Sabtu, 30 Agustus 2014

Bola / Liga Inggris

Hughes: Jabat Tangan Timbulkan Masalah

Minggu, 16 September 2012 | 05:24 WIB

LONDON, KOMPAS.com - Manager Queens Park Rangers (QPR), Mark Hughes, berpendapat bahwa sebaiknya tradisi salaman antarpemain sebelum pertandingan dihapuskan. Sebab, tradisi ini lebih banyak menghadirkan masalah daripada menyelesaikannya.

Pernyataan Hughes mengacu pada kasus Anton Ferdinand. Pada pertandingan lanjutan Premier League antara QPR lawan Chelsea, Sabtu (15/9/2012), Anton Ferdinand menolak bersalaman dengan John Terry dan Aschley Cole. Defender QPR itu sebelumnya mengaku menjadi korban rasisme dari Terry.

Kasus ini sempat menyeret Terry ke pengadilan, namun dia akhirnya dinyatakan tak bersalah. Meski begitu, Federasi Sepak Bola Inggris (FA) kemungkinan bisa menjatuhkan sanksi. Sebelumnya, Terry sudah terkena akibatnya, ban kaptennya di timnas dicopot FA lantara kasus rasisme itu.

Yang lebih mengejutkan, kapten Park Ji-Sung juga melakukan hal sama. Dia tak mau menyalami Terry dan Cole. hughes pun merasa bahwa tradisi salaman sebelum pertandingan itu justru bisa menyebabkan friksi di antara para pemain sepak bola.

"Saya sudah melakukan diskusi dan beberaoa pemain siap melakukan jabat tangan pemain lawan, tapi beberapa lainnya tidak. Ini pilihan personal. Saya mendapat rasa hormat dari kampanye saling menghormati, tapi elemen ini menyebabkan banyak masalah daripada menyelesaikannya," jelas Hughes Soccernet.

Sebelumnya, kasus serupa terjadi antara striker Liverpool, Luis Suarez, dan bek Manchester United, Patrice Evra.

Manajer Chelsea, Roberto Di Matteo, berpendapat agak berbeda. Menurutnya, para pemain telah bersikap secara profesional. "Kami menawarkan dan kami sudah melakukan kewajiiban kami. Kedua belah pihak fokus pada sepak bola, menunjukkan betapa profesionalnya mereka," katanya.

 


Editor : Hery Prasetyo