Rabu, 30 Juli 2014

Bola / Liga Indonesia

Senjata Neymar di Medan Tempur Sepak Bola

Selasa, 6 Agustus 2013 | 08:36 WIB
Kompas.com / Ary Wibowo Bomber Barcelona, Neymar da Silva (tengah) bersama Nike Footware Product Director, Aik Leong Lim (kanan), saat jumpa pers peluncuran Hypervenom di Siam Center, Bangkok, Thailand, Selasa (6/8/2013).
BANGKOK, KOMPAS.com — Sepak bola tak melulu urusan adu strategi dalam lapangan. Pada era sepak bola modern, permainan sepak bola ibarat medan perang yang harus juga ditunjang dengan perlengkapan memadai sebagai senjata pemain untuk mengalahkan lawan-lawannya di setiap pertandingan.

Gavin Mortimer dalam karyanya berjudul A History of Football in 100 Objects memasukkan sepatu sebagai salah satu faktor kesuksesan pemain sepak bola. Bahkan, ia mengakui, sepatu sepak bola saat ini hampir tidak dikenali lagi dari yang dipakai para pemain sepak bola pada 150 tahun lalu.

Pada 1863, Federasi Sepak Bola Inggris (FA) awalnya mengeluarkan 13 peraturan dalam sepak bola, termasuk mengenai penggunaan sepatu. Peraturan nomor 13 itu berbunyi, "Tidak satu pun yang mengenakan sepatu dengan paku, lempengan besi, atau getah perca di bagian sol sepatunya diperbolehkan untuk bermain."

Alhasil, peraturan tersebut membuat sejumlah produsen sepatu sepak bola di Inggris berlomba membuat sepatu dengan desain yang memadai. Produksi sepatu yang awalnya usaha berskala rumah tangga pun bertransformasi menjadi industri skala besar di tengah-tengah perkembangan sepak bola modern di Inggris.

Seiring perkembangan teknologi, sepatu sepak bola kemudian didesain khusus sedemikian rupa yang menjadikannya ringan dan nyaman bagi para pesepak bola di seluruh dunia. Pada era 1960-an, bintang seperti George Best, Johan Cruyff, dan Pele merupakan ikon dari industri sepatu sepak bola yang lambat laun menjadi bisnis besar.

Lihat saja bagaimana salah satu produsen perlengkapan olahraga, Nike, membayar nilai kontrak sebesar 5 juta pounds per tahun kepada bintang Real Madrid, Cristiano Ronaldo, untuk mengenakan sepatu buatannya. Namun, dalam memililh ikon produknya, produsen juga tidak sembarang karena harus terus berinovasi dengan mendengarkan sejumlah saran dari pemain yang bersangkutan.

Bagi para produsen sepatu sepak bola, beragam jenis sepatu beserta teknologinya dipercaya dapat mencerminkan jati diri setiap pemain. Dengan sepatu yang didesain khusus, para pemain bisa memaksimalkan kemampuannya dengan penyesuaian ukuran kaki untuk membentuk kriteria dan kelebihan sepatu.

Pada Mercurial Vapor IX terbaru milik Ronaldo, misalnya, Nike mendesain agar sepatu lebih bertekstur untuk menambah gesekan dan rasa mantap saat menyentuh bola agar meminimalisasi tingkat kelicinan. Bagi pemain depan dengan karakter cepat seperti CR7, tentunya, satu kasus terpeleset saja bisa menentukan hasil pertandingan karena sering kali terjadi pada momen peluang emas mencetak gol.

Hypervenom
Teranyar, Nike merilis Hypervenom, yang juga diilhami dari masukan pemain-pemain bintang dunia, salah satunya, bomber muda Barcelona, Neymar da Silva. Ia mengaku ingin memiliki sepatu yang bisa membantunya meningkatkan ketangkasan dan memberikan ruang untuk menembak bola ke jala gawang lawan.

"Aku memang memberi masukan untuk desain sepatu baru ini. Hasilnya, Hypervenom  punya desain bagus, teknologi hebat, dan sangat nyaman. Aku bangga menjadi bagian dari keluarga Nike dan senang bisa ditunjuk sebagai ikon Hypervenom," ujar Neymar dalam peluncuran Nike Hypervenom di Bangkok, Thailand, yang juga dihadiri Kompas.com, Selasa (6/8/2013).

Phil McCartney, VP Nike Football, Footwear, mengungkapkan, masukan Neymar tersebut sangat berarti bagi perkembangan sepatu yang diproduksi pihaknya. Jika Mercurial Vapor IX dirancang untuk kecepatan pemain, kata dia, Hypervenom berfokus pada pembuatan ruang agar bisa menempatkan bola ke jala lawan. "Terlihat sepele. Tetapi, itu adalah perbedaan kecil yang signifikan," lanjutnya.

Pengarah desain Nike Football, Denis Dekovic, menambahkan, permainan sepak bola saat ini sedang berubah. Ia menilai, dalam pola penyerangan sebuah pertandingan, kecepatan saat ini bukan menjadi kebutuhan utama karena sejumlah pesepak bola sudah dilahirkan dengan kemampuan tersebut.

Menurutnya, para pesepak bola saat ini ingin menjadi lebih cepat, tidak hanya saat berlari tanpa bola, tetapi sama cepatnya ketika pemain tersebut ingin menggiring bola pada ruang yang sempit. Ia menilai, pemain selalu ingin membuat peluang-peluang sebagus mungkin. "Kecepatan serta ketangkasan yang dimiliki para pemain bertahan belakangan ini perlu untuk dilawan dan Hypervenom dirancang untuk itu," kata Dekovic.

Perubahan pada Hypervenom terlihat pada bagian atas sepatu dengan menggunakan sistem baru Nikeskin, yang dirajut lembut serta lentur. Bagian atas sepatu juga dilapisi dengan polyurethane, dan dilengkapi dengan teknologi Nike All Conditions Control (ACC) untuk memberikan rasa yang sama pada saat mengontrol bola baik pada kondisi kering maupun basah.

Selain itu, Hypervenom berinovasi dengan menghilangkan bahan-bahan berlebih pada alas sepatu untuk menempatkan kaki lebih dekat pada lapangan dan bola. Sementara di dasar dari sol bagian luar sepatu juga mengandung nylon padat agar terciptanya lempengan sol yang memiliki respons tinggi yang memberikan tenaga dengan bobot ringan agar pemain dapat leluasa bergerak.

Hypervenom memulai debutnya dalam pertandingan persahabatan antara Inggris dan Brasil di Stadion Maracana, 2 Juni 2013. Selain Neymar, pada laga yang berakhir 2-2 itu, Hypervenom juga dipakai oleh bintang MU, Wayne Rooney. Beberapa pemain lain juga didaulat untuk menggunakan sepatu tersebut, di antaranya, bomber Paris Saint-Germain, Zlatan Ibrahimovic, dan striker Borussia Dortmund, Robert Lewandowski.

Namun, Hypervenom tentunya mempunyai kesan tersendiri bagi Neymar. Maklum, dengan senjata barunya tersebut, ia sukses membawa Brasil menjuarai Piala Konfederasi 2013 setelah mengalahkan juara dunia Spanyol, 3-0. Selain itu, Neymar juga menyabet predikat pemain terbaik dan menorehkan empat gol, salah satunya ke gawang kiper Spanyol, Iker Casillas, di partai final.

Penulis: Ary Wibowo
Editor : Ary Wibowo