Kompas.com - 29/11/2016, 18:35 WIB
|
EditorNugyasa Laksamana

KOMPAS.com - Kecelakaan pesawat yang menimpa tim sepak bola asal Brasil, Chapecoense, bukan peristiwa yang pertama kali terjadi. Berikut adalah enam kecelakaan pesawat yang pernah terjadi kepada tim olahraga di dunia.

 

1. Kecelakaan Superga (4 Mei 1949)

Tim sepak bola Torino sedang dalam perjalanan kembali dari partai persahabatan kontra Benfica di Lisbon, Portugal.

Hampir seluruh skuad klub asal Turin tersebut ikut di dalam pesawat Avio Linee Italiane Fiat G.212CP yang mengangkut mereka, kecuali bek Sauro Toma dan beberapa pemain cadangan.

Kecelakaan terjadi saat pesawat sudah memasuki wilayah Turin. Karena kondisi cuaca yang buruk, pesawat tersebut menabrak Basilica Superga, Turin.

Akibat kecelakaan tersebut, ke-31 penumpang, termasuk 18 pemain Torino, ofisial, jurnalis, serta kru penerbangan menjadi korban kejadian naas itu. 

Tragedi ini kemudian dikenal dengan nama Superga air disaster.

Peristiwa kecelakaan tersebut menjadi salah satu kecelakaan paling buruk di dunia olahraga, terutama karena imbas bagi Torino dan tim nasional Italia.

Sebab, sebagian besar pemain yang tewas di insiden itu adalah pemain tim nasional Italia.

Selain itu, sebelum kecelakaan terjadi, Torino juga sedang memimpin perebutan titel juara liga dengan hanya empat pertandingan tersisa.

Pada empat pertandingan itu, Torino menurunkan pemain dari tim junior mereka dan sanggup menyapu bersih kemenangan untuk mengunci gelar scudetto.

 

2. Kecelakaan Sabena Flight 548 (15 Februari 1961)

Pesawat Boeing 707 Sabena 548 ini mengangkut tim dansa es (figure skating) Amerika Serikat dari New York City ke Brussels, Belgia.

Rencananya, tim yang terdiri dari 18 orang tersebut akan melanjutkan perjalanan ke Praha, Cekoslovakia (sekarang Republik Ceska) untuk mengikuti kejuaraan dunia.

Penerbangan itu berangkat dari Bandara Internasional Idlewild (sekarang dikenal sebagai Bandara Internasional John F. Kennedy) dan jatuh saat akan mendarat di Bandara Zavantem, Brussel.

Pesawat tersebut kehilangan kecepatan dan menukik dengan cepat sebelum jatuh ke sebuah tanah sekitar tiga kilometer dari bandara sebelum terbakar.

Tidak kurang dari 72 penumpang, termasuk keluarga atlet dansa es AS, staf pelatih, serta kru penerbangan, tewas seketika di lokasi kejadian.

Seorang petani bernama Theo de Laet yang berada di lokasi kejadian juga meninggal terkena pecahan alumunium pesawat.

Para ahli hingga kini belum menemukan penyebab pasti kecelakaan tersebut, tetapi penyidik menduga bahwa pesawat Sabena 548 mengalami kerusakan mesin.

Akibat kejadian ini, Kejuaraan Dunia Dansa Es 1961 pun dibatalkan. Selain itu, Amerika Serikat juga mengalami penurunan prestasi di cabang olahraga dansa es tingkat dunia selama beberapa waktu.

 

3. Kecelakaan pesawat tim nasional Zambia (27 April 1993)

Peristiwa ini terjadi saat pesawat Air Force de Havilland Canada DHC-5D Buffalo jatuh di Samudera Atlantik, sekitar 500 meter dari Libreville, Gabon.

Pesawat tersebut mengangkut tim nasional sepak bola Zambia menuju Dakar, Senegal, untuk bermain di babak kualifikasi Piala Dunia 1994.

Dalam perjalanan ke Dakar, pesawat tersebut berhenti tiga kali, yaitu di Brazzaville (Kongo), Libreville (Gabon), dan Abidjan (Pantai Gading).

Sebenarnya, sejak perhentian pertama pesawat sudah menunjukkan tanda-tanda kerusakan mesin, tetapi pilot memilih melanjutkan penerbangan.


Masalah mulai terjadi setelah pesawat berangkat dari perhentian kedua, tepatnya ketika mesin sebelah kiri pesawat terbakar dan berhenti beroperasi.

Kolonel Fenton Mhone yang menjadi pilot penerbangan itu menekan tombol untuk mematikan mesin yang terbakar itu.

Naas bagi dirinya, Fentone malah menekan tombol untuk mematikan mesin sebelah kanan.

Akibatnya, pesawat kehilangan daya seluruhnya dan jatuh dari ketinggian 500 meter. Kelak, laporan pada 2003 menunjukkan bahwa Fentone mengalami kelelahan sehingga melakukan kesalahan tersebut.

Sebab, satu hari sebelumnya, Fentone juga membawa tim Zambia terbang dari Mauritius.

Seluruh 30 penumpang, termasuk 18 pemain, staf pelatih, dan kru tewas pada kecelakaan tersebut.

Kapten Chipolopolo, julukan Zambia, Kalusha Bwalya, tidak ada di pesawat itu karena memilih berangkat langsung dari Eindhoven, Belanda, tempat dia bermukim sebagai pemain PSV Eindhoven.

Setelah kecelakaan tersebut, pemain Zambia yang tersisa melanjutkan perjuangan lolos ke Piala Dunia 1998 dan berlaga di Piala Afrika.

