Jumat, 24 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
CATATAN BABAK GRUP
Nestapa Belanda, Efisiensi Yunani
Rabu, 20 Juni 2012 | 03:41 WIB
Dibaca:
|
Share:
GETTY IMAGES/JOERN POLLEX

Seandainya Rinus Michels masih hidup, ia mungkin geleng-geleng kepala melihat penampilan Belanda di Piala Eropa 2012. Betapa tidak? Datang dengan segudang kepercayaan diri dan pemain elite dunia, Belanda gagal meraih satu poin pun di Grup B. Tim ”Oranye” tersingkir akibat permainan cenderung individualistis, meninggalkan pakem sepak bola total.

Almarhum Marinus Jacobus Hendricus Michels adalah pelatih legendaris Belanda yang mengembangkan sistem permainan sepak bola total alias total football. Dengan prinsip ”pertahanan terbaik adalah menyerang” itu, Belanda dibawanya menjadi runner-up Piala Dunia 1974 dan juara Eropa 1988, satu-satunya gelar bergengsi bagi Negeri Kincir Angin hingga kini.

Sejak saat itu, gaya total football pun menjadi ciri khas Belanda. Mazhab itu selalu diusung pelatih pengganti Michels, mulai Dick Advocaat, Guus Hiddink, hingga Bert van Marwijk. Meski tak pernah lagi mencicipi gelar juara, pencapaian Belanda di setiap turnamen terus berkembang berkat penampilan menyerang nan memikat itu.

Setelah paling banter hanya menjadi semifinalis, Wesley Sneijder dan kawan-kawan kembali menggenggam status runner-up Piala Dunia dua tahun lalu di Afrika Selatan.

Namun, sukses mengimbangi gaya tiki-taka Spanyol pada partai puncak itu nyaris tak berbekas di Piala Eropa kali ini. Mengawali laga Grup B melawan Denmark, yang dikalahkan 2-0 pada babak grup Piala Dunia dua tahun lalu, Belanda tak berkutik.

Sneijder dan kawan-kawan yang tampil egoistis kerepotan menghadapi permainan disiplin dari lini ke lini yang dibangun Pelatih Morten Olsen. Duet Arjen Robben dan Ibrahim Afellay yang dipasang sebagai penyerang sayap justru asyik sendiri memamerkan aksi menggocek bola.

Keduanya justru lebih senang menendang langsung ke gawang lawan ketimbang memberi umpan kepada Robin van Persie yang diplot sebagai penyerang tunggal. Dari 28 tendangan ke gawang Denmark, 20 di antaranya tidak tepat sasaran.

Suplai bola kepada Van Persie, sang pencetak gol terbanyak Liga Inggris dengan 30 gol, semakin seret akibat kinerja Sneijder sebagai pengatur serangan tidak optimal. Kreativitas gelandang Inter Milan itu tak muncul karena juga harus menjemput bola ke belakang akibat buruknya performa duet gelandang bertahan Mark van Bommel-Nigel de Jong.

Celah itu dimanfaatkan Denmark yang sukses mencuri gol semata wayang lewat Michael Krohn-Dehli. Penyerang mungil asal klub Brondby itu dengan lincah menyelinap di antara kerumunan bek ”Oranye” dan mengecoh kiper Maarten Stekelenburg pada menit ke-24.

Rentang waktu 66 menit gagal dimanfaatkan Belanda untuk mengatasi ketertinggalan akibat gaya yang monoton. Banyak kalangan yang berharap striker Klaas- Jan Huntelaar dan gelandang Rafael van der Vaart diturunkan sejak awal saat melawan Jerman pada laga berikutnya.

Sayang, Van Marwijk bergeming. Bisa ditebak, Belanda keteteran menghadapi gempuran ”Der Panser” yang akhirnya unggul 2-1 berkat dua gol yang diborong striker Mario Gomez. Tim Oranye pun menjadi tim kedua yang tersingkir setelah Irlandia.

Kegagalan lolos dari babak grup menjadi sejarah terburuk dari 11 kali keikutsertaan Belanda di Piala Eropa. Lebih parah lagi, Belanda tak mampu meraih satu poin pun karena dalam laga terakhir kembali takluk dari Portugal, 1-2.

Reaksi negatif pun berdatangan dari sejumlah kalangan. Harian terbesar Belanda, De Telegraaf, menyebut, ”tinta hitam di sepanjang sejarah sepak bola kami”. Sementara legenda Belanda, Johan Cruyff, menyoroti komitmen dan lemahnya kinerja lini tengah Oranye.

”Pemain besar Belanda tidak mengerahkan kemampuan mereka sesuai harapan. Lini tengah gagal menekan lawan karena komposisi pemain yang tidak tepat,” ujar Cruyff kepada The Guardian.

Menurut kapten Belanda pada tahun 1974 itu, poros Van Bommel (AC Milan), De Jong (Manchester City), dan Sneijder (Inter Milan) cenderung memainkan bola ke belakang sesuai karakter bertahan yang dianut klub masing-masing.

Hal itu bertolak belakang dengan total football. Itulah mengapa Denmark yang tidak memainkan strategi penguasaan bola mampu mencuri kemenangan. Hasil itu memperbaiki rekor Denmark yang tak pernah menang atas Belanda sejak 1967.

Meskipun akhirnya gagal lolos dari grup neraka, efektivitas permainan tim ”Dinamit” sukses menghancurkan salah satu tim unggulan. Efisiensi itu pula yang membuat Yunani secara mengejutkan lolos ke babak perempat final Piala Eropa 2012.

Saat menghadapi Rusia dalam laga terakhir Grup A, Yunani hanya kebagian menguasai bola 38 persen. Jumlah tendangan ke gawang pun jomplang. Yunani hanya melakukan lima kali tendangan, sedangkan Rusia lima kali lipat lebih banyak.

Namun, Yunani-lah yang justru mengemas tiga poin melalui gol tunggal sang kapten Giorgos Karagounis tepat pada pengujung babak pertama. Satu gol itu cukup untuk menyingkirkan Rusia, yang digadang-gadang menjadi unggulan grup berkat kemenangan 4-1 atas Ceko pada laga pembuka.

”Itulah Yunani. Ahli memainkan sepak bola efektif,” ungkap Pelatih Rusia Dick Advocaat kepada AP. Sebaliknya, ia menyesali begitu banyak peluang yang disia-siakan timnya.

Yunani seolah mengajarkan kepada lawan-lawannya bahwa hasil akhir jauh lebih penting ketimbang penguasaan bola. ”Sepintas kami tampak sekadar memainkan serangan balik yang menjemukan. Namun, semangat juang dan disiplin menjalani taktik yang sebenarnya menjadi kunci permainan kami,” kata Pelatih Yunani Fernando Santos kepada Reuters.

Dua faktor itulah yang ditunjukkan Yunani ketika menjuarai Piala Eropa 2004. Di bawah polesan Pelatih Otto Rehhagel, Yunani bermain rapat, disiplin, dan efisien memanfaatkan peluang dalam serangan balik.

Efektivitas itu tecermin dalam kemenangan Yunani pada babak perempat final hingga final atas Perancis, Ceko, dan Portugal yang hanya 1-0. Pelatih Jerman Joachim Loew pun memuji Yunani sebagai pakar permainan efektif.

Belanda dan Rusia yang hobi menyerang harus menuai keteledoran akibat lemahnya pertahanan. Setidaknya satu tim bergaya menyerang masih melaju ke delapan besar, yakni juara Grup C, Spanyol, serta runner-up Italia, tim juara dunia 2006.

(Aswin Rizal Harahap)