BPPUM Harus Digiatkan Kembali

Kompas.com - 10/07/2011, 02:29 WIB
Editor

Jakarta, Kompas - Pengurus PSSI yang baru diharapkan segera bergerak merevitalisasi peran Badan Pengembangan dan Pembinaan Usia Muda. Pembinaan pemain usia dini secara terarah dan teratur akan mampu memberikan kontribusi pada persepakbolaan nasional di masa yang akan datang.

Marco Gracia Paulo, Ketua Panitia Soccer Experience-Indonesia Football Academy, dan Taufik Jursal Effendi, Ketua Asosiasi Sepak Bola Indonesia, mengatakan itu secara terpisah, Sabtu (9/7).

Marco mengatakan, selama ini berbagai sekolah sepak bola (SSB) hingga perusahaan swasta mengadakan pertandingan sepak bola secara sporadis. Sebagian terbesar bukan berbentuk liga, pertandingan berkala, dan terus-menerus selama beberapa pekan.

”Sebenarnya cukup ramai kegiatan sepak bola di Jakarta atau di daerah. Mungkin hampir setiap bulan ada. Di Jakarta, hampir setiap pekan ada kegiatan. Hal seperti ini yang perlu diarahkan,” tutur Marco.

Namun, menurut Taufik, seluruh kegiatan itu tidak mengerucut kepada pola pembinaan terarah. Hal ini dibuktikan dengan prestasi sepak bola Indonesia yang masih jauh tertinggal dibandingkan dengan negara di kawasan Asia Tenggara.

”Skema pembinaan sepak bola usia dini di Indonesia sampai saat ini belum ada petanya. Pun jika sudah ada, hal itu belum pernah dilakukan optimal,” tuturnya.

Tidak terorganisasinya pola pembinaan di pusat, menurut Taufik, tentu berimbas pada pembinaan di daerah. Akibatnya, tidak banyak pemain sepak bola dengan kemampuan yang mumpuni bisa muncul di tim nasional. ”Ini yang harus segera diubah bila ingin Indonesia berprestasi di tingkat kawasan dan internasional,” kata Taufik.

Komunikasi

Pembina SSB Putra Agung, Jakarta Selatan, Chairuddin, seusai babak final turnamen sepak bola usia dini Putra Agung di lapangan Asrama Batalyon Zeni Konstruksi 14 SWC, Jagakarsa, Jakarta Selatan, mengatakan, pihaknya sama sekali belum pernah berkomunikasi dengan Badan Pengembangan dan Pembinaan Usia Muda (BPPUM) PSSI, badan yang dibentuk untuk mengurusi masalah pembinaan pemain usia muda di Indonesia.

Menurut Marco dan Taufik, sumbatan komunikasi antara BPPUM PSSI dan manajemen SSB harus dibuka sejak dini. Kepengurusan PSSI yang baru harus lebih aktif turun ke lapangan melihat pembinaan usia dini ketimbang duduk berpangku tangan, termasuk memberikan pelatihan kepada pelatih SSB.

”Tanpa program kepelatihan dan kompetisi berjenjang yang mumpuni, jangan harap ada bibit pemain bagus yang muncul,” kata Taufik. (MHD)



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X