Kamis, 23 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
PELATIH SUKSES
Inilah Saatnya, Loew!
Senin, 25 Juni 2012 | 03:14 WIB
Dibaca:
|
Share:
EPA/JENS WOLF

Legenda sepak bola Jerman, Gunter Netzer, memuji keberanian Joachim Loew memainkan tiga wajah baru dalam babak perempat final yang amat krusial. Jerman melaju ke semifinal dan berpeluang besar ke partai puncak Piala Eropa seperti empat tahun silam. Kali ini, Netzer percaya ”Der Panzer” bakal pulang membawa trofi keempat. Inilah saatnya, Loew!

Keputusan Loew saat melawan Yunani memang mengejutkan. Namun, jika dianalisis lebih detail, strategi itu sangat bijaksana,” ujar Netzer kepada Bild.

Loew tahu, karakter bertahan bak ”batu karang” milik Yunani akan lebih efektif diatasi dengan serangan variatif lewat pergerakan pemain yang lebih dinamis. Itulah mengapa ia memercayai pemain muda Andre Schuerrle (21) dan Marco Reus (23) sebagai penyerang sayap.

Keduanya aktif bergerak dan bertukar posisi dari kiri ke kanan untuk membongkar pertahanan Yunani. Sementara Miroslav Klose (34) yang jago dalam bola atas dibutuhkan untuk mendobrak benteng lawan.

Tak dinyana, perjudian Loew berbuah manis. Jerman menang meyakinkan, 4-2, melalui gol-gol Philipp Lahm (menit ke-39), Sami Khedira (61), Klose (68), dan Reus (76). Kemenangan itu diraih tanpa trio Mario Gomez, Lukas Podolski, dan Thomas Mueller yang mengemas lima gol pada babak penyisihan grup.

Netzer pun salut atas kecermatan pelatih kelahiran 3 Februari 1960 itu. ”Loew mengenal betul kedalaman skuadnya. Ia pun bisa merombak komposisi tim sesuai kebutuhan,” katanya.

Saat masih menjadi pemain, Loew menempati posisi gelandang serang. Meskipun tak pernah membela tim nasional Jerman, karier Loew di sejumlah klub Bundesliga cukup baik. Selama malang melintang di SC Freiburg, VfB Stuttgart, dan Eintracht Frankfurt, Loew mengemas 78 gol dari 304 aksi.

Itulah mengapa sejak melatih Jerman enam tahun lalu, Loew mengedepankan pola 4-2-3-1. Dalam ajang Piala Eropa kali ini, Loew membawa 11 gelandang dari 23 pemain yang dibawa. ”Lini tengah menjadi kunci permainan sepak bola. Jika Anda menguasai area tersebut, kemenangan tinggal menunggu waktu,” ungkap Loew, dikutip dari World Soccer.

Di tangan Loew, Jerman sukses menembus semifinal turnamen besar untuk keempat kali beruntun dalam enam tahun terakhir. Tak berlebihan rasanya jika Der Panzer dijuluki tim spesialis turnamen.

Enam gelandang

Selain Loew, konsistensi juga ditunjukkan Pelatih Spanyol Vicente del Bosque. Setelah membawa ”Matador” menjuarai Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, Xavi Hernandez dan kawan-kawan lolos ke semifinal Piala Eropa 2012 dengan menyisihkan Perancis, 2-0.

Hebatnya, sukses itu dicapai berkat perjudian Del Bosque bermain tanpa striker murni. Pada dasarnya, Spanyol tetap bermain dengan pola 4-2-3-1. Hanya saja, posisi target man diserahkan kepada Cesc Fabregas, yang aslinya berposisi gelandang serang.

Strategi menumpuk enam gelandang itu awalnya sempat dikritik karena Spanyol hanya mampu bermain imbang 1-1 saat menghadapi Italia di Grup C. Ketiadaan seorang striker membuat Matador sulit menembus pertahanan lawan.

Namun, Del Bosque bergeming. Ia sempat memainkan Fernando Torres saat menghadapi Irlandia dan Kroasia. Namun, ia kembali memainkan Fabregas pada perempat final seiring melempemnya performa Torres pada laga akhir grup.

Kepungan enam gelandang kreatif Spanyol membuat Perancis mati kutu. Del Bosque sukses mengeksploitasi talenta brilian gelandang-gelandang Matador. ”Para gelandang memiliki kemampuan mumpuni untuk menekan habis lawan. Saya percaya gol akan datang dengan sendirinya meski tanpa striker,” kata Del Bosque kepada AFP.

Banyak kalangan berpendapat, Jerman dan Spanyol kembali bertemu di partai puncak. Akankah kali ini Der Panzer mengakhiri periode luar biasa tiki-taka Matador? (RIZ)