Mimpi Olimpiade 2032 - Kompas.com

Mimpi Olimpiade 2032

Kompas.com - 06/09/2018, 07:30 WIB
Presiden Komite Olimpiade Internasional IOC Thomas Bach memberikan keterangan pers di Media Press Center Asian Games 2018, Jakarta Convention Center, Jakarta, Minggu (2/9/2019). Bach mengapresiasi kesuksesan penyelenggaraan Asian Games 2018 di Jakarta- Palembang dan membahas sejumlah isu terkait penyelenggaraan Olimpiade.  ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN Presiden Komite Olimpiade Internasional IOC Thomas Bach memberikan keterangan pers di Media Press Center Asian Games 2018, Jakarta Convention Center, Jakarta, Minggu (2/9/2019). Bach mengapresiasi kesuksesan penyelenggaraan Asian Games 2018 di Jakarta- Palembang dan membahas sejumlah isu terkait penyelenggaraan Olimpiade.


PADA 12 April 1961, kosmonot Uni Soviet Yuri Gagarin menjadi orang pertama yang terbang ke luar angkasa. Di belahan bumi lain, Amerika Serikat pada 20 Januari 1961 memiliki presiden baru bernama John F. Kennedy.

Pada waktu itu, rivalitas Soviet dan Amerika terjadi pada semua bidang. Dunia pun terbelah dalam dua kutub utama, blok timur Uni Soviet dan blok barat Amerika dengan penyeimbangnya Non Blok.

Tiga bulan setelah pelantikannya, John F. Kennedy dihadapkan pada persaingan ilmu pengetahuan tentang eksplorasi luar angkasa. Soviet melalui Gagarin sudah satu langkah di depan.

Agar bisa mengungguli Soviet, pada  25 Mei 1961 di hadapan Kongres, John F. Kennedy mengeluarkan impian Amerika dengan ucapannya yang terkenal, ”Saya yakin bangsa ini harus benar-benar berkomitmen untuk mencapai tujuannya, sebelum akhir dasawarsa ini, untuk mendaratkan manusia di bulan dan memulangkannya dengan selamat ke bumi.”

Impian mendaratkan manusia di bulan dan memulangkan dengan selamat ke bumi, kemudian menjadi visi besar  bangsa Amerika. Pemerintah, kaum cerdik pandai dan kemudian diikuti rakyat Amerika bahu-membahu untuk mewujudkan mimpi besar tersebut.

Sejarah mencatat, John F. Kennedy pada 22 November 1963 ditembak mati oleh Lee Harvey Oswald di Dallas, Texas. Namun impian John F. Kennedy tidak pernah mati.

Lebih cepat dari ucapannya, pada 20 Juli 1969 bangsa Amerika mampu mendaratkan manusia pertama ke bulan dan pulang dengan selamat ke bumi.

Dimulai dengan mimpi, kemudian diubah menjadi visi dan berlanjut menjadi aksi, itulah yang dilakukan John F. Kennedy dan diikuti rakyatnya.

Mimpi besar pula yang ditanamkan oleh Bung Karno kepada kaum muda Indonesia dengan ungkapan terkenalnya, “Bermimpilah setinggi langit. Pun jika kamu jatuh tetap berada di bintang.”

Terinspirasi Soekarno, seorang anak muda bermodal cekak merantau dari Siantar menuju Jakarta untuk melanjutkan kuliah. Untuk menambah uang cekak pemberian orang tuanya, si anak muda bekerja malam hari di warung internet.

Benar bahwa uangnya terlampau cekak untuk kuliah dan hidup di Jakarta. Hanya saja impiannya tak terbatas.

Di kamar kos sempit, si anak muda memasang poster Soekarno dengan kalimat magisnya, “Bermimpilah setinggi langit. Pun jika kamu jatuh tetap berada di bintang.” Saban hari ditatapnya poster itu.

Lulus kuliah, si anak muda mula pertama bekerja ikut orang. Kemudian ia banting setir, usaha sendiri untuk mewujudkan impiannya yang setinggi langit. Berulang kali jatuh bangun dalam membesarkan usahanya.

Pada satu titik, usahanya meroket sangat kencang dan hari ini usahanya menjadi idola kaum muda.

Si anak muda itu bernama William Tanuwijaya. Nama usahanya Tokopedia, perusahaan rintisan dengan asset lebih dari 1 miliar dolar AS.

