Ferril Dennys Sitorus
Jurnalis Kompas.com

Wartawan olahraga, pencinta sepak bola.

Kopiah Ezra Walian dan Pesan Persatuan Indonesia

Kompas.com - 19/05/2017, 07:34 WIB
Pemain timnas Indonesia, Ezra Walian saat pertandingan persahabatan Indonesia melawan Myanmar di Stadion Pakansari, Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Selasa (21/3/2017). Indonesia kalah 1-3 melawan Myanmar. KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMOPemain timnas Indonesia, Ezra Walian saat pertandingan persahabatan Indonesia melawan Myanmar di Stadion Pakansari, Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Selasa (21/3/2017). Indonesia kalah 1-3 melawan Myanmar.
EditorJalu Wisnu Wirajati

Cinta Ezra harus jadi virus

Keinginan besar Ezra membuat sepak bola kembali disegani membuat saya tergugah. Dia yang lahir dan dibesarkan di Belanda, sangat mencintai bangsa ini.

Saya menganggap Ezra bisa saja memperkuat tim nasional Belanda. Terlebih, dia pernah memperkuat tim nasional Belanda dalam berbagai kategori umur seperti U-15, U-16 hingga U-18. 

Bahkan, dia pernah membukukan rekor pribadi dengan mencetak lima gol dalam satu pertandingan saat tim nasional Belanda U-17 melawan San Marino. Saat itu, dia baru berumur 15 tahun, 11 bulan, dan 27 hari.

Segala kenangan dan pengalaman itu menjadi sumbu bagi Ezra untuk menyalakan pelita-pelita prestasi dengan seragam timnas Indonesia. Ibaratnya, Belanda yang menanam, Indonesia menuai buahnya. 

Sebelum menikmati buah tersebut, kita terlebih dulu harus meresapi cinta Ezra terhadap negara ini. Ke-Indonesia-an Ezra harus menjadi virus yang disebarkan agar kita lebih Indonesia lagi. Bangga dan semakin mencintai Indonesia.

Sama halnya dengan Ezra, Stefano Lilipaly yang juga pemain naturalisasi sangat mencintai bangsa ini.

Besar dan lahir di Belanda, nasionalisme  terhadap Indonesia sangat tinggi. Saya melihatnya bagaimana kerja keras dia membawa Indonesia mencoba berjuang untuk menjuarai Piala AFF pada 2016.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Namun, saat itu, Lilipaly dan kolega gagal mengangkat piala. Dia tidak terpuruk meratapi kegagalan itu. Dia malah membakar nasionalisme kita dengan pernyataan yang heroik.

Lewat akun Instagram-nya, dia menulis,"Saya mohon maaf kepada semuanya karena kami belum bisa membawa pulang piala itu."

"Tetapi saya pikir piala itu tidak terlalu penting karena piala hanyalah sebuah simbol. Yang terpenting adalah cara kami berjuang. Kami semua bekerja sama demi negeri kita tercinta INDONESIA. Kami berhasil menyatukan seluruh masyarakat Indonesia bersama dan ini hanya terjadi di sepak bola dan saya sangat bangga akan hal tersebut."

"Kita tidak butuh piala AFF dan semacamnya, yang kita butuhkan adalah kecintaan dan perjuangan sampai mati untuk membuat negeri lebih baik lagi dalam segala hal. Kita semua bersatu di sini dan kita semua berdiri bersama. Saya merasa sangat bangga menjadi orang Indonesia. Kita tunjukkan pada semua siapa kita (INDONESIA)!!! One day we will bring this Trophy Home."

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.