
OTTO Rehhagel sempat membelalakkan mata dunia ketika dia membawa Yunani menjadi juara Piala Eropa 2004. Waktu itu, pria kelahiran Essen, 9 Agustus 1938 tersebut mampu membuat racikan taktik dan strategi jitu untuk membawa "negeri 1.000 dewa" meraih kesuksesan terbesar sepanjang sejarah negera mereka.
Namun, kisah indah empat tahun lalu itu hilang tak berbekas di Piala Eropa 2008. Racikan Rehhagel sudah tak manjur lagi, sehingga pelatih asal Jerman itu bersama tim nasional Yunani harus lebih cepat mengakhiri kiprah mereka di turnamen tersebut.
Dari dua pertandingan yang sudah dilakoni, Yunani yang tergabung di Grup D selalu kalah. Bahkan, mereka belum mencetak satu gol pun. Ini memberikan bukti, Kind der Bundesliga--julukan Rehhagel karena tampil lebih dari 1.000 kali di Bundesliga, baik sebagai pemain maupun pelatih--sudah kehabisan formula untuk menembus lagi masa kejayaan yang diraih di Portugal tahun 2004 silam.
Ketika melawan Swedia di pertandingan perdana, Rehhagel dinilai salah menerapkan strategi. Memainkan pola 5-4-1, pelatih yang terakhir membawa Kaiserslautern menjadi kampiun Bundesliga musim 1997/98 itu dinilai terlalu bertahan sehingga justru menjadi bumerang karena gawang mereka kebobolan dua kali.
Pada laga hidup-mati melawan Rusia, Minggu (15/6) dinihari WIB, di Stadion Wals-Siezenheim, Rehhagel mengubah gaya permainan tim dengan memakai formasi menyerang 4-3-3. Sayang, dewi fortuna tak berpihak kepada mereka karena meskipun sempat mendominasi pertandingan dan menciptakan beberapa peluang, namun tak satu pun yang menjadi gol.
Justru Rusia yang bisa memaksimalkan sebuah peluang emas. Memanfaatkan kesahalan kiper Antonios Nikopolidis, Konstantin Zyrianov bisa mencetak gol pada menit ke-33, sekaligus mengirim Yunani ke dalam kuburan karena untuk kedua kalinya kalah.
Rehhagel tampak kecewa, namun dia tak mau menyalahkan pasukannya atas prestasi buruk sepanjang Piala Eropa 2008. King Otto--sapaan Rehhagel--, yang sudah memperpanjang kontrak hingga tahun 2010 ini berusaha membesarkan hati Angelos Basinas dkk.
"Para pemain telah menunjukkan semangat bertanding yang luar biasa. Tetapi, kami harus aku lawan (Rusia,red) juga bermain luar biasa. Jadi saya bangga, kami kalah melawan tim yang memang punya kelas dunia," ungkap Rehhagel yang mulai membesut Yunani pada bulan Agustus 2001.
Nah, gagal di Piala Eropa 2008 bukanlah akhir dari pembuktian. Rehhagel masih punya satu kesempatan lagi, yakni membawa Yunani masuk putaran final Piala Dunia 2010. Sanggupkah? (LOU)
Dibaca : 1917 | Dikomentar : 0