Kamis, 17 April 2014
Jalan Paling Terjal Roy Hodgson
Penulis: Aswin Rizal Harahap | Minggu, 24 Juni 2012 | 16:16 WIB
Dibaca:
|
Share:

KIEV, KOMPS.com - Pergantian pelatih dari Fabio Capello ke Roy Hodgson jelang Piala Eropa 2012 tak mengguncang mental tim Inggris. Permainan Steven Gerrard dan kawan-kawan justru semakin solid dan tak terkalahkan dalam lima laga bersama bos baru asal Croydon, Inggris, itu. Menghadapi Italia pada babak perempat final di Olympic Stadium, Kiev, Ukraina, Senin (25/6), menjadi tantangan terbesar Hodgson. Mampukah Hodgson menghapus kutukan Inggris yang hanya menang sekali atas Italia sejak 1976?

Satu-satunya kemenangan ditorehkan Inggris dalam babak kualifikasi Piala Dunia 1978 di Stadion Wembley, London, Inggris. Kala itu, dua gol ”Tiga Singa” diciptakan Kevin Keegan (menit ke-11) dan Trevor Brooking, 10 menit jelang laga usai.

Namun, hasil itu tak cukup mengantarkan Inggris lolos ke putaran final Piala Dunia di Argentina. Mereka kalah agregat gol karena butuh menang 4-0 atas Marco Tardelli dan kawan-kawan, pemain ”Azzurri” kala itu.

Masa itu sekaligus menjadi periode kelam sepak bola Inggris yang gagal mempertahankan gelar pada Piala Dunia 1970 dan tak lolos ke ajang yang sama tahun 1974 dan 1978. Sejak itu pula Tiga Singa selalu kesulitan saat bertemu Italia.

Mereka lagi-lagi kalah 0-1 saat bertemu di babak penyisihan grup Piala Eropa 1980 di Turin, Italia. Gol semata wayang diciptakan Tardelli yang kala itu memasuki masa keemasan bersama striker Paolo Rossi, kiper Dino Zoff, dan bek Franco Baresi.

Kedua tim kembali bertemu 10 tahun kemudian dalam perebutan tempat ketiga ajang Piala Dunia di Italia. Inggris yang diperkuat sejumlah bintang, seperti Peter Shilton, David Platt, dan Gary Lineker, menyerah 1-2.

”Gli Azzurri” unggul lebih dulu lewat Roberto Baggio, sebelum akhirnya Platt menyamakan kedudukan. Gol penentu kemenangan dicetak Salvatore Schillaci lewat titik putih empat menit jelang laga berakhir.

Pertemuan terakhir kedua tim terjadi tepat 10 tahun silam dalam laga persahabatan di Leeds, Inggris. Tiga Singa yang saat itu dilatih Sven-Goran Eriksson menyerah 1-2. Sempat unggul lebih dulu lewat gol Robbie Fowler, Italia memastikan kemenangan melalui dua gol Vincenzo Montella.

Sederet rekor buruk atas Italia itu rupanya tak membuat Hodgson keder. ”Kami telah mematahkan prediksi banyak orang dengan tampil sebagai juara grup. Kini saatnya meyakinkan semua kalangan, Inggris pantas melaju ke semifinal,” ujar Hodgson, dikutip dari Daily Mail.

Ya, Tiga Singa memang berstatus juara Grup D dari hasil dua kali menang dan sekali imbang. Namun, tetap saja torehan itu belum sepenuhnya menghapus keraguan terhadap Wayne Rooney dan kawan-kawan.

Inggris memiliki tradisi buruk saat menghadapi lawan dengan level setara atau lebih tinggi di babak eliminasi. Pada Piala Dunia 1998 dan 2010, serta Piala Eropa 2004, misalnya, mereka selalu kalah jika meladeni raksasa Benua Biru.

Inggris disingkirkan Argentina, 3-4 (2-2), lewat drama adu penalti pada babak 16 besar Piala Dunia 1998. Pada fase yang sama di Afrika Selatan dua tahun lalu, giliran Jerman yang memecundangi Inggris, 4-1. Sementara di Piala Eropa 2004, Inggris lagi-lagi kalah adu penalti 5-6 (2-2) dari Portugal di babak perempat final.

Publik Inggris patut khawatir mengingat Italia punya reputasi lebih mentereng. Gli Azzurri sudah empat kali menjuarai Piala Dunia dan sekali jadi jawara Eropa. Bandingkan dengan Inggris yang hanya sekali memenangkan Piala Dunia saat jadi tuan rumah tahun 1966.

Kendati demikian, bukan tak mungkin Inggris melewati hadangan Italia. Mantan pemain nasional Inggris, Gareth Southgate, berpendapat, permainan Tiga Singa di bawah polesan Hodgson, yang baru 1,5 bulan melatih Inggris, semakin berkembang. Selain pertahanan kian kokoh, para pemain lebih sabar menguasai bola dan cepat dalam menyerang.

”Pendekatan pragmatis yang dilakukan Hodgson memberi efek positif terhadap tim. Inggris kini jauh lebih berbahaya di kotak penalti lawan,” kata Southgate kepada The Sun.

Menurut dia, Hodgson berhasil mengoptimalkan kemampuan Gerrard sebagai gelandang serba bisa. Sang kapten tak hanya piawai dalam bertahan, tetapi juga memberi umpan matang yang berujung gol. Tiga dari lima gol Inggris selama babak grup tercipta berkat peran besar Gerrard.

Umpan silang pemain Liverpool itu sukses disundul menjadi gol oleh bek Joleon Lescott serta dua striker Andy Carroll dan Wayne Rooney. Bola untuk Rooney yang menghasilkan gol satu-satunya ke gawang Ukraina tergolong sulit diantisipasi sehingga kiper Andriy Pyatov gagal menangkap.

Bukan tidak mungkin penetrasi Gerrard di sisi kiri pertahanan lawan akan mengancam Italia yang dipastikan kehilangan bek Giorgio Chiellini akibat cedera hamstring.

Tanpa bek tangguh asal Juventus itu, Pelatih Cesare Prandelli kemungkinan akan kembali memainkan pola 3-5-2. Daniele de Rossi akan menggalang pertahanan bersama duo Juventus, Leonardo Bonucci dan Andrea Barzagli.

Sejauh ini, Prandelli sukses membawa Italia tampil atraktif. Mereka tak hanya lihai bertahan, tetapi juga bermain terbuka dan mengancam gawang lawan. Hal itu ditunjukkan Andrea Pirlo dan kawan-kawan saat meladeni gaya tiki-taka Spanyol di Grup C.

Menurut Bonucci, dengan komposisi lima gelandang, timnya kini mampu menyerang dan menguasai pertandingan lebih baik. Itulah mengapa ia yakin Italia mampu mengejutkan Inggris dan melangkah ke empat besar.

”Secara teknik, Italia bermain lebih baik dari Inggris. Namun, kami harus respek karena mereka kini semakin baik dalam bertahan dan menyerang balik,” ungkap Bonucci, dikutip dari La Gazzetta dello Sport.

Menarik dinanti apakah Hodgson mampu menghapus kutukan Tiga Singa atau justru Gli Azzurri yang semakin dominan. (ASWIN RIZAL HARAHAP)

 

Sumber :
Kompas Cetak
Editor : Hery Prasetyo