonesia mengalahkan Thailand pada partai fase grup Piala AFF 2010 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, 7 Desember 2010.

5. Piala AFF 2016

Indonesia mengikuti Piala AFF 2016 setelah sempat menjalani sanksi FIFA akibat pembekuan PSSI oleh pemerintah.

Pada turnamen edisi ke-11 ini, timnas memulainya dengan kekalahan 2-4 dari Thailand pada laga pertama penyisihan Grup A di Filipina. Setelah sempat bermain imbang 2-2 dengan Filipina dalam laga kedua, Stefano Lilipaly cs dapat lolos ke semifinal setelah menang 2-1 atas Singapura dalam laga terakhir.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah Piala AFF, Indonesia tidak menggunakan SUGBK sebagai kandang di semifinal karena stadion itu direnovasi untuk Asian Games 2018.

Ini membuat Indonesia memilih menggunakan Stadion Pakansari, Cibinong.

Pada laga semifinal yang berlangsung dua leg, Indonesia berhasil menyingkirkan Vietnam dengan keuggulan agregat 4-3.

Di final, Indonesia harus berhadapan kembali dengan Thailand. Sempat menang 2-1 pada leg pertama, Indonesia harus mengakui keunggulan Thailand 2-0 pada leg kedua.

Untuk kelima kali, tim Garuda harus mengubur impian menjadi juara Piala AFF. Raihan lima kali runner-up Indonesia ini sama dengan raihan juara yang ditorehkan Thailand.

Kekecewaan para pemain timnas Indonesia usai final Piala AFF 2016 di Bangkok, 17 Desember 2016.HERKA YANIS PANGARIBOWO/JUARA/BOLA Kekecewaan para pemain timnas Indonesia usai final Piala AFF 2016 di Bangkok, 17 Desember 2016.

Halaman:


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Close Ads X