
SPANYOL bak bermain dadu dalam pertandingan perdananya melawan Italia. Tim ”La Furia Roja” tak menurunkan penyerang sejati. Spanyol mengukur kekuatan, tetapi sekaligus juga mempertaruhkan perolehan angka klasemen dan membayar risikonya dengan hasil tak maksimal.
”Saya tidak gembira dengan hasil laga melawan Italia,” ujar Pelatih Spanyol Vicente Del Bosque terkait skor 1-1 tersebut. Bahkan, menjelang laga selanjutnya melawan Irlandia, 15 Juni dini hari nanti, diturunkan atau tidaknya penyerang murni masih menjadi teka-teki. Tetap ”misterius”.
Itu berarti, terlepas penuh atau tidaknya kekuatan tim yang bakal dikerahkan, peran gelandang mutlak masih akan dipakai. Salah satu pemain yang selamat dari bongkar pasang pemain adalah Xavi Hernandez karena kelincahannya di lini tengah.
Operan akurat, umpan terobosan yang cepat dan mudah dikonversi menjadi gol di garis depan akan menjadi modal Xavi menghantam Irlandia. Tembakan pemain berusia 32 tahun itu sudah teruji secara historis selama 15 tahun setia bergabung dengan klub Barcelona.
Karena itu, Xavi dipertimbangkan sebagai gelandang terbaik di dunia tanpa menghilangkan gaya permainan Spanyol-nya. Memandang ruang kosong secara jernih untuk dimanfaatkan merupakan bentuk kegeniusan Xavi, pemain terbaik Piala Eropa 2008. Kemampuan mengontrol pertandingan membuat Xavi dijuluki ”Sang Penguasa Boneka”.
Momen yang paling diingat penggemar sepak bola adalah laga el clasico pada 2 Mei 2009. Barcelona mengalahkan Real Madrid dengan skor 6-2 dan Xavi berjasa mengirimkan empat umpan yang berhasil disarangkan ke gawang ”Los Blancos”.
Sejak melakukan debut internasionalnya, Xavi telah tampil dalam 108 pertandingan di tim nasional Spanyol. Puncaknya, ia termasuk pemain yang ikut mengangkat trofi pada Piala Eropa 2008, disusul juara Liga Champions tahun 2009 dan 2011 bersama Barcelona.
Tak bisa disangkal, Spanyol masih harus memperbaiki diri, khususnya dalam mempertajam serangan. Sejauh ini, strategi tiki-taka belum sepenuhnya ampuh mengerek posisi Spanyol ke puncak klasemen sementara.
Untuk pertandingan menghadapi Irlandia, peran Xavi masih sangat dibutuhkan dan Del Bosque memang akan menempatkannya di posisi penting di lini tengah. Pemain Barcelona itu akan sering dipercaya untuk mengoper umpan ataupun melakukan terobosan mengobrak-abrik pertahanan lawan.
Bahaya ala Duff
Di kubu Irlandia, pemain yang dianggap paling bisa disamakan dengan Xavi adalah Damien Duff. Memang tak sekondang Xavi, tetapi untuk ukuran tim Irlandia, gelandang berusia 33 tahun itu tergolong pemain yang terbanyak tampil bersama tim nasional atau sudah 99 kali membela negaranya.
Setelah dipecundangi Kroasia 1-3, tantangan ”The Boys in Green” akan lebih berat jika hendak membungkam gempuran juara Eropa 2008. Namun, mengacu pada laga terakhirnya melawan Italia, Spanyol beberapa kali teledor karena kekurangsigapan meredam serbuan lawan. Tim La Furia Roja kerap membiarkan penyerang lawan bergerak bebas.
Kelemahan itulah yang akan dimanfaatkan Duff. Kekurangan Spanyol tampaknya cocok dengan karakter Duff yang penuh tipu daya. Pesepak bola yang bermain di klub Inggris, Fulham, itu bisa berbelok tiba-tiba tanpa diduga. Lawan pun tak jarang dikelabui karena arah tembakan Duff seolah berbeda dengan ayunan kakinya.