Rabu, 22 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
ANALISIS
Saat Belanda Karam di Kharkiv
Selasa, 19 Juni 2012 | 04:11 WIB
Dibaca:
|
Share:
AP PHOTO/VADIM GHIRDA
Striker Portugal, Cristiano Ronaldo, berlari meluapkan kegembiraan setelah menggetarkan jala gawang Belanda di laga pamungkas Grup B Piala Eropa di Kharkiv, Ukraina, Senin (18/6) dini hari WIB. Dengan kemenangan 2-1 atas Belanda, Portugal lolos ke perempat final.

Gelora membara untuk memenangi pertarungan melawan Portugal membuat Belanda tersingkir dari ajang Piala Eropa 2012. Strategi ”all out” menyerang yang diterapkan Bert van Marwijk tidak dibarengi penguatan benteng pertahanan. Hasilnya, Portugal dengan mudah mengacak-acak rumah Belanda.

Kekalahan 1-2 Belanda dari Portugal di Kharkiv, Ukraina, sebenarnya disertai sejumlah keberuntungan dan kecermatan kiper Maarten Stekelenburg dalam duel satu lawan satu melawan Cristiano Ronaldo dan Nani. Tanpa dua hal itu, Belanda bisa kalah lebih telak karena seringnya Portugal mengancam gawang Stekelenburg.

Sungguh menyakitkan, runner-up Piala Dunia 2010 itu lalu akhirnya pulang dengan tangan hampa, tanpa bisa memenangi satu pertandingan pun di grupnya, bahkan bermain seri sekalipun. Padahal, dari materi pemain, Belanda kini dalam kondisi memiliki generasi emas kembali, dengan barisan pemain yang berkibar di sejumlah liga Eropa.

Nama-nama Robin van Persie, Rafael van der Vaart, Wesley Sneijder, Arjen Robben, Klaas-Jan Huntelaar, Nigel de Jong, Stekelenburg, dan banyak lagi merupakan pemain-pemain ekspor Belanda ke sejumlah negara Eropa. Van Persie dan Huntelaar bahkan pencetak gol tersubur di liga mereka, yaitu Liga Inggris dan Liga Jerman.

Akan tetapi, nama-nama besar saja tidaklah cukup. Kekuatan yang tidak merata di semua lini, dan kekompakan tim yang kurang, menjadi penyebab penting kegagalan tim ”Oranye”.

Pertahanan rapuh

Lini pertahanan Belanda yang rapuh tidak banyak mendapat perbaikan pelatih Belanda. Benteng-benteng pertahanan Belanda, antara lain Gregory van der Wiel, Jetro Willems, Joris Mathijsen, Ron Vlaar, dan John Heitinga, sering kali kalah sprint dengan pemain penyerang lawan. Mereka juga tidak cermat membaca pergerakan pemain lawan.

Hal itu terlihat mencolok dengan begitu mudahnya penyerang Portugal, khususnya Ronaldo, Nani, Joao Moutinho, dan Raul Meireles, memenangi pertarungan dengan bek-bek Belanda. Ini mungkin salah satu konsekuensi dari Belanda, yang sudah mendunia dengan sepak bola menyerang, termasuk sangat fenomenal pada dasawarsa 1970-an bersama total-football.

Tak heran, perhatian Van Marwijk yang tampaknya lebih mengandalkan barisan pemain tengah dan penyerangnya membuat lini pertahanan Belanda tak kunjung membaik dari pertandingan pertama hingga pertandingan ketiga melawan Portugal.

Ditariknya Willems dan dimainkannya Ibrahim Afellay untuk mempertajam serangan berkonsekuensi pertahanan makin bolong. Hasilnya langsung terlihat, gawang Stekelenburg semakin sering terancam karena Nani tidak lagi dijaga. Formasi 4-2-3-1 berubah menjadi 3-4-3 yang membuat serangan balasan Portugal semakin sulit dikawal.

Akan tetapi, yang lebih parah adalah kegagalan Van Marwijk menumbuhkan iklim harmonis dan saling mendukung di dalam tim. Meski bermain meyakinkan pada awal babak pertama hingga tercipta gol Van der Vaart pada menit ke-11, para pemain Belanda lalu tenggelam dalam ego masing-masing, dengan begitu sering dua pemain Belanda ”berebut” tempat di satu posisi atau berebut bola-bola mati.

Sneijder, Robben, Van der Vaart, ataupun Van Persie terlihat sering menyalahkan kawan-kawannya sendiri karena umpan-umpan yang kurang pas. Frustrasi karena begitu seringnya gagal menerobos pertahanan Portugal, dan begitu seringnya umpan malah tertuju ke lawan, akhirnya membuat tim Belanda tegang sendiri.

Pengakuan Robben

Robben dengan terus terang mengakui ada suasana kurang bagus di dalam timnya meski itu terus mereka sembunyikan. ”Kami kalah tiga kali. Ini sulit diterima. Kami harus berani becermin. Kami semua gagal. Sulit untuk mendapatkan penjelasannya. Terkadang, banyak hal tak mungkin dijelaskan,” ungkap pemain sayap Bayern Muenchen itu.

Sebagai sebuah permainan tim, kebersamaan 11 pemain dalam satu tim sepak bola merupakan hal yang mutlak.

Kehebatan individu-individu saja tidaklah cukup. Kebersamaan itulah yang gagal ditanamkan Van Marwijk di timnya. Kurangnya rasa saling menghormati dan sikap saling memuji di dalam lapangan itu bertolak belakang dengan sikap Ronaldo, yang penuh senyum dan selalu memuji kawan-kawannya meski umpan kepadanya kadang kurang pas.

Kurangnya kebersamaan itu juga membuat barisan penyerang Belanda sering kali enggan ikut turun membantu pertahanan.

Pemain tengah Portugal, Miguel Veloso, mengungkapkan, ”Sekali lagi kami menunjukkan betapa menyatunya kami sebagai sebuah tim. Tidak mudah untuk memulai dengan kekalahan (dari Jerman). Rahasianya pada pertahanan kami, pada kerendah-hatian kami semua.”

Veloso benar, pertahanan dan kerendah-hatian itulah yang hilang dari tim Belanda. Padahal, tim Belanda saat ini tak banyak berbeda dengan tim runner-up Piala Dunia 2010. Kesuksesan individu-individu pemain Belanda menjadi jerat mematikan karena tak terarah.

(AP/AFP/Reuters/OKI/ Agung Setyahadi dari Kharkiv, Ukraina)