Kompas.com - 25/08/2015, 16:16 WIB
Penampakan potongan rambut Mario Balotelli pada laga antara AC Milan dan Genoa, April 2014. MARCO BERTORELLO/AFPPenampakan potongan rambut Mario Balotelli pada laga antara AC Milan dan Genoa, April 2014.
|
EditorAry Wibowo

Seperti halnya Balotelli, Shevchenko dan Kaka punya memori manis bersama Milanisti. Athena 2007 menjadi puncaknya. Keduanya membawa Milan menang atas Liverpool pada final Liga Champions. Kemenangan ini sekaligus menjadi balas dendam terhadap luka di Istanbul dua tahun sebelumnya.

Belum lagi memori derbi. Shevchenko dan Kaka kerap menjadi antagonis untuk rival sekota Milan. Khusus duel bertajuk derby della Madonnina ini, Shevchenko masih berstatus pencetak gol terbanyak dengan torehan 14 gol. Adapun, Kaka mencatat lima gol ke gawang I Nerazzurri.

Akan tetapi, penampilan impresif Shevchenko tak terulang ketika kembali dipinjamkan ke Milan pada musim 2008-2009. Pemain berkebangsaan Ukraina ini cuma berstatus sebagai pelapis dan gagal mencetak gol pada ajang Serie A.

Kaka sedikit lebih baik dengan menembus tim inti. Dia juga menghiasi kepulangannya dengan torehan gol ke-100 untuk Milan pada 5 Januari 2014. Namun, dia tak mampu mengangkat prestasi Milan. Lantaran kegagalan Milan menembus zona Liga Champions, Kaka mengaktifkan klausul pemutusan kontrak pada musim panas tahun lalu.

Kesempatan Kedua

Milan sudah biasa merajut cinta lama. Termasuk Kaka, ada 46 pemain yang kembali ke San Siro setelah sempat membela klub lain. Pelopornya adalah Albano Vicariotto. Dia hengkang ke Torino pada musim 1951-1952 dan pulang ke Milan hanya selang satu tahun. Status pinjaman seperti kasus Shevchenko belum masuk hitungan ini. 

Tak sedikit dari mereka bersinar pada masa pengabdian pertama. Ambil contoh Ruud Gullit dan Roberto Donadoni. Mereka menjadi pilar AC Milan ketika menjuarai Piala Eropa (kini Liga Champions) dua tahun beruntun pada 1989 dan 1990.

Periode pertama Gullit bersama Milan berlangsung enam tahun. Dia mencatatkan 143 penampilan. Karier pemain berkebangsaan Belanda ini juga dipercantik dengan penghargaan Ballon d'Or pada 1987.

Gullit sempat hijrah ke Sampdoria dengan status bebas transfer pada Juli 1993. Dia kembali ke Milan pada tahun berikutnya. Namun, kebersamaannya bersama I Rossoneri tak bertahan lebih dari empat bulan dan cuma diwarnai 12 penampilan.

Setali tiga uang dengan Gullit, Donadoni tak terlalu bersinar pada masa bakti kedua di San Siro. Dia sempat melakoni 325 pertandingan dalam kurun waktu sepuluh tahun berseragam Milan. Pada periode kedua, dia sudah dimakan usia sehingga cuma mampu mencatat 27 penampilan.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.