ROMA, KOMPAS.com - Ketua Asosiasi Wasit Italia, Pierluigi Collina, mengatakan, wasit membutuhkan teknologi mengurangi kemungkinan terjadinya kesalahan pengambilan keputusan, terutama yang berakibat fatal. Dengan sendirinya, kredibilitas wasit akan terangkat dan tak selalu dijadikan kambing hitam ketika keputusan mereka mengundang kontroversi.
Pernyataan itu disampaikan berkaitan dengan handsball Thierry Henry, yang terjadi di leg kedua babak play-off kualifikasi Piala Dunia 2010 Afrika Selatan, di Stade de France, Paris, Rabu (18/11). Gol itu berujung gol penyama kedudukan 1-1 sehingga Perancis masuk putaran final dengan agregat 2-1.
Hal itu telah mengundang kontroversi besar. Kritik terbesar memang tertuju kepada Henry. Namun, sebagai pengadil lapangan yang keputusannya tak bisa digugat usai laga berakhir, tak luput dari cela. Mereka dituntut untuk tampil sempurna dan harus selalu menangkap setiap peristiwa yang terjadi selama lebih dari 90 menit di seantero lapangan.
Collina berpendapat, tak mungkin seorang wasit bisa mempertahankan fokus mengamati 22 pemain di lapangan seluas 6400-8250 meter persegi selama lebih dari 1,5 jam. Di sinilah, teknologi bisa dan harus mengambil peran.
"Hari ini, teknologi bergerak cepat dibanding bagaimana manusia bisa meningkatkan dirinya sendiri. Solusi harus ditemukan. Saya pikir, hakim-hakim di belakang gawang di Paris bisa membantu wasit untuk melihat apa yang sebetulnya terjadi," ujarnya.
"Insiden henry berlangsung hanya beberapa detik dan wasit mungkin memiliki perasaan tertentu dengan melihat reaksi (terkejut dari pemain Irlandia). Namun, ada saat-saat di mana Anda tidak melihat sesuatu di lapangan," tandasnya. (RAS)
TUR
Dibaca : 7940 | Dikomentar : 4