Mereka sukses melaju ke babak final turnamen tersebut dan bertemu Nigeria. Meski akhirnya kalah 1-2, tim Zambia pulang disambut sebagai pahlawan.

 

4. Kecelakaan Hendricks Motorsports (24 Oktober 2004)

Kecelakaan ini terjadi di daerah pegunungan di Stuart, Virginia, Amerika Serikat. Pesawat Beechcraft Super Air King milik tim NASCAR Hendrick Motorsports jatuh di daerah tersebut saat hendak mendarat di Blue Ridge Airport.

Ketika itu, tim Hendricks Motorsports akan bertanding di balapan Subway 500 Nextel Cup Series.

Pesawat ini berangkat dari Concord, North Carolina, membawa delapan penumpang dan dua kru penerbangan.

Sejumlah figur tim Hendrick Motorsport, termasuk Presiden John Hendrick, General Manager Jeff Turner, serta Kepala Teknisi (chief engine builder) Randy Dorton.

Pada pukul 3 sore waktu setempat, Beechcraft Super Air King dilaporkan hilang.

Petugas pencari yang terdiri dari polisi dan pemadam kebakaran lalu menemukan puing pesawat di dekat Bull Mountain beserta jenazah para penumpang.

Hasil pencarian menunjukkan bahwa pesawat tersebut menabrak bagian samping gunung dan mengalami ledakan. Diduga, pesawat mengalami tabrakan setelah gagal mendarat.

Akibat kejadian tersebut, tim Hendricks Motosports dinobatkan sebagai pemenang balapan di Martinsville. Sebagai bentuk penghormatan terhadap korban, NASCAR meniadakan selebrasi pemenang.

 

5. Kecelakaan Alianza Lima (8 Desember 1987)

Musibah ini menimpa tim sepak bola asal Peru, Alianza Lima, yang menumpang pesawat Navy Fokker F27-400M, untuk pulang dari Pucallpa usai pertandingan Liga Peru.

Ketika hendak mendarat, terjadi kesalahan di kokpit yang menyebabkan ban pesawat tidak bisa keluar.

Setelah mendapat bantuan dari pemandu lalu lintas udara, Letnan Edilberto Villar pun bersiap mendaratkan pesawat.

Namun, dia salah mengukur ketinggian karena kerusakan alat di kokpit.

Karena terbang terlalu rendah, sayap kanan pesawat masuk ke Samudera Pasifik.

Villar menjadi satu-satunya penyintas kejadian tersebut. Tidak kurang dari 43 pemain, manajer, staf, pemandu sorak, dan anggota kru pesawat tewas dalam kecelakaan tersebut.

Tragedi yang menimpa Alianza Lima itu juga menjadi kecelakaan pesawat terburuk kedelapan dalam aviasi Peru.

Bagi Alianza Lima, kecelakaan di Samudera Pasifik tersebut juga merenggut generasi terbaik klub mereka. Anggota skuad yang tewas tersebut dikenal sebagai Los Potrillos del '87 (The Colts of 1987).

Salah satunya adalah Luis Escobar, pemain muda yang memulai debut pada usia 14 tahun dan tewas pada usia 18 tahun.

Selain itu, tidak kurang dari empat pemain Alianza Lima menjadi anggota tim nasional Peru. Alianza Lima baru bangkit kembali pada 1997 ketika mereka memenangi liga.

 

6. Tragedi Muenchen (6 Februari 1958)

Pesawat British Airways 609 yang mengangkut tim Manchester United gagal terbang setelah tiga kali percobaan di runway yang dipenuhi lelehan es dan salju di Bandara Munich-Riem, Jerman Barat.

Dari 44 penumpang, 20 orang tewas di lokasi kejadian. Tiga korban lagi meninggal di Rumah Sakit Rechts ser Isar.

Skuad Manchester United ketika itu hendak kembali dari pertandingan Piala Eropa di Belgrade, Yugoslavia, melawan Red Star Belgrade.

Pesawat mereka berhenti di Muenchen untuk mengisi bahan bakar.

Saat kecelakaan terjadi, pesawat meluncur sampai ujung runway dan menabrak pagar pembatas hingga bagian sayap pesawat lepas menabrak sebuah rumah.

Pilot pesawat, James Thain, dan kru lain yang masih hidup membantu evakuasi penumpang.

Kiper Man United, Harry Gregg, yang sempat tidak sadarkan diri, juga berhasil lolos dan membantu penumpang lain keluar dari bangkai pesawat.

Tujuh pemain Manchester United tewas di lokasi kejadian, sementara satu pemain lagi, Duncan Edwards, meninggal pada 21 Februari 1958.

Dua pilar Setan Merah, Johnny Berry dan Jackie Blanchflower, selamat tetapi mengalami luka parah dan tidak bisa melanjutkan karier sepak bola mereka.

Para pemain ini merupakan bagian skuad yang disebut sebagai The Busby Babes asuhan Matt Busby. Busby juga menjadi salah satu korban terluka kecelakaan tersebut dan harus dirawat selama dua bulan.

Karena kecelakaan tersebut, Man United untuk sementara harus bermain dengan tim cadangan dan para pemain dari skuad junior.

Mereka juga mengalami pergantian staf menyusul meninggalnya beberapa ofisial dalam kecelakaan tersebut.

Man United juga gagal mempertahankan titel pada musim 1957-1958.

Namun, semusim kemudian, Busby yang sudah pulih kembali melanjutkan tugasnya sebagai pelatih dan mulai membangun ulang timnya dengan merekrut pemain-pemain seperti George Best dan Denis Law. (Lariza Oky Adisty)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber JUARA
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.