Kamis, 24 April 2014
Sepak Bola, Pelipur Lara Defoe
Rabu, 05 September 2012 | 19:23 WIB
Dibaca:
|
Share:
AFP/CARL COURT
Striker Tottenham Hotspur dan timnas Inggris, Jermaine Defoe.

LONDON, KOMPAS.com - Kesedihan seolah terus mengikuti kehidupan Jermaine Defoe. Dua kematian orang terdekat benar-benar memukul jiwanya. Namun, sepak bola menjadi pelipur lara yang indah buatnya.

Striker Tottenham Hotspur itu harus pulang saat bersama timnas Inggris sedang mempersiapkan diri menghadapi Piala ERopa 2012. Ayahnya, Jimmy Defoe, meninggal dunia dalam usia 49 tahun karena kanker tenggorokan.

Awal musim lalu, dia mulai bisa melupakan kesedihannya. Bersama Totenham, dia bersemangat mengikuti tur pramusim di Amerika Serikat. Namun, lagi-lagi dia harus pulang karena saudara sepupunya, Hannah, tewas tersetrum listrik saat berenang di sebuah hotel.

Bulan lalu, dia mencetak gol saat Inggris mengalahkan Italia 2-1 dalam laga persahabatan. Ia pun mendedikasikan gol itu buat Hannah.

Sebelumnya, adiknya, Jade, meninggal dunia pada 2009. Dia diserang orang di jalanan di London.

"Saat-saat itu sangat sulit bagi keluargaku, sangat berat, terutama dengan ayahku. Dari hari ke hari, ketika dia didiagnosis terkena kanker, aku bersamanya. Aku baru 29 tahun dan menghadapi peristiwa seperti itu benar-benar sulit," aku Defoe dalam wawancara dengan The Sun.

"Aku mengatakan kepada ayahku bahwa segalanya akan baik-baik saja. Aku minta dia berpikir positif dan tetap percaya. AKu tahu soal kanker, tapi bersama seseorang yang terkena kanker dan melihat apa yang dilakukan dalam waktu yang sempit benar-benar menekan.Ini membuat Anda berpiikir kembali tentang hidup," jelasnya.

Defoe melanjutkan, "Aku memiliki keluarga besar dan hubungan kami sangat dekat. Hal-hal seperti ini membuat ANda berpikir tentang hidup dan apa yang penting. Sekarang, satu-satunya saat aku merasa damai adalah ketika berlatih dan bermain sepak bola."

"Tentu, jika Anda dalam situasi seperti ini pasti akan berpikir tentang hidup Anda. Anda tak tahu pasti apakah besok masih hidup. Sepupuku (yang tewas dikeroyok) baru berumur 20 tahun waktu itu. Aku sampai bertanya, kenapa ini terjadi?" lanjut Defoe mengenang.

"Aku berada di Amerika bersama Tottenham dan harus pulang kembali untuk berkumpul dengan keluarga (karena meninggalnya Hannah). Dia tersetrum di kolam renang. Aku tak pernah mendengar kecelakaan seperti itu sebelumnya. Keluarga sangat penting, terutama jika Anda kelhilangan ayah dan sepupu," lanjutnya.

"Aku ingat Craig Bellamy (pemain asal Wales) pernah bilang bahwa ada hal lebih dalam hidup dibanding sepak bola terutama jika menjangkut keluarga. Ketika muda, tak ada yang lebih penting daripada sepak bola. Tapi, semakin tua, kemudian menikah, punya anak, dan kehilangan orang terdekat, kemudian Anda baru sadar bahwa keluarga lebih penting. Ini akan datang sesuai umur."

Defoe juga berterimakasih kepada Manajer Timnas Inggris, Roy Hodgson. Menurutnya, dia bisa memahami situasinya dan banyak membantu.

"Aku minta izin kepadanya ketika ayahku sakit. Lalu, dia mengatakan bahwa aku bisa menjenguk ayahku setiap sore dan bisa kembali ke tim lagi. Itu sangat membantu," ujarnya.

Defoe akan kembali memperkuat timnas Inggris saat melawan Moldova di Chisinau, Selasa (11/9/2012) dalam kualifikasi Piala Dunia 2014. Setelah itu, Inggris akan menjamu Ukraina. Defoe pun berharap ditampilkan dan mencatatkan cap ke-50 dalam karier internasionalnya.

 

Editor : Hery Prasetyo