Rabu, 29 Maret 2017

Bola / Liga Indonesia

Lilipaly: Kami Menyatukan Seluruh Masyarakat Indonesia

KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO Pemain timnas Indonesia Stefano Lilipaly (kiri) berebut bola dengan pemain Thailand, Koravit Namwiset pada laga final Piala AFF Suzuki Cup 2016 leg pertama di Stadion Pakansari, Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Rabu (14/12/2016). Indonesia menang 2-1 atas Thailand dan akan bertanding di final Piala AFF Suzuki Cup 2016 leg kedua di Stadion Rajamangala, Thailand, Sabtu (17/12/2016) mendatang.


JAKARTA, KOMPAS.com - Gelandang Stefano Lilipaly meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia atas kegagalan tim nasional menjuarai Piala AFF 2016.

"Saya mohon maaf kepada semuanya karena kami belum bisa membawa pulang piala itu," tulis Lilipaly di akun Instagram-nya.

Skuad Garuda gagal menjadi juara setelah kalah 2-3 secara agregat dari Thailand. Hasil itu tak lepas dari kekalahan Boaz Solossa dan kawan dari Thailand dengan skor 0-2 pada final kedua di Stadion Rajamangala, Sabtu (17/12/2016).

Menurut Lilipaly, timnas Indonesia sudah bekerja keras untuk mempersembahkan trofi Piala AFF untuk kali pertama. Selain itu, pemain Telstar tersebut juga melihat sisi lain di balik kegagalan Indonesia.  

"Tetapi saya pikir piala itu tidak terlalu penting karena piala hanyalah sebuah simbol. Yang terpenting adalah cara kami berjuang. Kami semua bekerja sama demi negeri kita tercinta INDONESIA. Kami berhasil menyatukan seluruh masyarakat Indonesia bersama dan ini hanya terjadi di sepak bola dan saya sangat bangga akan hal tersebut," ujar Lilipaly.

"Kita tidak butuh Piala AFF dan semacamnya, yang kita butuhkan adalah kecintaan dan perjuangan sampai mati untuk membuat negeri lebih baik lagi dalam segala hal. Kita semua bersatu di sini dan kita semua berdiri bersama. Saya merasa sangat bangga menjadi orang Indonesia. Kita tunjukkan pada semua siapa kita (INDONESIA)!!! One day we will bring this Trophy Home," sambung gelandang berusia 26 tahun tersebut.

Perjuangan timnas memang layak mendapatkan apresiasi. Pasukan Alfred Riedl sempat dihadapi berbagai masalah sebelum timnas terbentuk.

Masalah pertama terkait dari sanksi FIFA sehingga tak ada kompetisi resmi sebagai wadah pencarian bakat timnas. Setelah setahun dibekukan, sanksi itu baru dicabut pada Mei 2016.

Masalah kedua muncul terkait pemilihan pemain. Lantaran kompetisi nonresmi masih bergulir, pelatih Alfred Riedl hanya diizinkan menarik dua pemain dari tiap klub peserta TSC 2016.



Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Penulis: Ferril Dennys
Editor : Aloysius Gonsaga AE
TAG: