Jumat, 31 Maret 2017

Bola / SoccerPedia

Hal-hal Kecil yang "Dilupakan" Barca

TIKI-Taka! Rasanya istilah tersebut terasa akrab di telinga para pencinta sepak bola, paling tidak selama 5 tahun belakangan ini. Istilah yang merujuk pada permainan cantik yang berpegang kepada umpan-umpan pendek dan penguasaan bola ini sangat menarik untuk disaksikan.

Dengan pola permainan ini Barcelona di bawah asuhan pelatih Josep “Pep” Guardiola merajai Eropa selama kurun waktu 2008-2012. Total 14 gelar diraih oleh Barcelona dengan rincian 3 gelar La Liga Spanyol, 2 gelar Liga Champions, 2 gelar Piala Raja (Copa del Rey), 3 gelar Piala Super Spanyol, 2 gelar Piala Super Eropa, dan 2 gelar Piala Dunia Antarklub.

Hal ini menjadi bukti sahih dari dahsyatnya pola permainan tiki-taka di bawah asuhan Pep. Pep lalu memutuskan mundur dari jabatan pelatih Barcelona pada April 2012 dengan alasan ingin rehat sejenak dari sepak bola (pada Januari 2013 lalu ia menyetujui untuk melatih Bayern Muenchen mulai awal musim 2013/2014 mendatang).

Pengganti Pep di Barcelona yang merupakan asistennya, Tito Vilanova, masih menganut pola permainan tiki-taka dalam mengarungi musim 2012-2013. Barcelona mengawali kompetisi dengan baik, memukul Real Sociedad 5-1, mengalahkan Real Madrid 3-2, dan menang 2-1 atas Osasuna. Ini menunjukkan bahwa pergantian nakhoda dari Pep ke Tito berjalan mulus.

Kendati kemudian dikalahkan oleh Real Madrid 1-2 pada leg ke-2 di Piala Super Spanyol, publik sepak bola tetap merasa bahwa Barcelona tetap akan tampil digdaya. Namun, ternyata anggapan publik bahwa Barcelona akan digdaya pada musim ini salah. Kendati tinggal membutuhkan 2 poin untuk meraih gelar La Liga Spanyol musim 2012-2013, Barcelona termasuk gagal di ajang lainnya.

Dikalahkan Real Madrid pada leg ke-2 Piala Super Spanyol (Madrid akhirnya menjuarai ajang tersebut) dan semifinal Copa del Rey serta dihancurkan Bayern Muenchen dengan agregat 0-7 (kekalahan agregat terburuk dalam sejarah semifinal Liga Champions) merupakan sebuah aib bagi klub yang dalam 4 tahun terakhir ini begitu digdaya. Publik pun mulai bertanya-tanya, “Apa yang salah dengan Barcelona?”

Banyak faktor yang mengakibatkan kegagalan Barcelona musim ini seperti cederanya pemain andalan Lionel Messi, operasi Tito Vilanova (mengakibatkan Tito sempat absen dalam beberapa laga krusial dan digantikan oleh asistennya Jordi Roura sehingga Barcelona sering menuai kekalahan dalam partai-partai krusial tersebut), dan transisi kepelatihan dari tangan Pep ke Tito. Namun, menurut saya ada hal-hal sederhana yang membuat Barcelona tidak lagi digdaya. Hal-hal sederhana tersebut semuanya berhubungan dengan filosofi tiki-taka itu sendiri yang membuat kualitas tiki-taka Barcelona di bawah Tito masih berada jauh di bawah Pep.

Filosofi tiki-taka dengan kombinasi umpan-umpan pendek dan penguasaan bola tinggi (rata-rata 63%) sepertinya terlihat mudah. Namun, ada hal-hal yang harus diperhatikan agar permainan ini bisa menjadi suatu senjata yang mematikan. Pertama, para pemain harus membentuk “segitiga kecil” dengan konsisten bersama dengan pemain yang memegang bola sehingga pemain yang memegang bola memiliki minimal 2 opsi untuk melakukan operan.

Kedua, saat kehilangan bola, para pemain harus segera melakukan pressing terhadap lawan yang memegang bola dan menumpuk fokus permainan hanya di 1/6 sisi lapangan sehingga lawan otomatis akan panik dan membuang bola jauh-jauh sehingga bola akan dengan mudah direbut kembali oleh pemain-pemain Barcelona yang menerapkan high defensive line (garis pertahanan tinggi). Dan, begitu bola dapat direbut kembali oleh para pemain Barcelona, maka para pemain akan langsung menyebar untuk memperbesar area permainan.

Ketiga, “Busquets Role” yaitu sekema di mana Sergio Busquets (gelandang bertahan Barcelona) mundur ke posisi bek tengah untuk menerima operan pendek dari penjaga gawang Victor Valdes. Karena Busquets mundur ke posisi bek tengah, maka kedua bek tengah Barca yaitu Carles Puyol dan Gerard Pique dapat maju agak melebar sehingga kedua bek sayap yaitu Jordi Alba di kiri dan Daniel Alves di kanan dapat merangsek naik ke depan. Dengan demikian Barcelona dapat mengurung pertahanan lawan dan dapat mencetak banyak gol.

Hal-hal sederhana ini secara konsisten diperagakan oleh Barcelona pada masa kepelatihan Pep Guardiola. Namun, pada masa kepelatihan Tito Vilanova, hal-hal sederhana ini merupakan sesuatu yang jarang terlihat sehingga mengakibatkan hilangnya kedigdayaan Barcelona seperti pada masa kepelatihan Pep Guardiola. Walaupun terlihat sederhana dan mungkin sering disepelekan, ketiga hal ini merupakan komponen penting yang membuat tiki-taka menjadi senjata rahasia yang ampuh. Ketiga hal inilah yang membuat Barcelona pada zaman Pep merupakan salah satu tim terbaik yang pernah ada.

Penulis: Bimo Adiwibowo (bimo.adiwibowo@gmail.com, @bimoadiwibowo)
Penulis merupakan penggemar sepak bola, tinggal di Jakarta.


Editor : Hery Prasetyo