Juventus Jadi Harapan Italia di Liga Champions

Kompas.com - 19/08/2016, 14:53 WIB
Gonzalo Higuain beraksi saat Juventus melawan West Ham United pada partai uji coba di London Stadium, Minggu (7/8/2016). JUSTIN TALLIS/AFPGonzalo Higuain beraksi saat Juventus melawan West Ham United pada partai uji coba di London Stadium, Minggu (7/8/2016).
|
EditorEris Eka Jaya

KOMPAS.com — Tanpa mengesampingkan Napoli dan AS Roma sebagai rekan Juventus di ajang Liga Champions musim 2016-2017, harapan terbesar publik sepak bola Italia lebih menyasar kepada Juventus.

Pada musim ini, boleh dibilang Si Nyonya Tua tidak hanya didukung oleh tradisi, tetapi juga oleh materi yang mumpuni.

Kehilangan Paul Pogba sama sekali tak perlu ditangisi karena terganti dengan kehadiran pemain sekelas Dani Alvez, Gonzalo Higuain, Marko Pjaca, hingga Miralem Pjanic.

Para pemain baru tersebut bukan datang sebagai pelipur lara. Mereka tidak hanya memiliki skill, tetapi juga pengalaman dalam mengarungi drama ala Liga Champions.

"Alvez dan Higuain, misalnya. Keduanya merupakan pemain yang pernah merasakan menjadi juara Liga Champions. Hal ini modal bagus bagi kami karena Liga Champions pada dasarnya menyukai tradisi dan tim bermental kuat," kata pelatih Juventus, Massimiliano Allegri.

Pada musim 2014-2015, Juventus sebenarnya tinggal selangkah lagi meraih gelar juara setelah secara mengejutkan melaju ke partai final Liga Champions.

Namun, FC Barcelona menggagalkan mimpi I Bianconeri dengan skor 3-1. Alves kala itu menjadi salah satu sosok yang ikut merusak mimpi Juventus maupun sepak bola Italia.

Pada musim ini, Allegri juga menyatakan telah mempersiapkan diri belajar dari pengalaman musim lalu, dengan kegagalan Juventus disebut-sebut karena perubahan strategi. Pada musim lalu, perjalanan Juventus hanya sampai babak 16 besar.

Kelengahan pada menit akhir membuat mereka terlempar dari Liga Champions karena kalah agregat 4-6 dari jagoan Jerman, Bayern Muenchen.

Kesalahan perubahan strategi dari pelatih Allegri benar-benar menghancurkan mimpi karena lawan bisa menciptakan gol ke gawang tuan rumah.

"Kekalahan yang menyakitkan. Saya belajar kegagalan strategi pada pertandingan tersebut. Kami akan berubah dan akan menempatkan wajah sepak bola Italia pada tempat yang sangat layak," begitu janji Allegri.

Didukung sejarah

Sementara itu, pada ajang Liga Europa, Italia sementara ini baru diwakili oleh Inter dan Fiorentina. Sassuolo harus berjuang di babak play-off setelah memulai kompetisi dari babak kualifikasi III.

Di laga perdana melawan Crvena Zvezda dari Serbia, Sassuolo menang 3-0 atas tamunya (18/8/2016).

Formasi yang cukup menarik dan pantas dinanti karena peluang klub Italia terbilang cukup besar di ajang ini.

Italia memiliki torehan sejarah yang bagus karena tercatat sebagai satu-satunya negara yang mampu membawa tiga gelar Europa League (yang dulu bernama Piala UEFA) secara berturut-turut sebanyak dua kali.

Prestasi tersebut ditorehkan oleh Napoli, Internazionale Milan, dan Juventus pada 1989, 1990, dan 1991. Lalu, periode berikutnya disumbangkan Juventus, Internazionale Milan, dan AC Parma pada 1993, 1994, dan 1995.

Juventus dan Internazionale merupakan salah satu klub pengoleksi gelar terbanyak Liga Europa bersama klub asal Inggris, Liverpool, dengan raihan tiga gelar.

Namun, pencapaian ketiga klub tersebut masih berada di bawah prestasi klub asal Spanyol Sevilla yang telah mengumpulkan lima trofi Liga Europa.

Dalam beberapa tahun terakhir, klub-klub Italia kesulitan berprestasi di kompetisi Eropa, baik Liga Champions maupun Liga Europa. Secercah harapan muncul pada musim 2014-2015.

Selain Juventus melaju ke partai final, Fiorentina dan Napoli juga mampu lolos sampai semifinal Liga Europa. Fakta ini membuat Italia berpeluang menggusur Inggris di posisi tiga klasemen koefisien UEFA.

Bila Italia bisa naik ke urutan tiga, mereka dapat mengirimkan empat wakil lagi ke Liga Champions 2017-2018. Keinginan tersebut akhirnya batal mengingat pada 2015-2016 prestasi klub Italia tak sementereng semusim sebelumnya.

Juventus, AS Roma, dan Lazio bertarung di Liga Champions, sedangkan Napoli, Fiorentina, dan Sampdoria pada ajang Liga Europa.

Juventus dan AS Roma hanya sampai babak 16 besar Liga Champions. Lazio gagal lolos ke fase grup Liga Champions dan mentas di LE hingga babak 16 besar.

Sampdoria menjadi wakil Italia pertama yang masuk kotak di altar Liga Europa, lalu disusul Napoli dan Fiorentina.

Rentetan hasil buruk di kompetisi Eropa musim 2015-2016 seharusnya membuka mata Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) untuk segera melakukan perubahan agar wakil-wakil mereka bisa berbicara banyak di kompetisi antarklub Eropa. (Dedi Rinaldi)



Sumber JUARA
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X