Kompas.com - 11/05/2013, 09:03 WIB
EditorI Made Asdhiana

AKHIR abad ke-16, eksotika Bali dengan berbagai ritualnya yang semarak mulai diketahui para penjelajah Barat. Kontak pertama Bali dengan Belanda terjadi ketika tiga kapal di bawah komando Cornelis de Houtman tiba tahun 1597 dalam perjalanan ke Maluku mencari rempah. Para pelaut Belanda itu terkesan dengan kemewahan Kerajaan Gelgel, tradisi Hindu yang hidup, dan keramahan penduduknya. ”Mereka menyuguhkan air minum dan olahan daging babi yang lezat,” tulis penulis Jacob Kackerlack yang ikut dalam pelayaran tersebut (A Vickers, 2012).

De Houtman bukanlah orang Belanda pertama yang datang ke Bali. Sebelumnya, petualang Inggris, Sir Francis Drake, pernah singgah di Bali tahun 1580. Namun, ekspedisi De Houtman memberikan gambaran detail pertama bangsa Eropa tentang keelokan Bali. Buat Belanda, ekspedisi itu tidak menguntungkan secara ekonomi karena Bali tidak memiliki rempah-rempah yang mereka cari. Tanpa rempah, Bali tidak menarik bagi Eropa. Itu sebabnya selama dua abad berikutnya, kabar tentang Bali tidak banyak terdengar lagi di Eropa.

Kalaupun ada, kabar yang tersebar, lebih pada soal perdagangan budak di Bali, kebiadaban penduduknya yang suka menjarah kapal perang, raja yang mengumbar nafsu, dan upacara pembakaran mayat bangsawan yang diikuti dengan pengorbanan diri janda-janda dan abdi-abdinya. Pandangan khas orientalis semacam itu antara lain disebarkan Pierre Dubois, utusan Pemerintah Hindia Belanda yang dikirim ke Bali tahun 1827, untuk merekrut budak guna dijadikan tentara (A Vickers).

Persaingan dengan Inggris pada abad ke-19 membuat Belanda melirik kembali Bali yang sangat dekat dengan Jawa. Setelah mengirim tujuh ekspedisi mulai tahun 1850, Belanda menguasai seluruh Bali tahun 1908. Serangan Belanda mendapat perlawanan yang sangat keras dan berdarah-darah dari penguasa Bali. Para raja, pendeta, dan prajurit memilih mati dalam ritual pengorbanan daripada takluk kepada Belanda. Peristiwa itu dikenal dengan perang puputan atau perang sampai titik darah penghabisan.

Penaklukan yang memakan banyak korban itu membuat gempar dunia internasional dan membuat malu pemerintah kolonial. Agar kekejaman itu dilupakan orang, Belanda melancarkan politik pencitraan melalui kebijakan pelestarian budaya Bali dan promosi pariwisata. Politik pencitraan serupa juga dilakukan pemerintahan Orde Baru untuk memulihkan citra buruk akibat kelahirannya yang berdarah-darah. Dengan mengembangkan pariwisata, Indonesia tampil dalam citra negara yang terbuka (M Picard). Selain itu, tentu saja ada motif ekonomi, yakni menambah pundi-pundi devisa dari sektor pariwisata.

Segera setelah berkuasa, Belanda merumuskan citra Bali sebagai ”museum hidup” kebudayaan Hindu Jawa yang belum tersentuh modernitas. Citra itu disebarkan dan direproduksi lewat brosur-brosur pariwisata. Yang pertama muncul tahun 1914 dalam bentuk sederhana dan minim informasi soal Bali. Brosur-brosur lainnya yang muncul tahun 1923 telah menyertakan penjelasan lebih lengkap tentang sejarah Bali, kehidupan masyarakatnya hingga upacara ngaben.

Para pelancong generasi awal pun berdatangan ke Bali. Untuk mendukung pariwisata tahun 1928, Belanda menyulap rumah peristirahatan pemerintah di Denpasar menjadi Bali Hotel, hotel pertama dan satu-satunya saat itu. Sejumlah turis pertama memilih menetap di Bali. Kebanyakan dari mereka adalah cendekiawan dan seniman yang merasa menemukan surga terakhir di Bali. Dua di antaranya yang paling penting adalah pelukis Belanda, WOJ Nieuwenkamp, dan fotografer Jerman, Gregor Krause.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Keduanya mengekspos keindahan alam dan keelokan tubuh perempuan Bali yang masih bertelanjang dada. Daya tarik lukisan dan foto kedua seniman itu berperan besar dalam menarik banyak orang untuk datang ke Bali. Salah seorang di antaranya seniman Jerman, Walter Spies, yang akhirnya memilih menetap di Bali tahun 1927.

Selanjutnya, dia menjadi pintu masuk bagi banyak seniman dan antropolog dari dunia Barat yang datang menyusul ke Bali, seperti pelukis Meksiko, Miguel Covarrubias; antropolog Amerika Serikat, Margaret Mead; sutradara hingga bintang film Charlie Chaplin yang datang tahun 1940-an.

Tidak hanya itu, Spies bersama pelukis Rudolf Bonnet memengaruhi evolusi seni di Bali. Atas bantuan mereka, banyak seniman Bali yang nama dan karyanya dikenal di dunia.

Dalam level yang berbeda, ada banyak turis asing yang juga berperan memopulerkan berbagai aspek kebudayaan Bali, termasuk kulinernya. Salah seorang di antaranya Janet de Neefe—turis Australia yang mengaku jatuh hati pada Bali setelah lidahnya berkenalan dengan nasi goreng bali dan sate lilit yang dia cicipi ketika pertama kali berkunjung ke pulau itu tahun 1974.

Sejak saat itu, hasratnya untuk mempelajari masakan Bali dan tradisinya terus berkobar. Untuk itu, ia memilih menetap di Bali sampai sekarang. Ia membuka restoran masakan Bali yang menjadi referensi banyak turis asing, membuka kelas masak masakan Bali nyaris setiap hari, dan menulis beberapa buku tentang masakan Bali yang diterbitkan di luar negeri. Boleh dikata ia menjadi jembatan antara cita rasa kuliner Bali dan lidah orang asing.

Pada akhirnya, catatan perjalanan, lukisan, foto, film, buku hingga resep masakan tentang Bali yang disebarkan turis-turis di atas, disadari atau tidak, memperkuat citra Bali sebagai ”Taman Firdaus”. Meski kenyataannya, Bali di era posmo amat berbeda dengan Bali di abad ke-14. Begitu banyak perubahan yang sesungguhnya terjadi di Bali. Itu sebabnya sejumlah cendekiawan yang menyadari hal itu menggugat citra surgawi Bali. Citra tersebut dianggap hasil persekongkolan antara pemerintahan kolonial, antropologi budaya, dan badan promosi pariwisata.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    26th

    Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.