Australia Dicurangi dalam Pencalonan Tuan Rumah Piala Dunia 2022

Kompas.com - 03/06/2015, 15:18 WIB
Chairman Federasi Sepak Bola Australia, Frank Lowy. AFP PHOTO / William WESTChairman Federasi Sepak Bola Australia, Frank Lowy.
|
EditorOkky Herman Dilaga
CANBERRA, KOMPAS.com — Chairman Federasi Sepak Bola Australia, Frank Lowy, mengatakan, pencalonan tuan rumah Piala Dunia 2022 berjalan tidak adil. Menurut Lowy, ada pihak pencalon yang melakukan kecurangan.

Seperti diketahui, FIFA menunjuk Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022. Qatar berhasil menyingkirkan beberapa pesaing, antara lain Amerika Serikat, Jepang dan Korea Selatan, serta Australia.

"Kami bersaing dengan cara bersih. Saya tahu, ada negara lain yang tidak melakukan hal sama seperti kami," kata Lowy seperti dilansir The Telegraph.

"Saya sudah memberitahukan hal tersebut kepada pihak terkait, termasuk Michael Garcia yang dalam dua tahun terakhir melakukan penyelidikan soal pencalonan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022," lanjut Lowy.

Australia menjadi negara kedua yang mengatakan adanya kecurangan dalam proses pencalonan tuan rumah Piala Dunia 2022. Sebelumnya, kubu Amerika Serikat juga mengatakan hal serupa.

FIFA menghadapi dugaan korupsi senilai 3 juta poundsterling atau sekitar Rp 59 miliar berkaitan dengan pemilihan Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022. Wakil Presiden FIFA Jim Boyce menyatakan akan mendukung pemilihan ulang tuan rumah Piala Dunia 2022 jika dugaan tersebut terbukti benar.

Hal tersebut berkaitan dengan pemberitaan Sunday Times, Minggu (1/6/2014). Sunday Times mengaku menemukan sejumlah dokumen rahasia, termasuk surat elektronik, surat, dan dokumen transfer bank, yang diduga merupakan pembayaran dari mantan Presiden Federasi Sepak Bola Qatar, Mohamed Bin Hammam, kepada sejumlah federasi untuk memilih Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022 pada Desember 2010.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Mengacu dokumen tersebut, Bin Hammam melobi sejumlah federasi untuk memilih negaranya sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022 sekitar enam bulan sebelum pemilihan.

Dokumen itu juga menunjukkan bahwa Bin Hammam melakukan pembayaran kepada federasi sepak bola di Afrika, yang diduga untuk "membeli" suara mereka dalam pemilihan tuan rumah Piala Dunia 2022.

Qatar menyatakan bahwa Bin Hammam tak pernah terlibat secara resmi dalam pemilihan tersebut. Ketika dimintai konfirmasi mengenai berita Sunday Times itu, anak Bin Hammam, Hamd Al Abdulla, tidak memberikan komentar.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.