Selasa, 21 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
Neuer Trauma Adu Penalti
Penulis: Abdul Hadi | Sabtu, 23 Juni 2012 | 01:14 WIB
Dibaca:
|
Share:
AFP/GENYA SAVILOV
Kiper timnas Jerman, Manuel Neuer.

GDANSK, KOMPAS.com - Kendati disesaki talenta mengkilap, Jerman justru memilih mengakhiri laga semifinal melawan Yunani tanpa adu penalti. Kiper Jerman Manuel Neuer yang memberi penegasan hal tersebut, Jumat atau Sabtu (23/6/2012) WIB dinihari.

"Lebih baik permainan diakhiri 90 menit. Tapi, semuanya mungkin terjadi, termasuk adu penalti," ujar kiper Bayern Muenchen itu.

Neuer sendiri tampaknya masih dalam trauma berat setelah pada 19 Mei lalu kalah di final Liga Champions dari Chelsea dengan cara menyakitkan. Adu penalti. Trauma itu juga membekas membekas dalam benak para pemain Muenchen yang berlaga bersama tim "Panser", termasuk Bastian Schweinsteiger.

Sebenarnya, Jerman memiliki sejarah manis adu penalti. Terakhir "Die Nationalmannschaft" kalah dari Cekoslowakia di babak tos-tosan saat Euro 1976. Setelah itu, Jerman sukses memenangi adu penalti dalam lima turnamen resmi Eropa.

Berbeda dengan Jerman, Yunani justru punya catatan buruk dalam hal adu penalti. Dalam tiga kesempatan terakhir, tim "Negeri Mitologi" selalu kalah. Namun, pelatih Yunani Fernando Santos tak mau melempar handuk hanya gara-gara sejarah buruk.

"Semuanya begitu sederhana jika harus menentukan siapa pemenangnya lewat adu penalti. Kami akan mempersiapkan lima eksekutor yang siap mencetak gol dan kiper yang akan menghalau tembakan lawan. Yunani memang kurang bagus dalam babak adu penalti, tapi pertandingan antara Chelsea melawan Bayern menyisakan pelajaran berharga, beberapa pemain dapat berhasil dan ada juga yang gagal. Semuannya melulu soal keberuntungan dan kita sedikit membutuhkannya dalam pertandingan ini," papar pelatih berpaspor Portugal ini kepada Sport.co.uk

Editor : Daniel Sasongko