
POZNAN, MINGGU
”Malam ini kami menunjukkan bahwa kami bisa bermain. Mungkin Irlandia adalah tim yang lebih baik di beberapa momen, tetapi saya berpikir, jika kamu menyaksikan, secara keseluruhan, kami tim yang lebih baik,” kata Bilic seusai peluit tanda berakhirnya pertandingan ditiup.
Mantan pemain bertahan Kroasia itu menyatakan, Kroasia kuat sebagai tim dan dia yakin setelah pertandingan tersebut tim asuhannya akan menjadi lebih baik dan bahkan lebih kuat.
”Saya menduga akan bermain jauh lebih baik menghadapi Italia. Sebab pertandingan pertama adalah yang tersulit dan kami sudah melaluinya. Namun, kami harus tetap waspada,” ujar Bilic.
Bilic juga meminta maaf kepada Irlandia atas kekalahan yang harus dihadapi. Namun, Irlandia dan Kroasia berada pada posisi yang sama dan memiliki asa yang sama untuk unggul dalam laga pertama.
Hasil seri pertandingan Italia melawan Spanyol membuat Kroasia menduduki peringkat satu di Grup C. Kemenangan itu membuat Kroasia mendapat tiga poin, sementara Italia dan Spanyol masing-masing satu poin.
”Satu kemenangan lagi akan cukup membawa kami ke perempat final. Kami tidak bisa langsung terbang menjadi juara, tetapi mari melangkah setahap demi setahap. Kami menghormati setiap lawan kami. Kami tidak takut menghadapi siapa pun. Spanyol dan Italia adalah favorit juara di grup kami, tetapi saya tetap berpikir kami bisa mengalahkan satu di antara mereka,” tutur Billic.
Penyerang Wolfsburg, Mario Mandzukic, mencetak dua gol untuk Kroasia. Dia hanya membutuhkan waktu 3 menit untuk membuat kedudukan 1-0 atas Irlandia. Gol kedua dicetak oleh Nikica Jelavic. Mandzukic kemudian memantapkan keunggulan Kroasia menjadi 3-1 pada menit ke-53.
”Mario adalah pemain terbaik di kelasnya. Wolfsburg yang bertahan di Bundesliga harus berterima kasih kepadanya,” ujar Billic.
Mandzukic mengakui laga melawan Irlandia merupakan pertandingan yang berat. ”Kami tahu bahwa itu sama sekali tidak mudah. Kami melakukan yang terbaik dan saya pikir kami pantas menang. Sangat penting untuk mencetak gol di awal pertandingan,” kata Mandzukic.
Bilic, yang berusia 43 tahun dan selama enam tahun melatih tim tersebut, merasa, tidak ada yang lebih baik dari mengangkat trofi juara, sebelum dia pindah ke klub Rusia, Lokomotif Moskwa.
Perkembangan tim Kroasia selama empat tahun membangkitkan harapan akan kembalinya masa keemasan sepak bola di tahun 1990-an saat Bilic menjadi pilar utama pertahanan mereka.
Kroasia berhasil membuat kolaps Yugoslavia di partai perempat final Piala Eropa 1996 dan menjadi pemenang ketiga Piala Dunia 1998.
Terpisah, Pelatih Irlandia Giovanni Trapattoni mengaku tidak khawatir atas kekalahan tersebut. ”Kami harus percaya setiap permainan dalam Piala Eropa bisa saja muncul kejutan,” kata pria Italia itu.
Pencetak gol Irlandia, Sean St Ledger, merasa sedih saat mendengar peluit akhir pertandingan bertiup. ”Ini adalah penampilan buruk yang jauh di bawah standar kami dan kami ceroboh dengan kebobolan tiga gol,” katanya.
Dia mengaku senang dapat mencetak skor untuk Irlandia, tetapi merasa terpukul karena tidak bisa memenangi pertandingan itu. Padahal, timnya menargetkan bisa unggul pada laga melawan Kroasia sebelum berharap pada dua pertandingan lanjutan di grup, yang lebih sulit, yakni melawan Italia dan Spanyol.
”Mungkin pertandingan ini mengendurkan semangat kami untuk menghadapi laga selanjutnya. Namun, kami masih memiliki harapan untuk bisa masuk dalam delapan besar,” kata Ledger.