Kompas.com - 20/01/2013, 19:40 WIB
EditorNasru Alam Aziz

KOMPAS.com -- Pengalaman yang cukup panjang berkiprah di persepakbolaan nasional membuat Bambang Pamungkas semakin tahu, bahwa tidak semua pengurus sepakbola, termasuk di PSSI, murni ingin memajukan sepakbola negeri ini. Hal itu membuat dia kehilangan respek pada sebagian dari mereka.

Di sisi lain, Bepe juga mengevaluasi diri sendiri dan mengakui belum bisa menyumbang prestasi yang berarti bagi tim nasional dalam bentuk gelar juara. Seperti yang sering dikemukakannya dan akan terus dipegangnya, dalam situasi seperti itu ia merasa sebagai generasi yang gagal. Namun, tekadnya untuk menorehkan gelar bagi sepak bola negeri ini tidak lekang, sekalipun saat ia gantung sepatu. Berikut wawancara lanjutannya:

Anda pernah mengalami timnas di masa empat kepengurusan PSSI, mulai Azwar Anas, Agum Gumelar, Nurdin Halid, dan sekarang Djohar Arifin. Bagaimana Anda menilai kinerja mereka dalam menangani timnas?

Seperti saya ceritakan di awal tadi, 10-15 tahun lalu saya begitu nyaman bermain di timnas karena saya tidak tahu banyak. Yang ada di pikiran saya, bermain sebaik mungkin dan berprestasi. Tetapi, seiring berjalannya waktu, saya banyak belajar, banyak menilai, saya banyak melihat apa yang terjadi, saya lebih banyak mengenal person to person pengurus PSSI, yang membuat saya merasa lebih baik tidak tahu daripada tahu. Dan sebagai pemain senior, tentunya saya menjadi tempat keluh kesah pemain-pemain yang bermasalah, baik dengan pengurus tim nasional, dengan klub, dan sebagainya.

Kenyamanan bermain itu menjadi kurang, seiring dengan berjalannya waktu. Karena banyak hal yang harus saya kerjakan, banyak hal yang saya tahu sehingga mengurangi respek saya pada orang-orang yang sebelumnya sangat saya hargai. Tetapi, itu proses di mana proses pembelajaran bagi saya, proses di mana pada akhirnya saya mentransformasi sebagai pemain, dari pemain biasa menjadi orang yang menjadi tempat keluh kesah pemain dan mencoba menyelesaikan itu. Ini proses dan perjalanan yang mau tidak mau saya jalani.

Sejak kapan persisnya Anda tahu person per person pengurus PSSI sehingga Anda kehilangan respek pada sebagian pengurus PSSI?

Seiring dengan berjalannya waktu, dengan begitu banyaknya permasalahan di Indonesia, tentu kita bisa melihat secara kasat mata kita bisa melihat setiap orang, setiap individu yang bekerja mengatasnamakan sepakbola sebagai sebuah hal yang mereka cintai melakukan kebijakan. Kita bisa melihat apakah kebijakan itu pure demi untuk kemajuan sepakbola atau tidak. Jadi, kurang lebihnya sejak 2007 (sejak Piala Asia).

Anda sering mengatakan jadi generasi yang gagal karena tidak memberi prestasi bagi timnas. Tidak menyesal mengakhiri karier sebagai generasi yang gagal?

Lambat laun memang saya harus berhenti pada akhirnya. Saya harus menanggalkan seragam kebesaran itu. Tetapi, saya pernah mengatakan, ketika saya pada akhirnya gagal mempersembahkan gelar buat Indonesia, maka saya akan berteriak, saya adalah generasi yang gagal. Dan saya masih commit dengan hal itu.

Tetapi, pada akhirnya saya berpikir bahwa mungkin sebagai pemain saya tidak bisa memberikan sesuatu pada bangsa ini, tetapi mungkin sebagai pelatih saya bisa mungkin memberikan sesuatu nanti. Karena proses itu akan berjalan, ketika berhenti menjadi pemain sepakbola saya akan menjadi pelatih, dan sebagainya. Artinya, masih banyak hal di mana saya bisa memberikan sesuatu buat bangsa ini, tidak hanya sebatas sebagai pemain.

Halaman:
Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.