Kamis, 24 April 2014
Geliat Bintang Afrika di Super League China
Meraup Dollar Bersama Drogba
Kamis, 12 Juli 2012 | 18:45 WIB
Dibaca:
|
Share:
STR/AFP
Eks striker Blackburn Rovers, Yakubu Ayegbeni (tengah), dipresentasikan oleh Pelatih Guangzhou R&F, Zhang Bin (kanan), dan wakil ketua klub, Lu Yi, di Guangzhou, China selatan, pada 11 Juli 2012.

KOMPAS.com - Keran Super League China seolah terbuka lebar begitu Didier Drogba bergabung dengan Shanghai Shenhua. Tak berapa lama, sejumlah bintang Afrika mengikutinya.

Bomber Pantai Gading itu resmi menjadi milik Shenhua bulan lalu, setelah dari awal tahun Nicolas Anelka menggodanya.

Berikutnya, bintang Nigeria Yakubu Aiyegbeni memilih meninggalkan Blackburn Rovers dan bergabung selama tiga tahun dengan Guangzhou R & F.

Tak berapa lama, ikon Mali milik Sevilla, Frederic Kanoute, juga menembus "Negeri Tirai Bambu" setelah meneken kontrak dua tahun dengan Beijing Guoan.

Perginya Kanoute diikui kompatriotnya, Seydou Keita. Setelah membukukan 14 trofi juara bersama Barcelona, ia memutuskan mendarat di Dalian Aerbin dan meneken kesepakatan 2,5 tahun.

Apa yang membuat bintang-bintang Afrika itu bereksodus ke "Negeri Panda"?

"China sedang giat membangun kerja sama di bidang tambang dan sumber daya alam di Afrika," sebut James Porterous, jurnalis South China Post.

Karena itu, menurut Porterous, klub-klub sepak bola China memanfaatkan kesempatan yang terbuka dalam hal pemasaran, ekonomi, dan politik dengan negara-negara Afrika.

"Liga --terutama klub-klub besar-- sering dibanjiri dengan dana besar dari pemilik yang rata-rata adalah bos properti, bidang yang kini tengah melejit di China," tandas Porterous yang dilansir BBC.

Contohnya pimpinan liga saat ini, Guanzhou Evergrande. Klub yang dibesut Marcello Lippi itu milik Evergrande Real Estate Group, di mana ketuanya, Xu Jiayin, adalah orang terkaya China. Jiayin mengaku telah menyuntikkan 70 juta dollar AS (sekitar Rp 700 miliar) untuk klub sepak bolanya dalam beberapa tahun terakhir.

Soal gaji, para pemain Afrika itu juga digelimangi kemewahan. Drogba dilaporkan mendapatkan 350 ribu dollar AS (sekitar Rp 3,5 miliar) per pekan, sementara Yakubu meraup 150 ribu dollar AS (sekitar Rp 1,5 miliar) setiap minggunya.

Wow... .

Gaji sebesar itu tentu menarik minat Drogba dan Kanoute yang sama-sama berusia 34 tahun. Fulus besar untuk memuluskan pengujung kariernya.

"Tak usah merinci siapa saja pemainnya, saya akan menduga pendapatan adalah motivasu mereka bermain di sini," ucap Porterous.

Menurutnya, China dalam pertumbuhan modernisasi yang sangat cepat.

"Shanghai adalah kota kosmopolitan, sama dengan kota kosmopolitan lainnya di dunia. Droba dan Anelka tak akan kehabisan uang saat membelanjakannya di semua toko mewah dan restoran di sana," lanjut Porterous.

Namun, ternyata ada yang membantah anggapan materi sebagai motivasi utama memilih bermain di Super League, China.

"Setelah mendengar paparan klub, aku ingin segera bergabung. Uang bukan satu-satunya faktor," ungkap Yakubu setelah memastikan transfernya di Guangzhou.

"Sejak kedatangan Anelka, makin banyak pemain top tiba di China. Harapannya, kedatangan kami dapat membantu menaikkan kualitas persepakbolaan nasionalnya," sambung Yakubu.

Masuknya bintang-bintang Afrika itu akan melejitkan pamor liga sekaligus menarik minat penonton untuk menyaksikan langsung. Secara rerata, penonton Shanghai di Stadion Hongkou mencapai 10 ribu orang setiap pertandingan.

 

Editor : Daniel Sasongko