Piala Presiden 2018, Ekonomi Kerakyatan hingga Hiburan bagi Masyarakat

Kompas.com - 08/02/2018, 06:42 WIB
Laporan pertandingan Piala Presiden 2018 kini menyertakan data pedagang di sekitar stadion. Dok. USEE TVLaporan pertandingan Piala Presiden 2018 kini menyertakan data pedagang di sekitar stadion.

KOMPAS.com - Ada hal berbeda pada penyelenggaraan Piala Presiden 2018. Pada saat turun minum babak kedua, panitia lokal akan mengumumkan sejumlah data menarik, mulai dari jumlah penonton hingga pedagang asongan di stadion.

Ya, bukan hanya jumlah penonton dan pendapatan panitia dari tiket masuk ke stadion tuan rumah. Penonton di stadion dan audien di layar kaca juga bisa mengetahui berapa lapak pedagang kaki lima di sekitaran stadion dan jumlah pedagang asongan di antara ribuan penonton.

Pemunculan data pada saat jeda pertandingan itu memang dimaksudkan untuk transparansi ke publik tentang penyelenggaraan Piala Presiden 2018. Tranparansi memang menjadi salah satu visi dan misi penyelenggaraan turnamen pramusim ini.

"Transparansi merupakan bagian dari komitmen kami untuk menjaga kemurnian Piala Presiden," ucap Maruarar Sirait, Ketua Steering Committe Piala Presiden 2018, saat jumpa pers pengundian perempat final, Rabu (31/1/2018).

Selain transparansi, ekonomi kerakyatan menjadi visi dan misi lain dari Piala Presiden. Ketika membuka Piala Presiden edisi perdana pada 2015, Presiden Joko Widodo sudah mengingatkan akan hal tersebut.

"Mari bersama-sama menyukseskan acara ini karena berdampak positif bagi seluruh elemen masyarakat, terutama para pedagang, yang bisa meraup keuntungan dari penyelenggaraan ini," kata Jokowi di Stadion I Wayan Dipta, Gianyar, pada 30 Agustus 2015.

Presiden Jokowi, dalam beberapa kesempatan, memang berkali-kali menegaskan bahwa ekonomi kerakyatan merupakan salah satu pilar penting dalam menyangga perekonomian nasional.

Menurut Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (alm) Prof Dr Mubyarto, ekonomi kerakyatan adalah sistem ekonomi yang menunjukkan keberpihakan bersungguh-sungguh pada ekonomi rakyat.

"Ekonomi kerakyatan pada intinya adalah pembangunan ekonomi yang pro poor dan pro growth. Artinya, setiap kebijakan ekonomi akan berdampak langsung kepada masyarakat bawah," kata Monang Tobing, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, kepada Kompas.com, Selasa (6/2/2018).

"Minimal, dampak ekonomi (terasa) di daerah tuan rumah penyelenggaraan. Saya melihat, ketika Solo menjadi tuan rumah babak 8 besar Piala Presiden 2018, pertumbuhannya bagus, mulai dari sektor perhotelan hingga perdagangan," tutur dia melanjutkan.

Sugiarto, penyandang disabilitas yang berjualan di area halaman Stadion Manahan, Solo ketika digelar babak perempat final Piala Presiden 2018 pada 3-4 Februari 2018.BolaSport.com/Muhammad Shofii Sugiarto, penyandang disabilitas yang berjualan di area halaman Stadion Manahan, Solo ketika digelar babak perempat final Piala Presiden 2018 pada 3-4 Februari 2018.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X