Menciptakan mimpi besar untuk mempengaruhi rakyatnya, dilakukan oleh John F. Kennedy dan Soekarno.

Mimpi Jokowi

Di era kekinian, Presiden Jokowi juga menciptakan impian besar. Syahdan Indonesia sukses menyelenggarakan Asian Games 2018. 

Opening Ceremony Asian Games 2018, Sabtu, (18/8/2018).
Inasgoc Opening Ceremony Asian Games 2018, Sabtu, (18/8/2018).

 

Berbekal kesuksesan itu, di hadapan Presiden Komite Olimpiade Internasional (IOC) Thomas Bach, Presiden Joko Widodo melontarkan mimpi besar bahwa Indonesia siap menjadi tuan rumah Olimpiade 2032.

Gayung bersambut, Presiden IOC mempersilahkan Indonesia mengikuti proses bidding penentuan Olimpiade 2032.

Menjadi tuan rumah Olimpiade 2032 merupakan mimpi besar Indonesia. Mimpi besar ini akan memberi dampak positif bagi rakyat Indonesia.

William Tanujaya tergetar oleh petuah Soekarno, walaupun petuah tersebut tidak memiliki tujuan spesifik. Apalagi menjadi tuan rumah Olimpiade 2032 yang jelas sasarannya, pasti akan memberi gelora seluruh rakyat Indonesia. Terlebih pada kaum milenial yang sedang menempuh pendidikan dari SD, SMP, SMA hingga kuliah.

Mereka pemilik masa depan. Mereka pula yang menjadi penghuni paling banyak dari sisi jumlah dibanding generasi lainnya. Bonus demografi yang dialami oleh Indonesia mulai tahun 2025 menemukan momentum dengan tantangan sebagai tuan rumah Olimpiade.

Gelaran Asian Games 2018 diikuti oleh empat puluh lima negara dengan sebelas ribu atlet. Dipersiapkan secara serius dalam tiga tahun.

Olimpiade adalah pesta olahraga warga dunia. Melihat data Olimpiade Rio de Janeiro 2016, jumlah negara peserta sebanyak 2016 dengan sebelas ribu atlet.

Jumlah atlet sama besarnya dengan Asian Games, hanya jauh lebih berkualitas. Mereka para atlet kelas dunia yang babak penyisihannya jauh lebih ketat dibanding Asian Games. Dengan demikian standar kebutuhan atlet Olimpiade lebih tinggi dibanding atlet Asian Games.

Jika persiapan Asian Games “hanya” diperlukan waktu tiga tahun, maka perhelatan Olimpiade butuh waktu panjang, yaitu sehabis tender pemenang ditentukan.

Katakanlah Olimpiade 2020 selesai. Kemudian setelah itu Indonesia ditetapkan sebagai tuan rumah Olimpiade 2032. Biasanya, penetapan tuan rumah olimpiade ditentukan 7 tahun sebelum perhelatan digelar.

Ada waktu untuk menyiapkan pesta olahraga terbesar di kolong langit ini. Generasi milenial lah yang kelak menjadi motor penggerak pesta.

Dapat diramalkan, sedari awal sekolah-sekolah dan kampus-kampus akan berkampanye masif tentang Olimpiade 2032. Sebagian bercita-cita untuk menjadi atlet. Sebagian lainnya bermimpi menjadi salah satu panitia penyelenggara. Sebagian berminat menjadi relawan.

Banyak pula kiranya yang bervisi menjadi tenaga ahli untuk membangun infrastruktur lapangan olahraga karena penyelenggaraan akan tersebar di banyak kota di Indonesia.

Banyak pula yang mungkin memiliki cita-cita untuk membangun jaringan teknologi masa depan yang tepat guna ketika Olimpiade 2032 dijalankan.

Dampak lainnya, karena penyelenggaraan tersebar, para gubernur, wali kota/bupati akan berlomba-lomba mempersolek kotanya sehingga kotanya layak dipilih sebagai penyelenggara beberapa cabang olahraga.

Mimpi menjadi tuan rumah Olimpiade 2032 akan memiliki multi efek yang positif bagi kemajuan generasi milenial. Juga merupakan tantangan yang menggairahkan bagi para pemimpin daerah untuk membangun daerahnya agar terpilih sebagai salah satu tempat bersaing atlet internasional.

Ayo kita dukung pemerintah untuk memenangkan tender tuan rumah Olimpiade 2032.


Komentar
Close Ads X