Kisah Pemain yang Tinggalkan Man United, Sukses di Amerika Serikat - Kompas.com

Kisah Pemain yang Tinggalkan Man United, Sukses di Amerika Serikat

Jalu Wisnu Wirajati
Kompas.com - 05/10/2017, 09:12 WIB
Pemain New York City FC, Jack Harrison (kiri), berduel dengan pemain Orlando City, Will Johnson, dalam pertandingan MLS di Orlando City Stadium pada 5 Maret 2017.ALEX MENENDEZ/AFP Pemain New York City FC, Jack Harrison (kiri), berduel dengan pemain Orlando City, Will Johnson, dalam pertandingan MLS di Orlando City Stadium pada 5 Maret 2017.

KOMPAS.com - Nama pemain muda jebolan Akademi Manchester United, Jack Harrison, mendadak diperbincangkan di Inggris terkait pemanggilannya ke timnas U-21.

Jack Harrison, mungkin pencinta sepak bola Tanah Air masih belum familiar dengan nama pemain muda ini berusia 20 tahun ini.

Namun, tidak demikian dengan penggemar New York City FC. Harrison telah menjadi pemain yang dielu-elukan.

Musim ini, Harrison menjalani penampilan gemilang bersama New York City FC. Tampil 32 kali, dia mengemas 10 gol di MLS - Liga Utama Amerika Serikat.

Untuk seorang gelandang serang, jumlah 10 gol itu fenomenal. Apalagi, tahun ini merupakan musim keduanya sebagai pemain profesional.

Penampilan mantan pemain Akademi Manchester United itu pun tak lepas dari pantauan Aidy Boothroyd. Pelatih timnas U-21 Inggris itu pun memanggilnya ke skuad The Young Lions.

Pemanggilan itu diketahui Harrison dari pelatih New York, Patrick Vieira, beberapa saat sebelum timnya bermain imbang melawan Chicago Fire, Minggu (1/10/2017).

Harrison pun mencoba mengabarkan kabar gembira ini kepada sang ibu. Mungkin karena tahu sang anak akan bertanding, ibunya tak meletakkan ponsel dekat-dekat.

"Saya sempat kesulitan menghubungi ibu saya di New York. Namun, butuh 15 menit sampai dia mengangkatnya," tutur pemain kelahiran Stoke, 20 November 1996, itu kepada BBC.

"Saya lalu bercerita bahwa mendapat panggilan timnas. Namun, saya katakan ke dia tak bisa bicara banyak karena akan pemanasan," kata Harrison mengisahkan.

Sang ibu, Debbie, merupakan sosok yang berjasa dalam karier Harrison. Dia membuat keputusan besar ketika memilih pindah ke Amerika Serikat pada 2010.

Padahal, saat itu Harrison masih berstatus pemain Akademi Manchester United, sebuah status bergengsi untuk pemain muda. Tetapi, Harrison justru malah senang.

"Ketika ibu menawarkan ide soal beasiswa sepak bola di Amerika Serikat, saya malah antusias," kata Harrison.

"Bagi banyak pemain muda, hal terpenting adalah kesempatan bermain di tim utama. Banyak dari kami gagal melakukannya," ucapnya lagi.

Setelah tujuh tahun berstatus pemain Akademi Manchester United, Harrison pun pergi ke Amerika Serikat. Dia menimba ilmu formal di Berkshire School, lalu pada 2013 bergabung dengan akademi Manhattan Soccer Club.

"Saya beruntung punya ibu yang memiliki pikiran terbuka soal ide tersebut. Hal tersebut membuka kesempatan besar tak hanya di sepak bola, juga pendidikan formal," ucap Harrison.

"Banyak orang meragukan putusan saya pergi dari Manchester United. Namun, saya senang bisa tetap yakin dengan memilih pergi," kata pemain yang biasa bermain di sisi sayap penyerangan ini.

Pada 2015, Harrison menjadi bagian dari tim Universitas Wake Forest Demon Deacons. Dia tampil 22 kali dan mencetak delapan gol dalam satu musim.

Harrison pun masuk daftar MLS SuperDraft 2016, ajang "jual diri" pemain muda kepada klub-klub profesional Amerika Serikat. Dalam usia 19 tahun dua bulan, dia menjadi pemain termuda di Draft 2016.

Pada 14 Januari 2016, Harrison dipilih Chicago Fire untuk memperkuat timnya. Namun, dia dijual ke New York City dengan imbalan sejumlah uang.

Di New York City, Harrison mendapat kesempatan berharga menimba ilmu dari sejumlah pemain yang pernah merumput di Premier League - kasta teratas Liga Inggris.

Selain dari Patrick Vieira yang merupakan legenda Arsenal dan Manchester City, Harrison juga mendapat tambahan ilmu dari Frank Lampard dan Andrea Pirlo.

"Saya punya pengalaman menarik dengan Lampard. Tahun lalu, dia yang tak bermain dan tengah berada di Inggris, menelepon untuk sekadar memberi ucapan selamat karena saya mencetak gol," kenang Harrison.

Pada musim pertama Harrison, New York gagal pada babak semifinal wilayah MLS. Pada Piala Lamar Hunt, mereka juga langsung kandas karena kalah dari New York Cosmos, rival sekota yang berada satu kasta di bawahnya.

Harrison hanya bisa bermain semusim bersama Lampard yang memutuskan gantung sepatu tahun ini. Namun, hanya dalam satu tahun, dia telah berubah menjadi pemain andalan di The Pigeons.

Sudah 55 kali Harrison membela New York. Dari jumlah itu, dia mencetak 10 gol dan menjadi kreator 14 gol bagi rekan-rekannya.

Prestasi itu pun membuat Harrison dilirik pelatih timnas U-21 Inggris. Lampard pun turut bergembira.

"Prestasi luar biasa bagi Harrison. Saya ikut senang. Kamu pantas mendapatkannya," tulis Lampard di Instagram.

Bergabung ke timnas U-21 Inggris juga membuka pintu karier Harrison. Kesempatan baginya untuk bergabung dengan klub besar Eropa, khususnya di tanah leluhurnya, menjadi semakin terbuka.

"Sebagai pemain, sudah menjadi impian bermain di liga top Eropa. Akan menjadi hal besar bagi saya jika kesempatan itu datang," tutur Harrison.

"Namun, untuk saat ini, saya hanya fokus di New York, menyelesaikan musim, dan berharap meraih sesuatu. Setelah itu, kita lihat saja..." tuturnya.

Apakah Manchester United tertarik untuk merekrutnya kembali? Atau justru Manchester City, klub pemilik New York City FC saat ini, yang lebih berkesempatan memboyongnya kembali?

PenulisJalu Wisnu Wirajati
EditorAloysius Gonsaga AE
SumberBolaSport
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM