Jalu W. Wirajati
Seseorang yang awalnya mengaku paham sepak bola, tetapi kemudian merasa kerdil ketika sudah menjadi wartawan bal-balan per April 2004. Seseorang yang suka olahraga, khususnya, sepak bola, tetapi menikmatinya dari tepi lapangan.

Jangan Pernah Takut Memelihara Mimpi

Kompas.com - 17/05/2016, 18:31 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
EditorWisnubrata

Perhaps it is not true that “a man becomes what he dreams”; but if he does not dream, what kind of a man is he? - Fausto Cercignani

Suatu malam di Terminal Lebak Bulus sekitar tahun 2001 atau 2002. Ketika itu, saya akan naik bus menuju kota kelahiran saya, Bandung.

Tergopoh-gopoh, saya memasuki terminal lantaran waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 malam. Khawatir tak kebagian bus, sampai-sampai saya selip lidah saat bertanya bus menuju Bandung dan Kampung Rambutan kepada penjaga peron.

Syahdan, akhirnya saya duduk di bangku depan kiri. Di sebelah saya, ada seorang pria keturunan yang tampak bawel bertanya kepada kondektur apakah bus akan jalan atau tidak.

Karena jumlah penumpang minimal sudah terpenuhi, bus pun keluar dari terminal dan menuju Bandung. Ketika itu, belum ada Tol Cipularang sehingga bus akan melewati Tol Cikampek lalu lewat jalan biasa melalui Purwakarta.

Dalam perjalanan, saya yang biasanya tertidur ketika kondektur sudah menagih tiket, terpaksa menahan mata. Pria di sebelah saya - yang sampai saat ini masih lupa namanya - terus mengajak saya mengobrol.

Dia bercerita tentang pekerjaan dirinya. Awalnya, dia seorang pekerja kantoran dan menempati posisi bergengsi di jajaran manajerial.

Ketika itu, saudara kandungnya - yang saya juga lupa namanya karena tak bisa googling lewat ponsel berbasis symbian - bahkan duduk di jajaran eksekutif bank besar nasional.

Akan tetapi, teman seperjalanan saya itu mengaku telah mundur dari perusahaannya. Dia tengah merintis usaha sendiri, sebuah usaha yang saya mendengarnya saja masih asing di telinga.

Bagi seorang mahasiswa ekonomi seperti saya, pernyataan dia saat itu mengejutkan. Bagaimanapun, dia sudah bisa nyaman mendapatkan beragam fasilitas tetapi memilih mundur sehingga untuk ke Bandung saja harus pakai kendaraan umum.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.