Sabtu, 18 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
Wajah Ceria di Kubu Kroasia
Penulis: Gatot Widakdo | Kamis, 14 Juni 2012 | 12:55 WIB
Dibaca:
|
Share:
AFP/DIMITAR DILKOFF
Pelatih Kroasia, Slaven Bilic (tengah) menyaksikan para pemainnya berlatih dalam suasana santi.

POZNAN, KOMPAS.com - Wajah ceria dan senyum semringah pemain mewarnai sesi latihan tim Kroasia di kawasan spa dan resort Hotel Silenka, Warka, Polandia, Rabu (13/6/2012). Latihan sengaja santai agar pemain tidak terlalu tegang menjelang laga melawan salah satu tim raksasa Eropa, Italia, di Stadion Municipal Poznan, Polandia, hari ini.

Wartawan Kompas MH Samsul Hadi yang menyaksikan sesi latihan itu melaporkan, beberapa pemain Kroasia kerap melempar canda ringan. Mereka juga bertepuk tangan bersama ketika salah seorang rekannya memperlihatkan atraksi menggocek bola yang menawan. Pemain inti Kroasia yang turun saat memukul Irlandia hanya latihan joging mengelilingi lapangan dan melakukan beberapa gerakan peregangan.

Tak terlihat wajah ketakutan. Yang terasa justru aura kepercayaan diri yang tinggi pada pemain-pemain Kroasia.

Setidaknya ada dua alasan mengapa tim Kroasia begitu percaya diri melawan Italia. Pertama, setelah lepas dari Yugoslavia tahun 1991, Kroasia belum pernah kalah dari Italia. Dalam lima kali pertemuan mereka, Kroasia menang tiga kali dan imbang dua kali. Kemenangan 2-1 atas Italia di Palermo pada kualifikasi Piala Eropa 1996 yang ditorehkan Davor Suker, Alen Boksic, dan Zvonimir Boban meninggalkan memori tak terlupakan, termasuk bagi pemain Kroasia saat ini yang waktu itu masih anak-anak.

Pelatih Kroasia Slaven Bilic mengenang, ”Kami waktu itu begitu lapar. Kami tidak sabar menunggu pengakuan dunia dan Eropa kepada diri kami, bukan sebagai Boban, Suker, Boksic, melainkan sebagai Kroasia.” Bilic waktu itu merupakan bek tim Kroasia.

”Itulah untuk pertama kali Eropa mengatakan, ’Oh wow, pemain-pemain ini benar-benar bagus.’ Itu akan selalu menjadi salah satu kemenangan terbesar dalam sejarah Kroasia dan pemain-pemain yang akan menghadapi Italia pada Kamis. Mereka masih anak-anak waktu itu dan mereka selalu bertanya seputar laga tersebut. Saya tidak terlalu percaya pada tradisi, tetapi indah rasanya, kami tidak pernah kalah dari Italia,” lanjut Bilic.

Alasan kedua, Kroasia sudah mendapat modal sempurna berkat kemenangan 3-1 atas Irlandia. Dengan situasi ini, Kroasia hanya butuh satu kemenangan lagi untuk memastikan lolos ke perempat final sebelum menghadapi juara bertahan Spanyol di Gdansk, Senin mendatang.

Secara psikologis, beban Kroasia memang lebih ringan dibandingkan Italia yang sangat membutuhkan kemenangan setelah di laga pertama bermain imbang 1-1 dengan Spanyol.

Yang di luar kebiasaan, Kroasia memilih menggelar latihan terbuka yang dapat diliput media seluruhnya, saat tim itu mencoba lapangan stadion. Sesuai informasi yang dirilis UEFA, latihan resmi itu terbuka sepenuhnya bagi media. Padahal, umumnya setiap tim hanya memberi akses 15 menit pertama dalam latihan resmi, satu hari menjelang laga.

Latihan Serius
Jika kubu Kroasia santai, tidak demikian dengan Italia. Tim asuhan Cesare Prandelli itu mempersiapkan diri dengan serius. Di bawah hujan rintik-rintik yang mengguyur kota Krakow, tim ”Azzurri” tetap berlatih di Stadion Municipal Cracovia.

Dalam jumpa pers sebelum latihan, striker Antonio Cassano menyebut titik terkuat Kroasia terletak pada playmaker Luka Modric. Peran gelandang Tottenham Hotspur itu seperti Andrea Pirlo di tim Italia.

Pirlo dalam sesi permainan 9 x 9 pemain memakai rompi oranye. Tugasnya membagi bola ke arah para pemain kedua tim yang saling berhadapan.

Dari sesi latihan itu terlihat semua pemain Italia fit dan segar bugar kecuali bek tengah Andrea Barzagli. Pemain Juventus ini berlatih terpisah dari rekan-rekannya, dipandu fisioterapis. Ia diperkirakan baru akan siap tampil pada laga terakhir penyisihan grup melawan Irlandia, Senin depan.

Dalam sesi permainan saat latihan tersebut, para pemain Italia tampil ngotot dan maksimal guna merebut tempat utama line-up tim melawan Kroasia. Sering terjadi benturan kecil dan tembakan keras antarpemain. Itu yang antara lain diperlihatkan Sebastian Giovinco dan Antonio di Natale. Posisi striker termasuk salah satu yang mungkin dirombak.

Balotelli dianggap kurang tajam saat melawan Spanyol, antara lain sempat membuang peluang emas saat tinggal berhadap-hadapan dengan kiper Iker Casillas. Opsi pengganti ada pada Di Natale yang membobol gawang Spanyol hanya lima menit setelah turun sebagai pemain cadangan. Posisi Cassano mungkin tak terusik, tetapi ia belum bisa tampil penuh pascaoperasi jantung lima bulan lalu.

Hasil seri tidaklah buruk bagi Kroasia. Kemenangan bakal menjadi bonus. Bagi Italia, tidak ada istilah lain kecuali menang dan hal ini bisa menjadi tekanan tersendiri. Ini yang membuat laga ini bakal ketat. (REUTERS/OTW)

 

Sumber :
Kompas Cetak
Editor : Hery Prasetyo