Jumat, 24 Maret 2017

Bola / Liga Lain

Asosiasi Sepak Bola Jepang Terus Perangi Rasialisme

Dok. J League Gamba Osaka melangkah ke final J1 League 2015 setelah menang 3-1 atas Urawa Red di Saitama, Sabtu (28/11/2015).


TOKYO
, KOMPAS.com
- Asosiasi Sepak Boal Jepang (JFA) terus berupaya memerangi sikap rasialis yang kerap muncul di lapangan hijau. 

Terbaru, sikap rasialis suporter terjadi seusai semifinal play-off J1 League Final antara Urawa Red Diamonds dan Gamba Osaka di Stadion Piala Dunia Saitama, Sabtu (28/11/2015). Patric, striker Gamba asal Brasil, jadi korban rasialis seorang suporter Urawa Red di dunia maya. 

Pada laga di kandang Urawa Red itu, Gamba Osaka melangkah ke final J1 League, kasta tertinggi Liga Jepang, seusai mengalahkan Urawa Red 3-1 via perpanjangan waktu. Gol ketiga Gamba dicetak oleh Patric. 

Lantaran kesal Urawa Red kandas, seorang anak SMA yang juga merupakan suporter fanatik tim tuam rumah kesal lalu berkicau di Twitter dengan menuliskan “hitam harus mati”. 

Kicauan anak tersebut langsung viral dan membuatnya tersudut. Asosiasi Sepak Bola Jepang (JFA) juga langsung memberikan pernyataan resmi terkait persoalan rasialis itu. 

“Insiden Sabtu lalu itu tak dimaafkan. J League akan terus bekerja untuk menghilangkan diskriminasi,” demikian tulis pernyataan resmi JFA, Senin (30/11/2015). 

"Kami selalu berupaya untuk menghapuskan diskriminasi di lapangan hijau, termasuk soal rasialis,” kata Wataru Endo, staf Hubungan Internasional JFA kepada KOMPAS.com, Selasa (1/12/2015). 

Sadar kicauannya telah menjadi bahan kritik, suporter Urawa Red yang tak disebutkan namanya itu pun berkonsultasi ke orang tuanya. Mereka bertiga lalu mendatangi kantor Urawa Reds di Saitama untuk meminta maaf kepada klub dan pemain. 

“Saya frustrasi karena Reds kalah ke final. Saya sebenarnya sama sekali tak mau bersikap rasialis,” kata anak SMA itu seperti dilansir di situs resmi Urawa Red. 

Patric yang menjadi korban rasialis, mengaku paham dengan sikap suporter Urawa Red itu dan telah memaafkannya. 

Urawa Red juga terhindar dari penalti lantaran sikap rasialis suporternya. Sebelumnya, klub berjuluk Reds itu pernah harus bertanding tanpa penonton pada Maret 2014 lantaran sikap berlebihan suporternya yang memang dikenal fanatik. 

Sementara itu, Gamba Osaka akan melakoni pertandingan final J1 League pertamanya di kandang sendiri, Stadion Expo 70, pada Rabu (2/12/2015), menjamu Sanfrece Hiroshima, klub pengoleksi poin tertinggi pada kompetisi reguler. 

Musim ini, J1 League mengubah format final. Tim dengan poin terbanyak pada dua paruh kompetisi akan otomatis lolos. Satu tempat akan diperebutkan pemenang paruh pertama dengan tim pengumpul poin ketiga terbanyak dari kompetisi penuh.  



Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : Jalu Wisnu Wirajati