Senin, 21 April 2014
Mario Balotelli
Penulis: Anton Sanjoyo | Kamis, 21 Juni 2012 | 09:47 WIB
Dibaca:
|
Share:
AFP
Penyerang Italia, Mario Balotelli.

KOMPAS.com - Mario Balotelli adalah manusia unik, perpaduan antara aset dan beban. Dengan temperamen yang mudah meledak, dia sering membuat masalah. Namun, di sisi lain, bakatnya yang hebat kerap membuatnya menjadi game winner. Situasi ini selalu membuat pelatihnya dalam posisi sulit.

Saat Pelatih Italia Cesare Prandelli memasukkan nama Mario Balotelli ke dalam skuadnya, banyak rekan sejawatnya yang mengingatkan, dia akan mendapat banyak masalah. Namun, Prandelli bukan tipe orang yang suka menghindari masalah. Baginya, Balotelli adalah tantangan besar, bagian dari ambisi tertingginya sebagai manajer. ”Saya menerima tantangan ini. Mario sendiri sudah berjanji untuk menjaga perilakunya,” ujar Prandelli.

Bersama Balotelli, Prandelli yakin dirinya tidak sedang berjudi atau mempertaruhkan tim ”Azzurri” yang datang ke Euro 2012 dengan kembali dibayangi kasus suap. Dia tampaknya belajar dari pengalaman koleganya, Roberto Mancini, Pelatih Manchester City, klub tempat Balotelli bernaung.

Mancini pernah berada dalam situasi paling sulit di sepanjang kariernya ketika mengalami serentetan masalah nonteknis akibat ulah Balotelli (dan Carlos Tevez) menjelang usainya Liga Inggris. Namun, dengan pengalamannya yang hebat, Mancini bahkan sukses mendorong Balotelli dan Tevez tampil maksimal untuk mengantarkan ”The Citizen” kembali jadi juara Inggris setelah 46 tahun.

Jelas, bagi Mancini maupun Prandelli, Balotelli adalah aset meskipun potensinya menjadi beban juga besar. Mancini paham benar situasi ini sehingga dia lebih banyak melakukan pendekatan pribadi kepada Balotelli yang sering membuat ulah.

Seperti kata Mancini, sebagai pemain, Balotelli punya segalanya untuk jadi pemain hebat. Inteligensinya yang di atas rata-rata membuatnya mampu melakukan manuver-manuver brilian, mencetak gol dan membawa timnya menang. Namun, perilakunya memang cenderung merusak dirinya sendiri. Kartu merah adalah hukuman yang cukup sering dia terima. Kelakuannya di luar lapangan lebih merepotkan lagi. Pers Italia menjulukinya ”pembuat ulah nomor wahid”.

Pada suatu kesempatan, Mancini pernah berujar, menjadi manajer Balotelli adalah pengalaman luar biasa. Bukan sebagai pelatih sepak bola, melainkan sebagai manusia.

Balotelli, 21 tahun, dilahirkan di Palermo. Orangtuanya adalah imigran Ghana, Thomas Barwuah dan Rose. Sejak lahir, Balotelli punya masalah dengan usus dan pencernaannya yang membuatnya harus mengalami beberapa kali operasi. Biaya kesehatannya yang mahal memaksa orangtuanya menyerahkan Balotelli kecil kepada departemen sosial untuk dicarikan keluarga yang mampu mengurus dan membiayai perawatannya.

Pada usia tiga tahun, Mario kecil diserahkan kepada keluarga Francesco dan Silvia Balotelli melalui penetapan pengadilan Brescia. Francesco dan Silvia yang mengetahui bakat sepak bolanya mendukung penuh mimpi Balotelli untuk menjadi bintang lapangan hijau.

Ketika menginjak remaja dan mulai tenar setelah dikontrak klub elite Internazionale, orangtua kandungnya meminta kembali hak pengasuhan. Ini membuat Balotelli kecewa dan menuduh Thomas dan Rose mau ”memeluknya” kembali saat dirinya sudah tenar. Kekecewaan Balotelli bertambah karena Francesco dan Silvia ternyata tidak ingin mengadopsinya secara penuh. Ini membuat Balotelli baru bisa punya kewarganegaraan Italia saat berusia 18 tahun.

Dibesarkan sebagai anak ”adopsi” dan merasa dibuang oleh orangtua kandungnya tampaknya sangat memengaruhi kejiwaan Balotelli. Hubungannya yang tidak harmonis dengan kedua orangtua angkatnya membuat perilaku Balotelli makin liar dan kerap bertingkah seperti anak kecil yang ingin mendapat perhatian dari orang sekitarnya.

Sama seperti Mancini, Prandelli menyadari benar potensi sekaligus risiko keberadaan Balotelli di dalam tim. Namun sepertinya Prandelli lebih percaya pada potensi sehingga memberikan Balotelli dua kesempatan menjadi starter saat Italia menghadapi Spanyol dan Kroasia. Penampilannya tidak terlalu menonjol meski punya kontribusi besar dalam strategi menyerang ”Azzurri”.

Pada laga penentuan melawan Irlandia, posisi Balotelli digantikan Antonio Di Natale, pemain yang mencetak gol saat melawan Spanyol. Balotelli gelisah di bangku cadangan, dan bahasa tubuhnya menunjukkan kemarahan luar biasa kepada Prandelli. Menit ke-74, Balotelli masuk menggantikan Di Natale dan, menjelang peluit akhir, pemain yang juga dijuluki ”The Magician” ini membuat gol akrobatik menawan. Meski ditarik kostumnya oleh John O’Shea sehingga kehilangan keseimbangan, Balotelli tetap bisa melakukan tendangan salto untuk menaklukkan kiper Shay Given.

Begitu mencetak gol, Balotelli terlihat mengeluarkan kata-kata dengan urat leher menegang. Bek Leonardo Bonucci yang paling dekat dengannya langsung memeluk pundak dengan satu tangan, sementara tangan lainnya membekap mulut Balotelli. Dalam pengakuan setelahnya, Bonucci mengatakan, tidak tahu persis apa yang dikatakan Balotelli karena diucapkan dalam bahasa Inggris.

Hingga kini apa yang dikatakan Balotelli masih misteri dan hanya dia sendiri serta Bonucci yang tahu. Tampaknya Bonucci melindungi Balotelli agar pemain temperamental itu tidak semakin liar mengumbar kata-kata kasar kepada Prandelli.

Prandelli tampaknya tahu Balotelli memaki dirinya, tetapi dia tidak menganggap hal itu sebagai masalah besar. Prandelli sejak awal sadar, menangani Balotelli adalah tantangan tersendiri. Impian suksesnya sebagai manusia, seperti kata Mancini. Barangkali, kalaupun Italia tak bisa jadi juara, Prandelli bisa dianggap sukses jika mampu mengendalikan ”si bengal” Balotelli.

Sumber :
Kompas Cetak
Editor : Caroline Damanik