Jumat, 31 Oktober 2014

Bola / Liga Inggris

Konflik Terry-Ferdinand seperti Perselisihan Mafia

Selasa, 18 September 2012 | 07:53 WIB

LONDON, KOMPAS.com - Ketua Asoasiasi Pesepak Bola Profesional (PFA) Inggris, Gordon Taylor, mengatakan pesepak bola harus menjunjung nilai-nilai utama olahraga, bukan mengedepankan urusan pribadi, seperti mafia.

Hal itu disampaikan Gordon berkaitan dengan tindakan bek Queens Park Rangers (QPR) Anton Ferdinand menolak berjabat tangan dengan bek Chelsea, John Terry, sebelum kedua tim melakoni duel Premier League, Sabtu (15/9/2012).

Insiden itu tak lepas dari konflik personal antara keduanya, yang terjadi pada duel Premier League, di Loftus Road, 23 Oktober 2011. Saat itu, Ferdinand menuding Terry melakukan pelecehan rasial kepadanya.

Pada 11 Februari 2012, penyerang Liverpool, Luis Suarez, juga pernah menolak berjabat tangan bek Manchester United (MU), Patrice Evra, setelah Suarez dijatuhi sanksi skors delapan pertandingan karena melakukan pelecehan rasial kepada Evra, pada 15 Oktober 2011.

Akhir pekan ini, MU dan Liverpool akan berduel di panggung Premier League dan menurut pemberitaan, ada potensi Evra dan Suarez kembali tak berjabat tangan.

"Kita punya tanggung jawab untuk menjunjung nilai-nilai utama olahraga. Kita perlu sangat berhati-hati jika ada masalah personal antara pemain karena mereka tidak merefleksikan nilai-nilai itu di panggung sepak bola, padahal ini adalah protokol untuk kebaikan citra sepak bola," ujar Gordon.

"Saya tak ingin sepak bola menjadi alat perselisihan personal yang tak pernah berakhir. Kita harus melangkah ke depan. Hal-hal seperti ini memecah belah kita dan menjadi seperti perselisihan mafia. Pemilik, manajer, ketua eksekutif, dan pemain mengatakan 'iya' untuk hal tersebut dan saya tak tahu kenapa kita mengatakan 'tidak' sekarang."

"Saya ingin mengatakan kepada pemain bahwa saya tak melihat alasan mengapa mereka tak bisa (berjabat tangan). Mereka tidak mengkhianati prinsip-prinsip personal. Hal ini dilakukan demi citra sepak bola dan untuk memberikan contoh yang benar kepada maskot dan anak-anak yang bermain sepak bola di sekolah."

"Hal itu tentu mengecewakan musim ini. Saya merasa sepak bola harus menjaga apa yang Olimpide telah lakukan, yaitu menunjukkan bahwa olahraga bisa mengatasi semua penghalang dan inklusivisme," tuturnya.

 


Editor : Tjatur Wiharyo
Sumber: