Liverpool Produktif tetapi Gampang Kebobolan

Kompas.com - 05/05/2016, 22:44 WIB
Bek Liverpool asal Pantai Gading, Kolo Toure (kiri), berebut bola dengan penyerang Villarreal, Roberto Soldado, pada pertandingan leg pertama semifinal Liga Europa di Stadion El Madrigal, Vila-real, Kamis (28/4/2016). JOSE JORDAN/AFPBek Liverpool asal Pantai Gading, Kolo Toure (kiri), berebut bola dengan penyerang Villarreal, Roberto Soldado, pada pertandingan leg pertama semifinal Liga Europa di Stadion El Madrigal, Vila-real, Kamis (28/4/2016).
EditorAloysius Gonsaga AE

KOMPAS.com - Liverpool FC berada di ujung tanduk. Kekalahan 0-1 pada leg pertama di Stadion El Madrigal yang merupakan markas Villarreal, membuat The Reds memikul beban berat ketika menjamu wakil Spanyol tersebut pada leg kedua semifinal Liga Europa di Anfield, Kamis (5/5/2016) atau Jumat dini hari WIB.

Ya, Liverpool wajib menang dengan selisih dua gol. Sebab jika hanya unggul satu gol dan Villarreal bisa membobol gawang mereka, maka kemenangan tersebut menjadi "hambar" lantaran lawan yang berhak lolos ke final karena unggul agresivitas gol di kandang lawan meskipun agregat imbang.

Manajer Juergen Klopp mengakui bahwa pasukannya harus mencurahkan segala kemampuan untuk bisa menghalau langkah Si Kapal Selam Kuning. Meskipun demikian, mantan pelatih Borussia Dortmund ini tetap optimistis bisa mewujudkan target tersebut asalkan pasukannya menunjukkan performa terbaik.

Jika melihat perjuangan Si Merah ketika menyingkirkan Dortmund pada leg kedua babak perempat final, rasanya ambisi Klopp bisa terwujud karena pasukannya bermain tak kenal lelah. Akan tetapi, rapuhnya lini belakang Liverpool menjadi titik lemah yang bisa dimanfaatkan Villarreal. Apalagi, lawan juga memiliki catatan bagus ketika melakoni partai tandang.

Berdasarkan statistik, Villarreal cukup produktif dalam laga away. Dari enam pertandingan sejak fase grup hingga knock-out kompetisi kasta kedua di Eropa ini, mereka berhasil mengoleksi sembilan gol dengan enam di antaranya tercipta pada akhir paruh pertama dan awal babak kedua. Jumlah kebobolannya lebih sedikit satu biji dan sebagian besar terjadi pada paruh kedua.

Produktivitas Liverpool saat bermain di Anfield pun cukup menjanjikan. Total, Philippe Countinho dan kawan-kawan membobol gawang lawan sebanyak 11 kali dan hanya kemasukan enam gol.

Akan tetapi, 30 menit pertama menjadi momen kritis bagi Liverpool karena empat kali gawang mereka koyak. Dua gol Dortmund pada leg kedua perempat final adalah faktanya, yang membuat Liverpool sempat tertinggal 0-2. Beruntung, empat gol pada paruh kedua membuat The Reds bisa membalikkan keadaan dan secara dramatis meraih kemenangan 4-3 sehingga lolos ke semifinal.

Berkaca dari apa yang terjadi pada leg kedua babak delapan besar itu, Liverpool harus langsung fokus sejak peluit kick-off berbunyi. Jika bisa membuat clean sheet selama 45 menit pertama, bukan mustahil mimpi Klopp menjegal dominasi Spanyol pada final kompetisi Eropa musim ini bisa menjadi kenyataan, apalagi didukung fakta pasukannya sangat rajin membuat gol setelah turun minum (8 dari 11 gol di kandang tercipta setelah menit ke-40).

Namun, lagi-lagi masih ada statistik yang kurang berpihak kepada Liverpool. Stadion kebanggaan mereka tak memiliki aura seram bagi klub-klub Spanyol, karena dari 14 kali menjamu tim dari Negeri Matador itu, Liverpool hanya meraih empat kemenangan. Mungkinkah Klopp bisa mengubah catatan buruk tersebut?

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X