KOMPAS.com — Marcello Lippi salah satu pelatih terbaik Italia. Bahkan, dia mungkin terbaik saat ini. Selain sukses bersama klub, terutama Juventus, dia juga mampu membawa timnya juara Piala Dunia 2006.
Kesuksesannya membuat Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) memercayainya untuk duduk di kursi pelatih tim nasional (timnas) pada 2004-2006. Ia menjawab tuntas kepercayaan itu dengan mengantar Italia menjuarai Piala Dunia 2006 di Jerman.
Sepeninggal Lippi, "Gli Azzurri" ditangani Roberto Donadoni. Namun, karena hasil kurang memuaskan pada Piala Eropa 2008, FIGC meminta Lippi untuk kembali melatih timnas. Lippi menyanggupinya.
Namun, ternyata tak mudah bagi Lippi untuk menyusun kekuatan seperti 2006. Bertambah tuanya pemain yang dulu mengangkat Piala Dunia di Jerman menjadi salah satu faktor yang membuat performa Italia sempat naik-turun.
Sejumlah kalangan menilai, inilah waktunya Lippi memberi kesempatan kepada pemain yang lebih muda. Namun, Lippi menolak. Menurutnya, tak ada cukup waktu untuk membangun konsolidasi dengan pemain baru. Ia yakin, masalah fisik bisa diatasi dengan mental dan pengalaman.
Lippi sempat nyaris terjebak keyakinannya sendiri, ketika Italia tampil buruk di Piala Konfederasi Afrika Selatan 2009. Namun, blunder itu telah membuat publik Italia berseru semakin lantang meminta Lippi melakukan regenerasi.
Namun, dengan segudang prestasi, Lippi lebih percaya terhadap kemampuannya sendiri. Meski memberi peluang kepada sejumlah pemain muda, seperti Giuseppe Rossi, Lippi tetap membangun skuad utama berdasar "pengalaman".
Suara sumbang kemudian agak mereda ketika Italia memastikan diri lolos ke putaran final Piala Dunia sebagai juara Grup 8 Zona Eropa dengan rekor tujuh kemenangan dan tiga kali seri.
Itu tak berarti Italia berada dalam kondisi terbaik untuk mempertahankan gelar juara. Fabio Cannavaro, yang diplot sebagai koordinator pertahanan, sedang mengalami penurunan performa di Juventus. Di lini depan, Italia juga tak punya pelapis atau tandem sepadan untuk Alberto Gilardino.
Untuk lini tengah, Lippi masih bisa berharap kepada Daniele De Rossi atau Andrea Pirlo. Namun, rapuhnya benteng dan tumpulnya ujung tombak akan memberi beban terlalu berat kepada lini tengah. Tentu saja, ini akan mengganggu fokus permainan.
Membandingkan kondisi itu dengan calon-calon lawan Italia di Grup F, yaitu Slowakia, Paraguay, dan Selandia Baru, Italia memang masih bisa optimistis untuk lolos. Bermodal nama besar, mereka mungkin bisa membuat Selandia Baru atau Slowakia menggigil. Namun, sejauh apa Italia bisa melangkah?
Yang jelas, bila Lippi masih memaksakan kekuatan saat ini untuk ditampilkan di Afrika Selatan, sulit bagi Italia untuk bertahan. Namun, itulah salah satu kekuatan Lippi. Dia punya kepercayaan diri yang kuat terhadap keputusannya. Sejauh ini, sikapnya sering benar dan mendatangkan gelar. Akankah keyakinannya masih benar? (*)
TUR
Editor: hprDibaca : 4022 | Dikomentar : 1