Rabu, 19 Juni 2013
LAGA PERSAHABATAN
Tak Lelah Dukung Timnas
Minggu, 05 Agustus 2012 | 04:02 WIB
Dibaca:
|
Share:
KOMPAS/YUNIADHI AGUNG
Pemain klub Valencia, Pablo Hernandes (kanan), dihadang pemain Indonesia Selection, Nova Setya Nugraha, dalam pertandingan persahabatan di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Sabtu (4/8). Valencia menang 5-0 atas Indonesia Selection.

Bulan yang nyaris bulat sempurna menghiasi langit malam di atas Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta. Di dalam stadion kebanggaan rakyat Indonesia itu, tim ”Merah Putih” kembali bertanding dalam skuad penuh untuk pertama kalinya setelah kompetisi liga profesional terpecah.

Di atas rumput yang terpotong rapi itu para pemain tim nasional Indonesia melawan ”Kelelawar Mestalla”, Valencia, Sabtu (4/8). Pertarungan dua tim beda kelas ini berakhir dengan kekalahan 0-5 bagi tim Indonesia. Namun, pertandingan ini menghadirkan asa yang lebih baik bagi ”Merah Putih”. Uji coba ini bukan sekadar menang kalah, melainkan ada pesan persatuan di sepak bola nasional.

Tim Indonesia yang disiapkan untuk Piala ASEAN Football Federation (AFF) pada November 2012 di Malaysia itu kembali diperkuat pemain-pemain senior, seperti pengatur permainan Firman Utina, penyerang Bambang Pamungkas, gelandang Ponaryo Astaman, dan sayap serang cepat Muhammad Ridwan.

Para pemain senior itu tampil bersama-sama para pemain muda yang tak kalah cemerlang saat SEA Games 2011. Di sana ada Patrich Wanggai, Abdul Rahman, Oktovianus Maniani, Ferdinand Sinaga, dan Titus Bonai. Ini kali pertama timnas diisi para pemain muda dan senior dari dua liga yang terbelah akibat pertarungan ego para elite pengurus sepak bola.

Skuad tim ”Merah Putih” ini memberikan warna baru, harapan baru terbentuk tim yang kuat seperti saat Piala AFF 2010. Persatuan para pemain ini menyuguhkan permainan yang lebih solid dan menjanjikan level permainan yang lebih baik.

Wanggai, striker muda itu, mengundang decak kagum dengan kemampuan penetrasinya ke kotak penalti lawan. Penyerang klub Persidafon Dafonsoro itu dengan tenang melewati dua pemain bertahan Valencia, Daniel Parejo dan Victor Ruiz, untuk melayangkan tendangan guna menguji kiper Los Che, Diego Alves. Tepuk tangan pun bergemuruh menyambut aksi individu brilian Wanggai itu.

Indonesia tertinggal 0-3 saat pertandingan baru berjalan 25 menit, tetapi suporter yang menonton langsung di stadion tetap mendukung. Mereka meneriakkan ”Indonesia, Indonesia” dan bertepuk tangan saat kiper Wahyu Tri Nugroho berjibaku menyelamatkan gawang dari kebobolan. Dukungan semakin meriah saat Firman Utina dan kawan-kawan bermain lepas menekan lawan.

”Kami datang ke sini untuk mendukung timnas Indonesia, bukan Valencia. Kami tidak pernah lelah mendukung timnas meski kami bosan dengan intrik para petinggi sepak bola di negeri ini,” ujar Yusuf Aditya (19), suporter sejati ”Merah Putih” dari Duren Sawit.

Aditya bersama rekan-rekannya alumnus SMA 44 Jakarta, Muhammad Fahmi, Panji, Haris, Bayu, dan Iror, mengenakan kostum timnas berwarna merah. Mereka sudah kangen dengan penampilan para pemain terbaik Indonesia dalam laga bermutu. Mereka menyimpan harapan persatuan para pemain dalam timnas bisa mengakhiri konflik persepakbolaan di negeri ini.

”Kembalinya Bambang Pamungkas dan para pemain senior semoga membawa imbas baik bagi sepak bola negeri ini, juga memberikan inspirasi bagi para pemain muda kita supaya tampil lebih baik,” ujar Aditya.

Ia juga berharap laga melawan Valencia ini mengetuk nurani petinggi PSSI dan Kelompok Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI) untuk bersatu. Komite Bersama (Joint Committee) yang dibentuk untuk menyelesaikan konflik sepak bola di negeri ini punya waktu hingga akhir 2012. Jika tak ada solusi, persiapan timnas untuk Piala AFF 2012 pada November di Kuala Lumpur, Malaysia, bisa sia-sia. (ANG)