MANCHESTER, KOMPAS.com - Mantan pelatih Manchester City, Mark Hughes, merasa dikhianati karena City memecatnya secara mendadak, tanpa pembicaraan awal. Menurutnya, klub sudah jauh-jauh hari merencanakan pemecatan itu, tanpa sepengetahuan dirinya.
Hughes dipecat beberapa saat setelah mengantarkan anak-anak didiknya menang 4-3 atas Sunderland, dalam duel lanjutan Premier League, Sabtu (19/12/2009). Keputusan itu cukup aneh untuk disebut mendadak, karena bersamaan dengan pengumuman pemecatan Hughes, City juga menyatakan telah mengontrak Roberto Mancini sebagai pelatih baru.
"Saya diinformasikan setelah pertandingan hari Sabtu melawan Sunderland, bahwa kontrak saya dengan Manchester City diputus. Saya tak diberi peringatan awal mengenai keputusan klub itu. Mengingat cepatnya klub mengikat pengganti saya, tampaknya klub telah memutuskan sejumlah pertimbangan beberapa waktu lalu," ungkapnya.
Lebih jauh, Hughes mengaku mengerti, bahwa semua orang di City ingin melihat tim meraih lebih banyak kemenangan. Namun, sejauh ini, semua berjalan sesuai rencana dan terlalu cepat menyimpulkan bahwa ia telah gagal.
"Saya kecewa karena tidak diberi kesempatan melihat rencana saya di klub hingga tuntas. Awal musim ini, saya bicara dengan pemilik dan disetujui bahwa target realistis musim ini adalah finis di urutan keenam di Premier League atau mengoleksi 70 poin di akhir musim," ulasnya.
"Sementara semua orang di klub ingin melihat lebih banyak kemenangan, kami telah mencapai target. Kami juga mencatatkan kemenangan hebat atas Arsenal dan Chelsea. Saya sangat bangga telah membawa klub ini kepada masa paling penting untuk mengubah sejarah," tandasnya.
Sementara itu, sebelumnya City sendiri mengaku tidak puas dengan posisi klub yang berada di posisi keenam dengan 29 poin. Mengingat klub sudah mengeluarkan uang senilai lebih dari Rp 1,6 triliun, mereka menilai, City seharusnya lebih baik dari itu. (SKY)
TUR
Editor: tjaturDibaca : 40584 | Dikomentar : 14