Kompas.com - 03/07/2014, 17:18 WIB
EditorAloysius Gonsaga AE

Orang memang patut khawatir jika mengamati permainan Brasil sampai babak 16 besar. Dalam laga pembuka, Neymar dan kawan-kawan sempat dibuat repot oleh Kroasia. Mereka baru bisa keluar dari kebuntuan hanya karena aksi diving Fred di kotak penalti Kroasia. Wasit Jepang, Yuichi Nishimura, memberikan hadiah penalti bagi Brasil. ”Jika diving itu ditoleransi, bisa terjadi 100 kali penalti di Piala Dunia ini. Kalau begitu, lebih baik piala langsung diserahkan kepada Brasil saja,” kata Niko Kovac, pelatih Kroasia, jengkel.

Brasil kemudian ditahan seri 0-0 oleh Meksiko. Setelah menunjukkan keampuhannya dengan menang 4-1 atas Kamerun, di perdelapan final Neymar dan kawan-kawan kembali membuat publik Brasil gemetar. Pada menit ke-119, pemain Cile, Mauricio Pinilla, melakukan tendangan spektakuler. Hanya kurang 4 sentimeter, bola Pinilla itu akan masuk ke gawang Julio Cesar. Hal itu tidak terjadi. Bola membentur gawang. Andaikan tidak tertolong oleh gawang itu, akan terjadilah bencana di Stadion Mineirao di Belo Horizonte itu.

Bencana itu mungkin akan bernama Mineirazo, yang mengingatkan kembali akan tragedi Maracana, yang di Brasil dikenang sebagai Maracanazo.

Brasil menjadi juara dunia di Swedia (1958), Cile (1962), Meksiko (1970), Amerika Serikat (1994), dan Korea Selatan-Jepang (2002). Justru ketika menjadi tuan rumah 1950, mereka gagal menjadi juara karena tragedi Maracana. Jika kali ini gagal seperti 64 tahun lalu, ini benar-benar bencana. Soalnya di Brasil, Piala Dunia kali ini tak hanya menjadi perkara bola, tetapi juga perkara politik.

Menurut Mirian Goldenberg, antropolog sosial di Universitas Rio de Janeiro, sekarang di Brasil orang sedang akrab dengan kata imagina na copa. Artinya kurang lebih: coba Anda bayangkan, apa saja yang terjadi menjelang Piala Dunia ini? Inilah yang terjadi: proyek bangunan belum jadi, kemacetan di jalan, inflasi, pelacuran anak-anak, kemiskinan, dan anak-anak gelandangan. Bahkan, kaum menengah yang punya uang pun tak dapat memperoleh pelayanan kesehatan memadai karena belum tersedianya fasilitas-fasilitas kesehatan.

Mengapa uang besar-besaran digunakan untuk membangun stadion mewah, bukan untuk membangun jalan, rumah sakit, dan sarana pendidikan?

Rakyat Brasil mencintai bola. Tetapi, sebagian mereka tak mencintai Piala Dunia 2014 karena dianggap melawan keadilan yang mereka dambakan. Ketika Piala Dunia dilangsungkan di luar Brasil, nyaris tak ada yang serius mengaitkan bola dengan persoalan sosial, seperti kemiskinan atau hak-hak warga sipil yang terabaikan. Justru ketika Brasil jadi tuan rumah, bola dikaitkan dengan masalah itu semuanya. Baru kali ini di Brasil, tiba-tiba bola menanggung beban sosial dan politik.

Seandainya Brasil juara, beban sosial dan politik itu tetap menjadi persoalan. Apalagi jika Brasil kalah di rumahnya sendiri, ini sungguh krisis yang bisa dijadikan alasan untuk makin menentang pemerintah. Karena itu, tidak hanya demi bola, demi politik pun Brasil tak boleh lagi mengalami tragedi Maracana.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kata Thomas Doll soal Rivalitas Persija-Persib: Seperti Derbi di Eropa

Kata Thomas Doll soal Rivalitas Persija-Persib: Seperti Derbi di Eropa

Liga Indonesia
Ciri Khas Pukulan Lob dalam Bulu Tangkis

Ciri Khas Pukulan Lob dalam Bulu Tangkis

Sports
Ketika Herry IP 'Semprot' Ganda Putra Jepang yang Bikin Fajar Alfian Cedera di Final Thailand Open...

Ketika Herry IP "Semprot" Ganda Putra Jepang yang Bikin Fajar Alfian Cedera di Final Thailand Open...

Badminton
3 Posisi untuk Pemain Asing Persija Jakarta

3 Posisi untuk Pemain Asing Persija Jakarta

Sports
Shin Tae-yong Mau Timnas Indonesia 'Berhias' Emas di SEA Games 2023

Shin Tae-yong Mau Timnas Indonesia "Berhias" Emas di SEA Games 2023

Liga Indonesia
Jejak Liverpool di Final Liga Champions: Antara Hesyel, Istanbul, dan Athena

Jejak Liverpool di Final Liga Champions: Antara Hesyel, Istanbul, dan Athena

Liga Champions
Kala Guratan Seniman Bersatu dalam Gelora Prestasi Timnas Futsal dan Garuda Inaf...

Kala Guratan Seniman Bersatu dalam Gelora Prestasi Timnas Futsal dan Garuda Inaf...

Liga Indonesia
Jelang Liga 1 2022 - PT LIB Berencana Syaratkan Vaksin 2 Tahap untuk Suporter Beli Tiket Laga

Jelang Liga 1 2022 - PT LIB Berencana Syaratkan Vaksin 2 Tahap untuk Suporter Beli Tiket Laga

Liga Indonesia
Puas dengan 8 Pemain Baru, Bali United Isyaratkan Akhiri Perburuan

Puas dengan 8 Pemain Baru, Bali United Isyaratkan Akhiri Perburuan

Liga Indonesia
Yeremia Rambitan Bersalah, Menyesal, dan Minta Maaf

Yeremia Rambitan Bersalah, Menyesal, dan Minta Maaf

Sports
Menjaring Atlet Lewat Borobudur Marathon 2022

Menjaring Atlet Lewat Borobudur Marathon 2022

Sports
Kondisi Fisik Belum Ideal, Persebaya Tingkatkan Kebugaran Pemain

Kondisi Fisik Belum Ideal, Persebaya Tingkatkan Kebugaran Pemain

Liga Indonesia
Formula E Jakarta, Kenapa Balapan Digelar di Sirkuit Perkotaan?

Formula E Jakarta, Kenapa Balapan Digelar di Sirkuit Perkotaan?

Sports
Liverpool Vs Real Madrid, Ancelotti Beri Sinyal Mainkan Hazard dan Bale

Liverpool Vs Real Madrid, Ancelotti Beri Sinyal Mainkan Hazard dan Bale

Liga Champions
Sir Alex Ferguson dan Juergen Klopp dalam Satu Baris

Sir Alex Ferguson dan Juergen Klopp dalam Satu Baris

Sports
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.