Kompas.com - 05/03/2017, 17:29 WIB
Sugih Hendarto sempat mendapat perawatan saat mengalami retak tulang pinggul, Januari 2016. Herka Yaris/Juara.netSugih Hendarto sempat mendapat perawatan saat mengalami retak tulang pinggul, Januari 2016.
EditorJalu Wisnu Wirajati

BOGOR, KOMPAS.com - Kabar duka menerpa dunia sepak bola nasional. Mantan pelatih Persija pada era 1980 dan 1990-an, Sugih Hendarto (83), meninggal dunia di RS Mulia, Pajajaran, Bogor, Minggu (5/3/2017) dini hari.

"Duka cita mendalam atas wafatnya Bp. Sugih Hendarto. Pelatih Persija era 1980-1990an... Selamat Jalan Om Hen.." demikian tulisan di akun Instagram resmi Persija Jakarta pada Minggu pagi. 

Kondisi kesehatan Om Hen, begitu biasa Sugih Hendarto dipanggil, memang menurun dalam beberapa waktu belakangan. Hal itu tidak lepas dari komplikasi penyakit jantung dan kebocoran paru-paru yang dialaminya.

Bahkan, pada Januri 2016, Opa Hen sempat dilarikan ke RS lantaran mengalami retak tulang pinggul ketika ada insiden kecil saat hendak melatih anak asuhnya.

Kendati demikian, segala handicap itu tak menghalangi kontribusi Opa Hen untuk sepak bola Indonesia tidak luntur. Laki-laki kelahiran 21 Februari 1934 itu dikenal sebagai sosok yang peduli dengan perkembangan pemain muda.

Om Hen diketahui menjadi pelatih di Sekolah Sepak Bola (SSB) Menteng Yunior yang biasa berlatih di di Lapangan Aldiron, Pancoran, Jakarta.

"Apa yang saya lakukan hanyalah hal kecil, melatih anak-anak. Namun, saya harap bisa dicontoh pelatih-pelatih lain," kata Om Hen, semasa hidupnya.

Hal penting yang dilakukan tanpa pamrih itu membuat Om Hen dianugerahi Lifetime Achievement Award pada Anugerah Olah Raga Indonesia (AORI) 2013 dari Tabloid BOLA. Pengabdian dia untuk sepak bola Tanah Air patut dijadikan contoh.

Di level klub, jasa Om Hen buat Persija juga tidak sedikit. Dia memberikan perubahan signifikan saat tim berjulukan Macan Kemayoran itu.

Pada 1980-an, Persija  memasuki periode buruk. Bahkan, pada 1985 tim ibu kota nyaris terdegradasi.

Di tangan Om Hen, Persija  mengalami peningkatan performa yang signifikan. Bersama dia, Macan Kemayoran bangkit dan sukses menembus final kompetisi perserikatan pada 1998.

Akan tetapi, pada partai puncak, Persija harus mengakui kemenangan Persebaya Surabaya dengan skor 2-3 dalam laga yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK). (Segaf Abdullah) 



Sumber JUARA
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X