Kamis, 2 Oktober 2014

Bola / Liga Indonesia

Pemain ISL "Terpaksa" Gabung Timnas KPSI

Selasa, 11 September 2012 | 16:24 WIB

BATU, KOMPAS.com - Para pemain di Liga Super Indonesia tak punya pilihan selain bergabung dengan tim nasional bentukan Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia (KPSI). Itu dilakukan karena pemain harus mengikuti aturan dari klubnya masing-masing.

Striker Persisam Samarinda, Cristian Gonzales, mengatakan, awalnya ia berharap dipanggil masuk skuad "Garuda" bentukan PSSI. Namun, karena terikat kontrak dengan klub yang mendukung KPSI, mau tak mau ia harus menuruti keinginan klub.

"Awalnya saya dipanggil oleh timnas PSSI. Tapi saya harus profesional sebagai pemain. Karena aturan klub saya yang ikut ISL, saya harus ikuti aturan klub. Ya, saya gabung ke sini," ujarnya ketika ditemui Kompas.com di Hotel Kusuma Agrowisata, Kota Batu, Jawa Timur, Selasa (11/9/2012) siang..

Pemain berjuluk "El Loco" itu sebetulnya sangat ingin membela timnas "Merah Putih" sehingga ia pun tak ragu berpindah kewarganegaraan Indonesia. Dengan berseragam timnas, ia ingin ikut serta memajukan sepak bola Tanah Air.

Gonzales juga berharap dualisme timnas segera menemui titik temu sehingga para pemain bergabung dalam satu timnas. Itu juga dirasakan oleh pemain-pemain lain yang notabene "terpaksa" mengikuti aturan klub. "Secara pribadi, saya ingin ada satu timnas. Semoga cepat jadi satu," kata striker yang tampil gemilang pada Piala AFF 2010 itu.

Selain Gonzales, pemain senior Ponaryo Astaman juga menyatakan keinginannya atas satu timnas. "Kami ingin sekali adanya satu timnas, aturan klub ISL meminta kita bergabung menjadi pilihan saya dan teman-teman lainnya," ujarnya dalam jumpa pers, Selasa.

Senada juga disampaikan gelandang Firman Utina. Ia harus memilih timnas KPSI karena klubnya berlaga di ISL, bukan timnas versi PSSI. "Pilih gampangnya saja, kita dipanggil dan aturan klub mengharuskan, mau apa lagi?" katanya.

Firman meminta agar polemik sepak bola di Tanah Air ini tidak dibebankan kepada pemain yang kini bergabung dengan timnas KPSI. Ia berharap pihak-pihak yang berwenang segera mencari solusi untuk menyelesaikan konflik tersebut. Solusi itu harus menghasilkan satu tim kebanggaan Indonesia. "Saya harap, jangan salahkan pemain atau pelatih," ujarnya.

Baik Firman maupun Ponaryo enggan memperjelas sikap atau kondisi mereka saat ini. Ketika ditanya soal legalitas timnas KPSI, keduanya tak mau banyak berkomentar. "Kita konsentrasi saja berlatih, jika nanti diperlukan, sudah siap main," kata Firman.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : Laksono Hari W