
AKHIRNYA Bernd Schuster berhasil juga mewujudkan target juara Divsi Primera La Liga. Kemenangan 2-1 atas Osassuna memastikan Madrid juara Liga Spanyol itu untuk ke-31 kalinya.
Namun, bukan berarti Schuster aman duduk di kursi pelatih Los Merengues. Musim lalu, Fabio Capello juga mempersembahkan gelar Divisi Primera. Tapi, dia langsung dipecat dan diganti Schuster. Alasannya, Madrid tak sekadar butuh kemenangan, tapi juga permainan menyerang yang menghibur.
Itu pula sebabnya, begitu menjadi pelatih Madrid, Schuster menjanjikan gaya permainan Madrid yang berbeda, lebih menyerang dan indah. "Ya, kami akan membeli beberapa pemain dan saya yakin bisa mengubah gaya permainan Madrid. Saya kira, musim ini kita akan mempertahankan gelar Divisi Primera," kata Schuster saat pertama di Madrid.
Sebab itu, dia kemudian menghadirkan trio Belanda: Wesley Sneijder, Arjen Robben dan Roysten Drenthe. Mereka dinilai punya kecepatan dan gaya permainan yang kreatif. Bahkan, dia kemudian mengeluarkan 30 juta euro lagi untuk membeli Pepe.
Jika di awal musim penampilan Madrid buruk bersama Fabio Capello, tapi tidak bersama Schuster. Pelatih asal Belanda yang dikenal rendah hati itu cukup menawan. Madrid menang 6 kali dari 7 pertandingan pertama. Pada Desember 2007, Madrid memimpin klasemen dengan selisih 7 poin, setelah mengalahkan Barcelona 1-0.
Kepercayaan publik dan pers kepada Schuster semakin tinggi. Namun, kekalahan Madrid dari AS Roma di babak 16 besar Liga Champions mulai mengikisnya. Lambat-laun, Schuster mulai dikecam oleh pers. Bahkan, pernah pers mengeluarkan kata-kata meremehkan yang membuatnya tersinggung. Dia pun meninggalkan ruang temu pers dengan muka sewot.
"Jika terjadi seperti ini lagi, saya tak akan mau diwawancarai. Saya kira ada saatnya orang harus saling menghormati. Mereka lupa sedang berbicara dengan pealtih Real Madrid. Tak masalah mereka mau menyebut saya apa. Yang pasti, mereka harus tahu saya orang penting, sangat penting di Madrid," tegasnya.
Kemarahan itu dia jawab dengan permainan Madrid yang semakin meyakinkan pasca kekalahan dari Roma. Di kompetisi lokal, Madrid semakin konsisten meraih kemenangan, hingga meninggalkan rival beratnya, Barcelona.
Dan, kini dia memberi pembuktian besar. Dia setidaknya sudah mampu menyamai prestasi Fabio Capello yang menghadirkan gelar Divisi Primera. Pelatih asal Jerman ini pun kini memiliki prestasi besar. Tak seperti sebelumnya kala masih melatih Fortuna Cologne, Xerez, Levante, Shakhtar Donetsk dan Getafe.
Tapi, buat klub sebesar Madrid, itu belum cukup. Permainan indah dan menyerang yang dia janjikan belum terlalu memuaskan. Publik dan manajemen masih ingin lebih indah. Minimal, mereka ingin memiliki tim seperti saat masih ada Luis Figo dan Zinedine Zidane. Tampil indah, juga mampu juara Divisi Primera dan Liga Champions.
Jika Schuster masih dipertahankan, tantangannya akan sangat besar. Permainan indah dan menghibur masih mutlak. lebih mutlak lagi, Schuster harus membawa Madrid juara Liga Champions. Itu amat berarti sebagai simbol kebesaran klub. Apalagi, madrid sejak lama memimpikan gelar ke-10, setelah sudah mengantongi 9 gelar Liga Champions.
Schuster sadar akan tantangan itu. Maka dia menjawab, "Kami masih dalam proses pembentukan tim yang sempurna. Masih banyak pekerjaan yang musti dilakukan. Kami butuh tambahan pemain. Saya harap, musim depan menjadi tahap kedua dari proyek besar ini," jelasnya.
Musim depan akan sangat krusial baginya. Kemenangan musim ini masih belum cukup. masih banyak yang harus dia buktikan. Jika tidak, madrid termasuk klub yang tak segan-segan memecat pelatih sekaliber apa pun. (HPR)
Dibaca : 3115 | Dikomentar : 3