Konflik Lilipaly-Comvalius dan Insiden Van Persie di Timnas Belanda - Kompas.com

Konflik Lilipaly-Comvalius dan Insiden Van Persie di Timnas Belanda

Anju Christian
Kompas.com - 07/11/2017, 21:45 WIB
Selebrasi empat pemain Bali United: Dias Angga, Sylvano Comvalius, Nick van der Velden, dan Stefano Lilipaly (dari kiri ke kanan) seusai mencetak gol ke gawang Persela Lamongan pada lanjutan Liga 1 musim 2017 di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Minggu (3/9/2017).BolaSport.com/Yan Daulaka Selebrasi empat pemain Bali United: Dias Angga, Sylvano Comvalius, Nick van der Velden, dan Stefano Lilipaly (dari kiri ke kanan) seusai mencetak gol ke gawang Persela Lamongan pada lanjutan Liga 1 musim 2017 di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Minggu (3/9/2017).

KOMPAS.com - Konflik antara dua rekan setim, Stefano Lilipaly dan Sylvano Comvalius, seperti hal yang lumrah bagi pesepak bola berdarah Belanda.

Pemain sekelas Robin van Persie pun kerap tersangkut kasus serupa.

Lilipaly dan Comvalius terlibat pertikaian ketika Bali United melawan PSM Makassar pada laga Liga 1 di Stadion Andi Mattalatta, Senin (6/11/2017).

Ketika paruh pertama memasuki lima menit terakhir, Lilipaly mendapatkan ruang cukup terbuka.

Dia lebih memilih melepaskan tembakan dari luar kotak penalti daripada mengoper kepada Comvalius, yang berdiri bebas di dalam kotak.

Keputusan Lilipaly lantas diprotes oleh Comvalius dengan teriakan dan pukulan ke arah kepala.

Tak senang, Lilipaly balik memarahi sang striker.

Baca juga : PSM Vs Bali United, Lilipaly Baku Pukul dengan Comvalius

Pertikaian keduanya menuai sorotan cukup besar.

Sebab, selain berstatus rekan setim, mereka sama-sama berasal dari Belanda.

Namun, benang merah berupa kesamaan asal sebenarnya juga bisa menjadi alasan untuk memaklumi perkelahian Lilipaly dan Comvalius.

Jangankan mereka berdua, pemain sekelas Robin van Persie juga sempat terlibat kasus serupa sebanyak dua kali.

Striker Belanda, Robin van Persie (kiri), dikawal ketat bek Argentina, Ezequiel Lavezzi (kanan), pada laga semifinal Piala Dunia 2014 di Arena Corinthians, Sao Paulo, Rabu (9/7/2014).AFP PHOTO / GABRIEL BOUYS Striker Belanda, Robin van Persie (kiri), dikawal ketat bek Argentina, Ezequiel Lavezzi (kanan), pada laga semifinal Piala Dunia 2014 di Arena Corinthians, Sao Paulo, Rabu (9/7/2014).

Kasus pertama terjadi ketika Belanda mengarungi partai perempat final Piala Eropa 2008 kontra Rusia.

Van Persie mencoba merebut bola dari Wesley Sneijder, yang hendak melakukan tendangan bebas.

Sneijder merasa tidak terima dan mengatakan, "Sejak sesi latihan, saya ditugaskan mengambil tendangan bebas. Pemain lain tak seharusnya mengambil bola."

Van Persie pun berkilah dengan menyatakan, "Saya mengharapkan eksekusi lebih berkelas dari seorang Sneijder."

Kemudian, pada 2015, Van Persie kembali membuat ulah serupa.

Eks penyerang Feyenoord Rotterdam itu terlibat pertikaian dengan Memphis Depay dalam sesi latihan timnas Belanda.

Akibatnya, dia dicadangkan oleh pelatih untuk laga berikutnya.

Baca juga : Ini Alasan Van Persie Tolak Bermain di Indonesia

Dari beragam kasus tersebut, ada satu pertanyaan, mengapa konflik antar-rekan setim kerap melibatkan pemain Belanda?

Orang Belanda memang mengakui bahwa mereka memang senang berdebat.

Mereka melakukannya karena merasa tahu dalam segala hal.

"Kami orang-orang Belanda memang kepala batu," ujar legenda sepak bola dunia, Johan Cruyff.

"Bahkan, ketika berada di belahan dunia lain pun, kami akan mengajari orang berbuat sesuatu," tutur maestro sepak bola Belanda itu.

(Baca Juga: Stefano Lilipaly, Johan Cruyff, dan Kacamata Family Man)

Johan Cruyff (oranye) berduel dengan Sepp Maier saat Belanda melawan Jerman Barat pada partai final Piala Dunia 1974 di Muenchen, 7 Juli 1974.STAFF/AFP Johan Cruyff (oranye) berduel dengan Sepp Maier saat Belanda melawan Jerman Barat pada partai final Piala Dunia 1974 di Muenchen, 7 Juli 1974.

PenulisAnju Christian
EditorEris Eka Jaya
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM