Kompas.com - 18/07/2013, 05:01 WIB
Presiden FIFA Sepp Blatter. Gambar diambil di Rio de Janeiro, Brasil, Senin (1/7/2013) setelah berakhirnya Piala Konfederasi 2013. YURI CORTEZ / AFP Presiden FIFA Sepp Blatter. Gambar diambil di Rio de Janeiro, Brasil, Senin (1/7/2013) setelah berakhirnya Piala Konfederasi 2013. YURI CORTEZ / AFP
|
EditorHery Prasetyo
NYON, KOMPAS.com — Presiden FIFA, Sepp Blatter, mengakui ikut andil bersalah dalam menentukan Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022 karena tak mempertimbangkan cuaca. Ia mengusulkan agar jadwal Piala Dunia 2022 diubah sehingga bisa digelar pada musim dingin.

Qatar terpilih sebagai tuan rumah iala Dunia 2022 pada pemilihan tahun 2010. Saat itu, panelis tak terlalu memperhitungkan cuaca pada musim panas. Apalagi, tuan rumah meyakinkan akan memasang pendingin di setiap stadion. Namun, itu ternyata tak cukup karena Piala Dunia merupakan festival yang juga terjadi di luar stadion.

"Piala Dunia harusnya sebuah festival buat rakyat. Karena itu, Anda tak bisa bermain sepak bola di musim panas (di Qatar)," kata Blatter dalam konferensi di Kitzbuehel, Austria, Rabu (17/7/2013).

Soal janji panitia memasang pendingin di stadion, Blatter mengatakan, "Anda bisa mendinginkan stadion, tapi tak bisa mendinginkan seluruh negeri. Anda juga tak bisa dengan mudah mendinginkan suasana Piala Dunia. Para pemain harus bisa bermain dalam kondisi terbaik agar Piala Dunia berlangsung bagus."

Maret lalu, Blatter mengatakan, Piala Dunia harus digelar pada bulan Juni dan Juli. Namun, khusus Qatar, ia membuka kemungkinan untuk diubah waktunya demi menghindari temperatur yang sangat tinggi. Perubahan waktu harus didiskusikan secara detail dan mempertimbangkan banyak hal.

"Kami harus melindungi partner, sponsor kami, dan partner televisi. Kami harus sangat kuat tentang hal ini. Kita masih memiliki cukup waktu. Saya akan membuka diskusi di tingkat Komite Eksekutif (FIFA) pada Oktober nanti," jelasnya.

"Komite Eksekutif akan mengikuti proposal saya. Kemudian, kami sudah harus membahas topik ini," tambahnya.

Mengubah waktu penyelenggaraan Piala Dunia dari musim panas ke musim dingin bukan perkara mudah. Sebab, sebagian besar kompetisi antarklub di hampir semua negara peserta masih berlangsung. Maka, jika diubah dan disetujui, kompetisi lokal terpaksa harus berhenti setidaknya dalam enam pekan untuk memberi kesempatan timnas melakukan persiapan dan bermain di Piala Dunia.

"Kami harus mendapat dukungan untuk memainkan Piala Dunia di musim dingin dan memulai bekerja sekarang untuk mengetahui apa dampaknya pada kalender internasional. Ini hanya terjadi dalam satu tahun. Setelah itu, semua berjalan normal lagi. Saya mendukung ide ini," tegasnya. (RTR)Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.