
KIEV, KOMPAS.com - Di tengah sejumlah bintang yang bersinar di Piala Eropa 2012, beberapa pemain mulai memikirkan masa depan mereka. Maklum, mereka berada di ujung karier, terkait kemampuan yang makin terbatas, seiring usia yang senja.
Salah satu di antara mereka tak lain striker Ukraina, Andriy Shevchenko, yang belum lama ini mundur dari tim nasional. Pengunduran diri Shevchenko, yang pernah menjalani karier indah di klub raksasa Italia, AC Milan, spontan membuat bingung Pelatih Ukraina Oleg Blokhin.
Blokhin mengaku bingung mencari pengganti. Tak heran, ia langsung mendesak Federasi Sepak Bola Ukraina agar menyiapkan darah segar untuk wajah baru tim nasional.
Penyerang Ukraina itu kini berusia 35 tahun. Shevchenko pensiun dari tim nasional setelah timnya gagal lolos ke delapan besar Piala Eropa 2012. Padahal, negaranya menjadi tuan rumah bersama Polandia. Sepanjang membela negara, pemain yang akrab dipanggil Sheva ini mengoleksi 48 gol dari 111 penampilan, dua di antaranya tercipta saat mengalahkan Swedia, 2-1, pada 12 Juni lalu.
”Saya tidak berpikir Shevchenko lain segera muncul,” ujar Blokhin, yang pada masanya pernah menjadi pemain top Uni Soviet, dengan gayanya yang tanpa ekspresi.
”Pelapis muda yang menjadi penyerang (Ukraina) sekarang miskin naluri dan keahlian, belum seperti Shevchenko. Padahal, saya perlu pemain seperti (Cristiano) Ronaldo atau (Lionel) Messi,” ujar Blokhin.
Blokhin menambahkan, pengunduran diri Shevchenko menjadi kehilangan besar bagi Ukraina. Sekarang dia pun harus berpikir keras bagaimana membangun pola serangan baru tanpa Sheva. ”Kami tidak mungkin dapat bermain tanpa penyerang, seperti yang dilakukan Spanyol,” ujar Blokhin.
Ukraina jelas kesulitan mencari pengganti penyerang sekelas Sheva. Pemain dengan tinggi 183 sentimeter itu mantan penyerang AC Milan dan menempati urutan ketiga pemain terbaik dunia 2004. Sheva menjadi pemain termahal dunia dengan rekor transfer 25 juta dollar AS (Rp 236 miliar) saat hijrah dari Milan ke Chelsea pada 2005. Ia pernah menjadi salah satu pemain paling bersinar di Eropa, dengan mencetak 58 gol di Liga Champions, 67 gol di seluruh liga top Eropa, dan 175 gol untuk AC Milan.
Penyerang lain yang juga harus rela menepi dari persaingan keras di level Eropa adalah Milan Baros. Striker Ceko ini mengakhiri karier di tim nasional setelah tidak mencetak satu gol pun dari empat pertandingan di Piala Eropa 2012. Catatan yang jauh dari mentereng untuk ukuran penyerang.
Prestasi Baros mulai bersinar ketika ia menjadi pencetak gol terbanyak Piala Eropa 2004, dengan total lima gol. Namun, setelah itu, semasa ia menjadi penyerang Liverpool dan Aston Villa di Liga Inggris, kariernya justru meredup.
Penampilan Baros justru membaik setelah ia bergabung dengan klub Turki, Galatasaray, sejak Agustus 2008. Setidaknya itu terbukti dengan kesuksesannya menjadi top scorer Liga Turki 2008-2009 dengan total 20 gol. (Reuters/AP/SAH/ADP)