Kompas.com - 31/05/2015, 17:07 WIB
Pintu gerbang Kantor PSSI di Senayan, Jakarta, disegel oleh massa dari Pecinta Sepakbola Indonesia, Minggu (19/4/2015). Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi menjatuhkan sanksi administratif kepada PSSI yang isinya memutuskan pemerintah tidak mengakui seluruh kegiatan PSSI, termasuk hasil KLB di Surabaya yang memilih kepengurusan periode 2015-2019. KOMPAS / AGUS SUSANTOPintu gerbang Kantor PSSI di Senayan, Jakarta, disegel oleh massa dari Pecinta Sepakbola Indonesia, Minggu (19/4/2015). Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi menjatuhkan sanksi administratif kepada PSSI yang isinya memutuskan pemerintah tidak mengakui seluruh kegiatan PSSI, termasuk hasil KLB di Surabaya yang memilih kepengurusan periode 2015-2019.
|
EditorAry Wibowo
MALANG, KOMPAS.com - Ketua Tim Kerja Monitoring Persiapan Asian Games 2018 bentukan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Syaifuddin Munis, menilai sanksi FIFA terhadap Indonesia merupakan langkah baru untuk memperbaiki berbagai persoalan sepak bola Indonesia.

Pernyataan itu disampaikan Syaifuddin ketika ditemui Kompas.com di Malang, Jawa Timur, Sabtu (31/5/2015). Menurutnya, pemerintah harus segera menjadikan putusan FIFA tersebut sebagai momentum membenahi PSSI.

"Presiden Joko Widodo, sangat mendukung penuh kebijakan Menpora untuk pembenahan sepak bola dan pembentukan tim transisi untuk terus melakukan pembenahan total pada sistem tata kelola sepak bola Indonesia. Karenanya, Pembekuan dan jatuhnya sanksi FIFA terhadap PSSI itu bagaimana dijadikan momentum babak baru untuk membenahi sistem tata kelola sepak bola Indonesia yang lebih profesiobal dan berkualitas," katanya.

Momentum itu, lanjut Munis, harus diapresiasi oleh seluruh masyarakat agar reformasi sepak bola di Indonesia bisa secepatnya berjalan. Reformasi itu menurutnya bisa dimulai dari tata kelola organisasi hingga sistem pembibitan muda.

"Perguliran sistem kompetisi harus dilakukan secara sistematis dan menyentuh semua level pembinaan. Mulai dari pembinaan kompetisi amatir antar kampung atau desa, antar siswa, antar kampus di Perguruan Tinggi, antar komunitas pemuda profesi hingga pembinaan klub-klub profesional yang menjadi tumpuan kehidupan bagi para atlet sepak bola berprestasi," harap Syaifuddin.

"Masyarakat sepak bola harus mengapresiasi kebijakan Menpora dan dukungan tegas Presiden Jokowi yang sudah memberikan kepastian untuk pembenahan total sistem tata kelola sepak bola baru Indonesia," katanya.

Lebih lanjut, Syaifuddin menegaskan, kebijakan pembekuan PSSI dan Pembentukan Tim Transisi oleh Kemenpora juga merupakan pintu positif bagi momentum ruang ekspresi rakyat dan publik pecinta sepak bola Indonesia. Menurutnya, masyarakat Indonesia saat ini sudah jenuh karena merindukan prestasi sepak bola Indonesia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Rakyat Indonesia harus optimistis karena sepak bola Indonesia jika dikelola secara baik, benar dan profesional, tim merah putih akan meraih prestasi di level dunia. Tetapi, upaya itu jelas tidak instan. Semoga tim merah putih nantinya, bisa berprestssi seperi ketika timnas Pra-Piala Dunia 1986 yang sempat menjuarai Grup A di level Asia, juara Piala Kemerdekaan 1987, juara SEA Games 1987 di Jakarta dan di SEA Games Manila 1991," tuturnya.

Tidak hanya di level senior, tambah Syaifuddin, kesebelasan pelajar Indonesia juga pernah meraih juara Asia 2 kali pada tahun 1985 dan tahun 1987 dibawah pelatih Bockard Pape dari Jerman dan kapten Frans Sinatra Howae. Oleh karena itu, ia berharap pemerintah dapat serius membenahi sepak bola Indonesia hingga ke level amatir.

"Yang jelas, sepak bola bukan milik segelintir orang, tetapi milik bangsa Indonesia, milik rakyat Indonesia. Kalau sistem tata kelola yang dirancang oleh tim transisi dan dibawah pembinaan Kemenpora sudah berjalan aktif dan normal, kita optimistis pemerintah pasti akan melakukan komunikasi yang lebih fresh dan lebih progres dengan AFF, AFC dan FIFA," kata Syaifudin.

"Rakyat Indonesia tak harus kecewa dan terlena tanpa semangat untuk memperbaiki sepak bola Indonesia. Saatnya menuju babak baru sepak bola Indonesia yang lebih baik," tambahnya.

FIFA menjatuhkan sanksi terhadap Indonesia setelah menggelar emergency meeting Komite Eksekutif di Zurich, Swiss, Sabtu (30/5/2015). Putusan itu diketahui melalui surat yang dikirimkan Sekretaris Jenderal FIFA, Jerome Valcke. [Baca: Isi Lengkap Surat Sanksi FIFA untuk Indonesia]



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.