Sukses Bisnis Jilbab Ninja Lewat Agen Online

Kompas.com - 27/08/2011, 15:26 WIB
Editorwawa

KOMPAS.com - Kolaborasi dua perempuan pebisnis online, Muri Handayani (27) dan Dessy Artha (31), berbuah manis. Melalui jilbab ninja produksi konveksi dan industri rumahan di Bandung Utara, Jawa Barat, para perempuan yang berpengalaman di bisnis online ini sukses memasarkan ribuan kerudung bagian dalam, yang dikenal sebagai jilbab ninja. Dengan strategi jitu, ditambah jaringan online yang terbina dengan baik, keduanya berhasil mengembangkan bisnis kerudung melalui jaringan agen dan distributor online.

Handayani yang akrab disapa Hani ini bukan pertamakalinya terjun di bisnis online. Ibu rumah tangga dengan satu anak, Zhafran (9 bulan), ini memulai bisnis online secara personal melalui media sosial Multiply sejak 2008. Begitu pun dengan Dessy, ibu dua anak ini juga menggeluti bisnis online dengan segmen baju anak melalui media sosial yang sama sejak 2007 silam.

Sukses berkat komunitas online
Keberuntungan berlipat justru datang ketika keduanya memutuskan kolaborasi dengan berbisnis online memasarkan produk jilbab ninja. Bisnis juga dijalani dengan berstrategi. Meski produk jilbab ninja sudah banyak di pasaran, Hani dan Dessy menawarkan produk serupa namun dengan kualitas dan tingkat kenyamanan berbeda. Selain menyediakan jilbab berkualitas, keduanya juga memilih skema penjualan, hanya dengan sistem keagenan. Label RaZha kemudian dipilih keduanya, untuk memasarkan jilbab ninja melalui agen online ini.

"RaZha merupakan gabungan nama anak kami, Adhara dan Zhafran. Label kerudung RaZha lahir dari hasil sharing bisnis dengan komunitas perempuan pebisnis online melalui Multiply. Melalui komunitas yang terdiri dari 25 orang inilah kami berjejaring dan berbagi pengalaman.Kami memelajari konveksi melalui teman kami, Nila, yang berpengalaman sebagai produsen baju impor. Sementara melalui teman lainnya lagi, Vita, kami belajar branding terutama soal baju muslim. Melalui para perempuan di komunitas Multiply inilah kami mengembangkan RaZha. Pada akhirnya, mereka juga lah yang menjadi pembeli juga distributor tetap jilbab ninja RaZha," tutur Hani kepada Kompas Female di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Modifikasi tingkatkan kualitas
Hani dan Dessy berkontribusi sama dalam mengembangkan label RaZha. Masing-masing menyumbangkan dana Rp 6 juta untuk memulai bisnis online jilbab ninja. Konsep ATM (amati, tiru, modifikasi) dipraktekkan keduanya.

"Model jilbab ninja sebenarnya sudah ada di pasaran. Namun kami mengubah desain, bahan, dengan kualitas yang lebih baik namun harga kompetitif," tutur Hani menambahkan, jilbab ninja RaZha menggunakan bahan spandek balon berkualitas, yang lebih menyerap keringat, lebih tebal dari bahan biasanya, halus, namun nyaman digunakan.

Selain itu, rancangan jilbab ninja RaZha juga memerhatikan kualitas jahitan terutama tingkat kerapihannya. Agar pengguna merasa nyaman, jilbab ninja ini tersedia dua pilihan ukuran menyesuaikan dengan bentuk wajah.

Alhasil, dengan modifikasi ini, jilbab ninja RaZha menarik minat para pengguna busana muslim, juga para perempuan yang baru belajar berbusana muslim. "Banyak pengguna busana muslim pemula yang merasa terbantukan mengenakan jilbab dengan produk RaZha," lanjutnya.

Dengan modal Rp 12 juta, Razha memproduksi sekitar 2.000 potong jilbab ninja pada Mei 2011 lalu. Lantaran banyak peminat, produk berkualitas, juga mekanisme penjualan keagenan online, jilbab ninja RaZha mencatatkan penjualan berlipat.

"Kami menjual online namun bukan ritel tetapi melalui lima distributor dan 26 agen, semuanya terhubung secara online dan mereka membeli putus. Promosi dari jaringan pertemanan melalui media sosial lebih efektif, selain juga kami memasang iklan di Toko Bagus," jelas Hani yang mendapat tugas sebagai marketing dan promosi. Sementara Dessy fokus mengembangkan teknis di bidang teknologi informasi, sekaligus bertugas survei pasar.

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X